Jum’at, 26 Desember 2014, liburan
pun berlanjut ke Kebumen. Shuttle Sumber Alam, jadi pilihan untuk transportasi
perjalanan. Memang harus menguras isi dompet, namun cukup nyaman ketimbang naik
bus reguler. Naik shuttle, semi travel itu, serasa lebih aman, dan cepat sampai
tujuan. Sedang naik bus, biaya murah, tetapi kenyamanan penumpang kurang
diperhatikan. Sudah jalannya merayap lambat, bising dengan suara pengamen, dan
aneka ragam penjaja makanan, dari yang mulai sopan hingga yang kasar, penuh
ancaman. Sehingga naik bus, lambat laun bukan lagi alternatif pilihan untuk bepergian.
Malah pernah, juga pas perjalanan dari Kebumen ke Semarang, mencoba peruntungan
dengan naik bus, jalan lambat, kondisi bus rusak berat, dan—ini yang paling
tidak mengenakkan—mesti oper ganti bus 3 (tiga) kali sebelum sampai Ungaran,
Semarang.
Saya memastikan, bukan maksud
mendoakan, armada bus angkutan antar kota, cepat atau lambat bakal ditinggalkan
oleh para konsumen. Setidaknya, saya, seakan bersumpah, tidak bakal lagi naik
bus. Mending travel atau kereta api. Biarpun biaya perjalanan jadi membengkak,
namun perasaan was-was, ketar-ketir, nyaris tidak ada.
Termasuk Jum’at itu, 26 Desember
2014, shuttle jadi pilihan yang paling logis, demi kenyamanan perjalanan.
Entahlah, apakah keluhan yang begini ini, akan jadi masukan yang bakal
memperbaiki keadaan. Saya tidak tahu. Saya yakin perasaan tidak nyaman, tidak
hanya melanda saya dan keluarga, namun juga menghinggap di benak setiap calon
penumpang. Sehingga alternatif-alternatif jasa layanan transportasi, pengganti
bus, ramai diserbu konsumen.
Perjalanan ke Kebumen, perjalanan
yang mengundang decak kagum sekaligus prihatin. Kagum kala menyaksikan deretan
kendaraan yang tak putus-putus. Padahal ini bukan lebaran, namun jalanan sudah
menyemut. Mobil-mobil luar kota Jawa Tengah, yang banyak menyesaki jalanan. Yang
dari Bandung, Jakarta, Malang, dsb, turut andil bikin perjalanan anak-anak dan
istri tersendat, tidak segera sampai tujuan. Melihat deretan mobil dan sepeda
motor yang panjang, menghipnotis pikiran saya tentang perjuangan setiap kita
untuk mendapatkan, meski sesaat, rasa kebebasan. Berlibur adalah cara untuk
mengartikulasikan makna kebebasan sebagai manusia. Berlibur merupakan teknis
untuk keluar dari penjara rutinitas. Keluar dari jebakan perangkap bendawi,
serba ragawi.
Semangat untuk mendapatkan nilai
kebebasan tersebut terpancar dari raut muka para pengguna jalan yang sabar
merayap. Tiada emosi, meski kemacetan jelas di depan mata. Tiada umpatan,
padahal lalu lalang kendaraan terus tanpa henti. Itulah yang mengagumkan dari
masyarakat kita. Bersabar demi sesuatu yang bermakna. Rela menderita demi yang
lebih. Perjalanan ini juga mengundang rasa prihatin. Prihatin lantaran derita masyarakat yang mengejar
makna kebebasan, demi menemukan rasa manusiawinya, tidak diimbangi dengan
infrastruktur yang mengamankan. Entah kesengajaan atau apa, tidak jelas,
pemerintah selalu saja menunda-nunda untuk memperbaiki fisik jalan raya. Jalan raya
dari Solo ke Kebumen, hanya lintasan ringroad Yogya, saya mendapatkan kondisi
jalan yang nyaman. Selain itu, lubang-lubang dan jalanan bergelombang, menjadi
pemandangan yang menyesakkan dada sepanjang jalan.
Hal itu jelas memprihatinkan. Kondisi
cuaca bulan Desember, dengan intensitas turun hujan yang meninggi, namun
kondisi jalan tidak memadai bagi kendaraan motor. Menghindari lubang-lubang,
seakan bertaruh dengan maut. Setidaknya, kondisi kendaraan mesti dalam keadaan
benar-benar sempurna untuk perjalanan. Jalanan rusak, banyak lubang di
sana-sini, mesti jadi tanggung jawab pemerintah, selaku abdi rakyat. Pemerintah
itu bukan rakyat. Hidup nyaman bergaji dari pajak rakyat, namun tidak becus
untuk menjaga jalan raya agar senantiasa berkondisi prima.
Nah, dari Jum’at, tanggal 26
Desember 2014, saya mendapatkan penegasan, bahwa rakyat atau masyarakat kita
itu benar-benar berhati mulia. Prihatin yang terus menerus, tanpa mengeluh dan
menagih hak kenyamanan. Mereka legowo,
dengan kondisi apa pun. Memang sesekali menuangkan kemarahan dan ketidakpuasan,
namun tetap setia membayar pajak, memberi penghidupan pada para pemegang
otoritas negeri ini. Akhirnya, liburan saya dan keluarga, tetap berlangsung
dalam kegembiraan, menikmati kebebasan, menghikmahi setiap tingkah polah. Termasuk
rasa menerima, rasa syukur yang tiada habis, dan bersabar tanpa ujung
akhir....hadeuuuhhhh.
Betul, rakyat Indonesia memang orang-orang paling tangguh hehe
BalasHapusiya Mbak Dew....
BalasHapus