Senin, 29 Desember 2014

Pantai Petanahan

hujan tak kunjung reda
Hujan tak kunjung reda.  Semalaman air hujan terus mengguyur tanah Petanahan, Kebumen hingga detik ini. Kami tidak bisa kemana-mana. Kecewa. Terutama, si sulung Ahimsa yang semestinya hari ini menjadi hari kedua untuk bermain pasir di Pantai Petanahan. Bermain pasir di pantai merupakan agenda favourit kala berliibur di Kebumen. Hal ini wajar saja, lantaran di Ungaran, daerah gunung, yang asing dengan hamparan pasir yang berlimpah sebagaimana pantai. Berlibur di Kebumen, bermain ke pantai, merupakan paket wajib. Tidak hanya di Pantai Petanahan. Biasanya berlanjut dengan menyusuri Pantai Puring, Pantai Suwuk.

Islam Humanis

oleh sebab humanisme, saya ber-Islam
Masih seputar keberagamaan. Awal tahun 2015, saya ingin mengukir prestasi, untuk diri sendiri, yaitu memantabkan doktrin humanisme dalam ber-Islam. Entah apakah ini nanti akan bersinggungan dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) dan kelompok Islam moderat lainnya, atau tidak, saya tidak ambil pusing. Teman-teman dan handai tolan akan beramai-ramai menghujat dan mencemooh, biar saja, toh keberagamaan adalah masalah pribadi, bukan urusan publik. Beragama adalah menyatu rasa, berempati dengan realitas objektif. Beragama ialah bersentuhan dengan keseharian yang dianggap sepele, lumrah, dan wajar. Beragama merupakan cara memanusiakan yang lain, terutama dengan yang berbeda keyakinan. Kalau berbaikan dengan sesama agama, dengan sesama Islam, terlebih yang sesama madzab, sudah semestinya. Tetapi kini yang masih terasa kurang, apalagi dalam nuansa Natal, dan nanti menuju angka tahun 2015, berkoeksistensi dengan sesama manusia, entah yang sealiran, sesama madzab, sesama agama, dengan non-muslim, sesama anak bangsa, dan sesama anak manusia, mesti jadi dogma bersama.

Semua Agama itu Benar

Perjalanan liburan saya dari Solo ke Kebumen, dengan bersepeda motor, sedang istri dan anak-anak naik shuttle Sumber Alam, masih menyisakan rasa yang berbekas hingga kini. Saya tidak bisa menghindari perasaan dan pikiran ini. Sepanjang jalan, nuansa natal, sangat berasa. Penjagaan ketat dari aparat polisi dan TNI di sepanjang gereja yang saya temui, kentara sekali, bahwa rasa was-was masih menghinggapi para jemaah gereja.  Tentu saja bukan tanpa alasan, penjagaan tersebut dilakukan. Dan sebagai muslim, rasa malu terus berkecamuk. Kenapa sedemikian khawatirnya ? Saya malu pada para jemaah gereja itu. Saya malu, lantaran saya muslim, dimana oleh sebagian kelompok muslim, masih enggan menyapa umat kristiani itu. Lebih dari itu, saudara-saudara saya yang seagama Islam, masih gemar menabuh genderang permusuhan dengan menyematkan sebutan “kafir” dan “musyrik” pada saudara-saudara Kristiani.

Berlibur : Decak Kagum Sekaligus Prihatin

Jum’at, 26 Desember 2014, liburan pun berlanjut ke Kebumen. Shuttle Sumber Alam, jadi pilihan untuk transportasi perjalanan. Memang harus menguras isi dompet, namun cukup nyaman ketimbang naik bus reguler. Naik shuttle, semi travel itu, serasa lebih aman, dan cepat sampai tujuan. Sedang naik bus, biaya murah, tetapi kenyamanan penumpang kurang diperhatikan. Sudah jalannya merayap lambat, bising dengan suara pengamen, dan aneka ragam penjaja makanan, dari yang mulai sopan hingga yang kasar, penuh ancaman. Sehingga naik bus, lambat laun bukan lagi alternatif pilihan untuk bepergian. Malah pernah, juga pas perjalanan dari Kebumen ke Semarang, mencoba peruntungan dengan naik bus, jalan lambat, kondisi bus rusak berat, dan—ini yang paling tidak mengenakkan—mesti oper ganti bus 3 (tiga) kali sebelum sampai Ungaran, Semarang.

Minggu, 28 Desember 2014

Liburan Naik Kereta Api

naik kereta api..tuuut...tuuuut, siapa mau ikut....
Anak-anak begitu menikmati waktu liburan ini. Seharian tanpa jeda istirahat, terus saja bermain menikmati kebebasan. Seolah-olah kebebasan jadi hal yang langka dan mahal, sehingga begitu kini di dapat, tak mau melewatkannya. Sebagai orangtua, tentunya ingin menciptakan surprise bagi  anak-anak. Ingin memberi kesan mendalam tentang liburan akhir tahun ini. Kesempatan pun datang. Pada hari kedua, liburan di Sragen, Selasa, 23 Desember 2014, saya ajak anak-anak untuk mengisi hari  dengan menikmati perjalanan bersama kereta api, Salem-Solo. Si bungsu Rakhe, selalu menagih untuk bisa naik kereta api beneran, bukan imitasi seperti kereta kelinci, atau kereta putar di alun-alun. 

Upaya Objektifikasi

objektifikasi adalah.........
Di masjid itu, Masjid Raya Al-Falah Sragen, Minggu sore, 21 Desember 2014. Saya berkesempatan untuk berbagi pemahaman tentang sedikit pemikiran Dr. Kuntowijoyo, dalam sebuah halaqoh, Majlis Selikuran. Halaqoh ini terselenggara rutin setiap bulan, tiap tanggal 21, atas prakarsa saudara Ikhwanushofa. Pas giliran saya, terhitung sudah 16 pertemuan, artinya sudah 1 tahun lebih 4 bulan, Kang Ikhwan, sapaan saya untuk Ikhwanushoffa, berhasil selamatkan tradisi diskusi, tradisi mengais hikmah. Tidak banyak yang saya sampaikan. Hanya berkisar tentang objektifikasi. Namun demikian, bahasan objektifikasi, tak sederhana sebagaimana yang terbayangkan. Saya membayangkan, bakal mudah untuk presentasi ke audiens, tapi ternyata tidak. Objektifikasi masih terlampau berat untuk menjadi tema perbincangan. Masih asing dan langka, bagi telinga kita yang kadung termakan oleh isu-isu popularisme.

Liburan, Ber-Sepeda Motor

Dengan sepeda motor. Itulah yang kami lakukan. Perjalanan liburan ke Sragen, Minggu pagi, 21 Desember 2014, kami tempuh dengan kendaraan motor. Ahimsa, sang sulung, duduk di depan saya. Sedang Rakhe di tengah diapit oleh diri saya dan istri. Istri kebagian paling buntut, menduduki sisa, dan kemungkinan paling tidak nyaman juga karena mesti menjaga keseimbangan, memegangi kepala Rakhe yang mulai gelang-geleng lantaran kantuk menyerang. Sebenarnya saya kepingin anak-anak dan istri naik bus, dan saya yang naik motor. Namun sang istri tak menyetujui. Ia beralasan, naik motor lebih ekonomis, bisa istirahat sembarang tempat sesuai kebutuhan, dan tentunya, uang yang sedianya untuk naik bus, bisa dipakai untuk kebutuhan lain saat di Sragen. Saya setuju saja, meski dalam hati tetap tidak tega.

Jumat, 26 Desember 2014

Muhammadiyah : Filosofis & Aksi Sosial


Bicara Muhammadiyah, saya tak bisa jauh-jauh dari Dr Kuntowijoyo. Sekitar tahun 1989, ia telah menuliskan makalah tentang kekurangan gerakan tajdid itu. Tulisan yang bertutur tentang semestinya yang Muhammadiyah lakukan, kini telah berusia satu generasi. Bahkan Buya Syafi’i , mengamini tulisan tersebut. Dr Kuntowijoyo, memaparkan pentingnya Muhammadiyah untuk merumuskan gerakannya berdasar kelas dan kondisi sosial. Yang terjadi selama ini, Muhammadiyah itu antisosial, karena gerakannya hanya berdasar jenis kelamin dan usia. Nasyiatul Asyiah, Asyiah untuk remaja putri dan para ibu-ibu, menunjukkan kriteria yang berdasar jenis kelamin. Ada IRM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, menunjukkan kriteria usia.

Kamis, 25 Desember 2014

Bang-Bang Wetan


Bang-bang Wetan, cahaya merah dari timur. Sebuah nomor lagu dari Cak Nun dan Kiai Kanjeng, yang selalu menemani saya kala malam maupun pagi hari. Nomor lagu yang rancak, full “gaduh”, yang menyiratkan bakal terbit keagungan dari timur. Bang-bang Wetan, abang-abang dari wetan. Abang artinya merah. Semburat warna merah matahari yang hendak terbit. Semburat yang belum penuh menampilkan keseluruhan badan matahari, seolah masih mengintip malu, dan menandakan kehidupan pagi sebentar lagi tergelar. Warna merah juga mengisyaratkan suatu keberanian yang tiada tara dalam menghadapi onak dan aral kehidupan. Kehidupan bukan dijauhi atau dihindari, melainkan dihadapi. Aral melintang yang menghambat laju, pasti adanya, tak bisa dihindarkan.

10 Tahun Tsunami Aceh


Ternyata sudah 10 tahun. Tsunami Aceh yang dahsyat, yang meluluhlantakkan pemukiman, dan ratusan ribu nyawa manusia melayang. 26 Desember 2004, dan kini sudah 26 Desember 2014. Rentang waktu yang tidak pendek, namun serasa baru kemarin kejadian yang menghemparkan itu berlangsung. Saya ingat sekali, usai bencana tsunami Aceh, kemudian negeri seribu pulau ini secara beruntun bencana demi bencana terus mendera silih berganti. Tahun 2006 ada gempa di Yogyakarta, tahun yang sama lumpur lapindo. Gempa vulkanik di Padang, di Jawa Tengah dan Yogya. Banjir di Papua, dan sebagainya.

Sabtu, 20 Desember 2014

Jelang Natal, Jelang Tahun Baru


Jelang Natal dan Tahun Baru 2015, akan jadi ritus tahunan yang tak bisa dielakkan. Pulang ke kampung halaman, jadi pilihan setiap kita. Termasuk di komplek perumahan dimana saya tinggal. Mulai hari-hari ini, komplek perumahan mendadak sunyi, sudah kehilangan penghuni. Hampir semua yang menghuni perumahan adalah para rantauan, dus otomatis, sebagaimana hari raya iedul fitri, jelang akhir tahun ini, rumah-rumah untuk sesaat pada ditinggalkan. Seolah telah menjadi momentum yang ditunggu oleh semua warga, kidung damai dan pesta perayaan awal tahun pun telah disiapkan. Paket hiburan akhir tahun telah dipamerkan. Acara-acara di televisi tak urung ikut latah dengan pagelaran aneka ragam pesta konyol, yang mengumbar keseronokan, yang mengeksploitasi kesenangan.

Jumat, 19 Desember 2014

Objektifikasi: Titik Temu & Kenikmatan Yang Berlimpah


Saat itu, 22 Juni 1945, “Panitia Sembilan” bersidang merumuskan Piagam Jakarta atau Jakarta Charter.  Panitia Sembilan itu terdiri dari: Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta, Mr. A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakkir, Haji Agus Salim, Mr. Ahmad Subardjo, Wachid Hasjim, dan Mr. Muh. Yamin.  Panitia itu dibentuk untuk merancang pembukaan hukum dasar, yang di dalamnya termaktub rumusan Pancasila.  

Kamis, 18 Desember 2014

Kenapa Objektifikasi ?


Sekarang kita tidak lagi hidup di zaman agraris. Kita telah menjejakkan kaki di kurun waktu pasca-industri. Meminjam istilah dari Marshall G.S. Hodgson, ahli sejarah peradaban Universitas Chicago yang  wafat 10 Juni 1968, kurun masa saat ini disebutnya sebagai masa teknik. Dua ciri universal yang menandai  masa teknik itu ialah rasionalisasi dan sistemasi. Cara berpikir rasional akan dominan dalam masyarakat teknik, yang menggantikan cara berpikir berdasar nilai, perasaan, dan tradisi yang berkembang subur pada masa agraris. Pun demikian dengan sistemasi. Masyarakat teknik adalah masyarakat yang tidak diatur oleh orang, tetapi oleh sistem. Sistem itu abstrak, tidak konkret, alias impersonal.

Minggu, 14 Desember 2014

Kompetisi Dalam Mengabdi


Pagi terasa sibuk. Seakan berpacu dengan mentari pagi, seisi rumah sudah memainkan peran masing-masing. Rahma, berseru dengan dapur. Saya asyik mematung depan layar laptop. Ahimsa bersiap-siap hendak sekolah. Sementara Rakhe, tak ketinggalan membersamai kereta thomasnya. Inilah pagi. Masing-masing yang tanpa kodifikasi komitmen, namun serasa ada peraturan yang mengikat, sehingga saban pagi otomatis akan mengerjakan perannya sendiri-sendiri. Masing-masing serasa saling mengawasi, padahal senyatanya tidak demikian. Masing-masing seolah akan saling tegur untuk mengingatkan, padahal yang terjadi tak pernah ada tegur sapa yang saling menghardik.

Syarat Berkah: Iman dan Takwa


“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…..” (QS Al-A’raf [7] : 96). Ayat tersebut menuturkan, bahwa berkah, kemenangan, dan pertolongan Tuhan, itu mungkin dengan bersyarat. Keberkahan, bukan dengan sendirinya terlimpah kepada setiap orang atau bangsa, jika tanpa diiringi dengan upaya menggarap diri jadi insan yang beriman dan bertakwa. Apa itu iman ? Apa itu takwa ?   

Sabtu, 13 Desember 2014

Ken Maos, Rumah Belajar


Meneguhkan Kesadaran Kemanusiaan

rumah mungilku yang kutempati 2008 hingga kini
Rumah ini type 29, dengan luas tanah 7 x 11 m. Tahun 2007, saya mendapatinya dengan cara mencicil ke pengembang, M Syafi’i. Rumah yang masih berada di bawah kepemimpinan pemerintah Desa Lerep, saya tempati pertengahan tahun 2008. Rumah sederhana, yang kira-kira berjarak 1 km dari Jalan Raya Pattimura, Ungaran, kini telah berhasil menyimpan album kenangan, dan mengukir asa. Ya, sedari awal ditempati, langsung kami optimalkan sebagai sanggar belajar. Saat itu, Ahimsa masih usia 1 tahun, dan baru merangkak, belum bisa jalan. Memang kemampuan jalannya, dibanding anak seusianya, terhitung lambat.

Jumat, 12 Desember 2014

(Kembali) Objektifikasi


Mengikuti dialektika Hegel, tesa—antitesa—sintesa, posisi objektifikasi “kurang lebih” menjadi islamisasi—sekularisasi—objektifikasi. Islamisasi mengandaikan adanya gerakan dari konteks ke teks. Konteks yang tak lain adalah kenyataan mesti ditarik ke ranah teks. Peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan wajah kenyataan dicari relevansinya dengan narasi kitab suci. Kenyataan menyesuaikan kitab suci. Gerakan islamisasi ini bergulir ketika Muhammad Natsir membidani Masyumi. Masyumi disebutnya sebagai partai Islam. Membawa aspirasi dan representasi aliran Islam. Masyumi, oleh para penggagas dan pengusungnya, didedikasikan sebagai upaya eksternalisasi. Mewujud-nyatakan keyakinan nilai-nilai Islam ke ranah publik. Kehidupan sosial, dinilai belum islami, sehingga perlu diislamisasikan. Kenyataan mesti diselaraskan dengan isi teks kitab suci.

Kamis, 11 Desember 2014

Objektifikasi


Adalah Kuntowijoyo, sejarawan kondang sekaligus budayawan yang telah menyuntikkan pemikiran objektifikasi. Ia meninggalkan dunia ini tahun 2005, namun pemikiran geniusnya, yang terhitung langka, jarang orang meniliknya. Saya termasuk yang sedari awal, melalui buku-buku berbobotnya, menaruh hati padanya. Saya ikuti pemikirannya yang konsisten, mulai dari paparannya yang tersaji dalam buku “paradigma Islam: interpretasi dan aksi”, “identitas politik umat Islam”, “muslim tanpa masjid”, dan “selamat tinggal mitos, selamat datang realitas”. Ada garis benang merah yang teguh, ia perjuangkan yaitu objektifikasi.

Selasa, 09 Desember 2014

Berlomba, Jadi yang Terbaik

berjuang untuk dapatkan buku...hehehe

Adalah kebahagiaan tatkala masuk rumah, sehabis bepergian, anak-anak berhamburan menyambut kedatangan kita. Anak-anak, dengan canda ria, memeluk, dan menggelayut ke pundak kita. Mereka menyalami dan mencium takdzim tangan kita. Berondongan pertanyaan pun meluncur dari lisan mereka. Mempertanyakan perihal kepergian kita, tentang ketidakhadiran kita, ketidakbersamaan kita. Rasa lelah, badan pegal, sontak langsung buyar menghilang, ketika wajah-wajah polos itu menghardik kita. Penat pun lenyap, kala anak-anak itu menggugat kita. Hmmmm…..setiap orangtua, siapa pun itu, yang mengalami situasi demikian, saya yakin juga akan mendapati diri dalam kerubungan perasaan yang membuncah.

Senin, 08 Desember 2014

Rahma, You're My Hero

dari kiri ke kanan: Ahimsa, Rahma, dan si bungsu Rakhe

Rahma, sang istri, selalu yang paling awal, mendahului segenap seisi rumah, kalau urusan bangun pagi. Seakan tak mau kalah, berlomba dengan sorot tajam cahaya matahari, ia selalu yang terdepan, bangun paling dini dan  menuntaskan pekerjaan-pekerjaan rutin pagi. Cuci piring, belanja sayuran, siapkan sarapan pagi, dan sesekali cuci baju. Ah, Rahma ! Tak mungkin saya akan menyepelekannya. Saya tak bakalan menganggap rutinitas pagi itu sebagai pekerjaan yang ringan dan remeh temeh. Tidak bakal saya demikian. Saya bayangkan, andaikan itu menimpa saya. Seandainya saya pelakunya, saya pastikan, saya tak bakal kuat mengerjakannya. Saya tak mungkin sanggup melakukan rutinitas, baik dari sisi waktu maupun pekerjaan.

Minggu, 07 Desember 2014

Kenyataan Bukan Keadaan


Kenyataan dan Keadaan

Kenyataan berbeda dengan keadaan. Kenyataan sisi luar, keadaan sisi dalam. Kenyataan merupakan peristiwa-peristiwa yang berhamburan di luar pikiran dan perasaan kita. Sedang keadaan ialah sikap kita atas kenyataan. Keadaan berada dalam pikiran dan hati kita, yang masih di awang-awang alias belum dinyatakan, belum diwujudkan. Kondisi luar adalah kenyataan, yang berarti pula takdir. Kondisi dalam itu adalah keadaan, dan sering disebut sebagai nasib.

Sabtu, 06 Desember 2014

Akhirnya Jadi Narasumber !

di alun-alun Bung Karno, Ungaran, 4 Desember 2014

Beberapa hari ini saya absen dari dunia blog. Target yang saya pancangkan, setiap hari satu tulisan, kandas. Tanggal 1-2 Desember, kedatangan seorang karib dari Sragen, yang minta ditemani untuk keliling Kota Semarang. Tanggal 3-6 Desember, mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengelolaan TBM di Gedung PP PAUDNI, Jl. Diponegoro No. 120 Ungaran. Sehingga praktis, tak bisa bebas menyentuh layar laptop untuk menuangkan uneg-uneg alias gerundelan. Dan kini, kesempatan itu ada. Kembali saya bebas bermain kata. Saya ingin menyuarakan rasa mangkel yang sebelumnya tersumbat, karena padatnya jadwal pelatihan. Saya ingin menghempaskan kekesalan, yang ternyata akhirnya  berujung pada pemantapan diri. Mantab untuk berdamai dengan kelemahan, kekurangan, hingga kelebihan TBM.