![]() |
| dari kiri ke kanan: Ahimsa, Rahma, dan si bungsu Rakhe |
Rahma, sang istri, selalu yang
paling awal, mendahului segenap seisi rumah, kalau urusan bangun pagi. Seakan
tak mau kalah, berlomba dengan sorot tajam cahaya matahari, ia selalu yang terdepan,
bangun paling dini dan menuntaskan
pekerjaan-pekerjaan rutin pagi. Cuci piring, belanja sayuran, siapkan sarapan
pagi, dan sesekali cuci baju. Ah, Rahma ! Tak mungkin saya akan menyepelekannya.
Saya tak bakalan menganggap rutinitas pagi itu sebagai pekerjaan yang ringan
dan remeh temeh. Tidak bakal saya
demikian. Saya bayangkan, andaikan itu menimpa saya. Seandainya saya pelakunya,
saya pastikan, saya tak bakal kuat mengerjakannya. Saya tak mungkin sanggup
melakukan rutinitas, baik dari sisi waktu maupun pekerjaan.
Piring-piring yang menumpuk,
gelas-gelas kotor, akan ia bilas dengan telaten, hingga tak menyisakan buat
saya untuk turut membantu, membersihkan yang kotor. Belanja sayuran dan
kebutuhan lainnya ? Nah itu, Rahma termasuk deretan kloter pertama dalam
mengantri di warung sebelah yang sedari pagi, sebelum fajar telah menggelar
dagangannya. Dagangan yang jadi kebutuhan untuk menjaga stabilitas tubuh dari
serangan rasa lapar, serangan penyakit, maupun serangan dari keterlambatan
sarapan pagi. Sayur-mayur yang masih segar, hingga aneka ragam jenis ikan untuk
lauk, ada tersedia tinggal pilih. Dan istri saya, sekali lagi, termasuk salah
satu dari sekian para ibu-ibu di komplek perumahan yang hadir antri dalam
urutan lima terawal. Artinya, usai Subuh, sekitar pukul 04.15, ia sudah
jalan-jalan pagi, keluar rumah, sembari hirup udara segar, agar tak ketinggalan
untuk mendapatkan bahan-bahan terkini buat ritual sarapan pagi. Sungguh hal itu
rutin, ia kerjakan saban pagi.
Pukul 04.30, ia sudah berjibaku
dengan asap dapur. Sedang saya sendiri, dan dua jagoan, Ahimsa dan Rakhe,
terkadang masih terlelap menimang mimpi. Enggan bangun di awal waktu. Sadisnya
lagi, tatkala bangun, menu sarapan sudah tersedia. Tak ketinggalan secangkir
kopi, sebagai pengantar saya menyambut ceria hari, penghilang rasa kantuk,
telah ia siapkan. Ya, secangkir kopi panas yang menebar aroma khas, selalu
menyulut semangat saya untuk secepatnya meninggalkan selimut. Secangkir kopi
panas, yang ia sodorkan di atas meja yang dekat TV, tak pelak mengundang saya. Sebuah
undangan untuk mengintip, dan menghikmahi berita korupsi maupun gosip-gosip
murahan selebritis, sembari menyeruput kopi, menjadi ritus pagi. Aduhai…nikmatnya hari-hari ini.
Anak-anak masih tertidur. Rahma
memang melarang saya, agar tidak cepat-cepat membangunkan mereka. “Kasihan anak-anak, biarkan mereka istirahat
yang banyak !” seru Rahma, ketika saya hendak membangunkan mereka. Saya
pikir, benar juga. Anak-anak biarkan saja tidur. Mereka, yang di waktu siang
tak pernah mau untuk tidur siang, mereka seharian bermain. Malam, pun demikian,
tak pernah tidur di awal waktu. Anak-anak berangkat tidur, selalu di atas pukul
21.00. Bahkan si bungsu, Rakhe, pernah ikut menemani saya begadang nonton
sepakbola, hingga pukul 03.00, dini hari. Jadi saya membenarkan saran istri,
agar tak membangunkan anak-anak untuk bangun pagi-pagi.
Usai menyiapkan sarapan, yang tak
pernah ketinggalan dari istri saya, adalah bersih-bersih rumah. Membereskan tempat
tidur, merapikan kain sprei, bantal, dan guling, meski anak-anak belum pada
bangun. Kemudian menyapu lantai, dari mulai ruang kamar tidur, ruang tamu
hingga teras rumah. Tak puas sekadar disapu, lantai-lantai itu pun, ia gosok
dengan kain pel. Mengepel lantai ? Jelas tak mungkin bagi saya. Tak ada
sejarahnya di rumah ini, saya mengepel lantai. Entahlah, kenapa demikian, saya
tidak tahu. Nah, kalau sudah demikian, giliran saya yang tak tega, ketika ia
hendak mencuci baju-baju yang menggunung. Apalagi, di rumah mungil ini, belum
ada mesin cuci, sehingga untuk membereskan baju-baju tersebut, mesti dengan sigap
tangan secara manual. Kadang, saya yang mengambil alih pekerjaan yang satu itu.
Saya yang mencuci baju-baju. Baju-celana yang kadung menumpuk, bikin mata tak
nyaman, bikin perasaan eneg dan
capek, sebelum terendam di ember cucian. Sehingga tak mungkin terus-terusan menjadi
tambahan menu pekerjaan sang istri. Saya tak mungkin tega, menambahkannya sebagai
daftar rutinitas harian. Jadi saya yang mengambil peran sebagai tukang cuci,
sebagai tukang laundry di rumah.
Pukul 06.15 pagi, giliran
anak-anak, baik yang sulung maupun bungsu, yang mulai unjuk kebolehannya.
Mereka bangun pagi. Yang sulung langsung mandi, karena ia mesti berangkat
sekolah, sedang si bungsu, asyik menikmati acara kartun TV. Pukul 06.30, kita semua sarapan pagi. Rahma
menyuapi Rakhe, yang belum sedia makan sendiri. Sementara yang sulung, Ahimsa,
sesekali minta saya yang menyuapinya. Terlebih lagi, pas dirasa, lauk-pauknya
tak bersahabat dengan lidahnya.
Akhirnya, dari ritus pagi yang sedemikian, padat dari
sisi aktivitas, dan singkat secara waktu, saya menganggap Rahma, sang istri
tercinta, sebagai pahlawan. Setidaknya bagi saya dan anak-anak. Pahlawan, yang
konon lahir, lantaran keberanian dan pengorbanannya. Pahlawan merupakan sosok
yang menonjol dalam pengorbanan atau pengabdian. Pengorbanan, lantaran cintanya
pada yang liyan. Pengabdian tanpa
batas, karena tak menginginkan orang lain tidak bahagia. Ia sanggup menepis
atau menangguhkan kebahagiaannya sendiri demi pihak lain. Itulah yang saya rasakan
dari Rahma. Dialah pahlawan keluarga kecil bahagia ini. Dialah pahlawan kami. She's my hero.
Rahma, you 're my hero. I love you full......

salam buat Mbak Rahma, semooga kapan2 bisa bertemu..cuma sering denger ceritanya dari Bu Nuryati, hehehe
BalasHapusayoo, mas ardi dibantuin yaa herowatinyaaa...hihihi..
BalasHapus