Sabtu, 20 Desember 2014

Jelang Natal, Jelang Tahun Baru


Jelang Natal dan Tahun Baru 2015, akan jadi ritus tahunan yang tak bisa dielakkan. Pulang ke kampung halaman, jadi pilihan setiap kita. Termasuk di komplek perumahan dimana saya tinggal. Mulai hari-hari ini, komplek perumahan mendadak sunyi, sudah kehilangan penghuni. Hampir semua yang menghuni perumahan adalah para rantauan, dus otomatis, sebagaimana hari raya iedul fitri, jelang akhir tahun ini, rumah-rumah untuk sesaat pada ditinggalkan. Seolah telah menjadi momentum yang ditunggu oleh semua warga, kidung damai dan pesta perayaan awal tahun pun telah disiapkan. Paket hiburan akhir tahun telah dipamerkan. Acara-acara di televisi tak urung ikut latah dengan pagelaran aneka ragam pesta konyol, yang mengumbar keseronokan, yang mengeksploitasi kesenangan.


Ya, pesta kembang api telah menanti. Kompetisi suara petasan, akan berebut dengan dentuman knalpot motor, suara serak dan seksi para biduan di panggung-panggung. Akhir tahun adalah suka cita dan pesta pora artis dangdut dari segenap kalangan. Entah yang papan atas, kelas menengah, hingga kelas teri yang hanya modalkan tarian vulgar dan kain penutup super minim, telah memadati jadwal akhir 2014.

Jelang Natal dan akhir tahun 2014, telah di depan mata. Penghuni perumahan telah menyemut, memadati jalanan. Demikian juga, bersama keluarga, saya berlibur ke Sragen. Hitung-hitung untuk ikut meramaikan tradisi…hehehe. Sebetulnya dari saya sendiri, tak punya niatan untuk berlibur. Saya ingin menghabiskan angka tahun 2014 di Ungaran saja. Namun, anak-anak dan istri, berkehendak lain. Mereka ingin suasana beda. Suasana Ungaran seperti sudah kehilangan pamor, sehingga tak lagi mengundang selera anak-anak dan istri untuk mengkhidmatinya. Barangkali karena saban hari bertatap muka dengan gunung Ungaran, menghirup panas udara yang tak senyaman awal menginjakkan kaki, sehingga memaksimalkan liburan ke luar daerah, jadi impian yang wajib diwujudkan. Dan saya merasa, perasaan itu juga melanda para tetangga, para bapak, emak, dan anak-anak, yang pengap dengan rutinitas. Seindah dan sebagus apa pun tempat hunian saat ini, seakan tak akan mengendorkan semangat untuk menghabiskan waktu di luar pagar Ungaran.

Istri telah bersiap. Baju ganti dan perlengkapan lainnya telah di packing. Rona bahagia, terpancar jelas dari wajah dua matahari saya itu. Ahimsa, tak ketinggalan dengan buku tulis dan gambarnya. Sementara Rakhe, juga tak mau kalah, buku gambar dan mainan kereta api, ikut masuk memenuhi tas ransel.

Jelang Natal dan pesta tahun baru 2015, akan kami tempuh di desa kecil, Girimargo, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen. Di sana, sebagaimana yang sudah-sudah, anak-anak akan berjibaku dengan suasana sawah, lumpur pedesaan, dan teman main yang khas desa. Meskipun di Ungaran, juga sebetulnya belum kota metropolis. Di Ungaran, tempat saya tinggal, persawahan, dan sungai masih jadi pemandangan yang tak asing. Namun entahlah, serasa hawa kota yang telah menyelimuti badan ini. Raungan kendaraan, tak putus-putus memadati pikiran dan perasaan. Perasaan hidup menyendiri, yang egoistis, sendiri-sendiri, mewarnai keseharian. Komplek perumahan, rumah-rumah berpagar rapat, tertutup, jelas telah menutup budaya kunjung. Tradisi saling tengok yang menawarkan nilai persahabatan, nilai yang memanusiakan, jarang kita temukan, dan kita rasakan. Sehingga wajar, kesempatan berlibur, menjadi menu utama oleh setiap keluarga.

Ungaran yang “mengkota”, hanya nyaman untuk mengais dan melapangkan ekonomi. Tetapi kurang untuk mengakrabkan diri dan anak-anak dengan alam natural. Oleh karenanya, berlibur ke kampung halaman, disamping untuk menyambung keintiman keluarga besar, juga sekaligus untuk menengok “kebesaran” alam. Saya berpikir, pemahaman anak-anak atas alam, mesti didapat dengan persinggungan secara langsung, tidak melalui teks diktat buku pelajaran. Maka, berlibur jadi penting, setidaknya untuk saya dan keluarga kecil ini.

Akhirnya, jelang Natal, dan akhir tahun 2014, semoga akan berlangsung aman, damai, dan lestari. Perdebatan klasik tentang sah tidaknya mengucapkan “selamat natal”, seyogianya dihentikan. Kini sudah tak relevan memperdebatkan urusan privat, ranah pribadi. Urusan atau musuh kita, bukan lagi “saya versus dia”, “kami musuh mereka”, tetapi “saya musuh permasalahan bersama”. Musuh kita kini, tak lain adalah kemiskinan, kebodohan, kejumudan, puritanisme, dan sebagainya. Musuh agama adalah dogmatisme kaku, tertutup, dan antisosial.

Pendek kata, jelang Natal, adalah pengingat tentang kasih pada sesama. Pengingat tentang betapa berartinya anak-anak yang merupakan amanat Tuhan dan lingkungan. Akhir tahun 2014, ialah cara untuk mengubur kesadaran yang antibudaya kearifan. Akhir 2014, peneguhan untuk senantiasa bersyukur atas kehadiran-Nya. Kemudian awal tahun 2015, adalah tonggak untuk terus memahasucikan Tuhan. Semoga….           

2 komentar: