Sabtu, 31 Januari 2015

Melawan Korupsi, Mulai dari yang Kecil

Pernah suatu pagi, dalam perjalanan naik sepeda motor dari Sragen ke Ungaran, ketika masuk kota Salatiga ada operasi razia kendaraan motor samping pos polisi. Langsung hati berdetak kencang, karena pada saat itu saya belum ber-SIM. Sudah tanggung, mau memutar balik tidak mungkin karena satu arah. Hanya bisa pasrah. Rapal doa-doa tak henti seiring jalan sepeda yang kian mendekat dengan rombongan polisi. Polisi muda mendekat dan barangkali karena melihat raut muka saya yang tegang, dia tampak ramah saat meminta saya untuk menunjukkan kelengkapan surat-surat. Ramah dan memberi hormat, namun tetap saja saat itu saya jengkel padanya. Jengkel mengutuk diri, lantaran tak memiliki SIM. Jengkel kenapa saya tak waspada kalau mau ada operasi. Jengkel kenapa saya tidak mengulur waktu menunda keberangkatan, sehingga selamat dari sergapan polisi. Jengkel kenapa saya tidak tiba di tempat operasi itu satu jam sebelumnya. Campur aduk kesal menyalahkan diri yang terus berkecamuk, sembari menunjukkan STNK dan KTP.

Kamis, 29 Januari 2015

Semoga BW Terbebas

Sebetulnya saya tak begitu menyukai perdebatan politik. Politik dan pelbagai intrik yang mengelilinginya, bukan ranah keseharianku. Saya bukan politisi, terlebih lagi seorang pejabat publik yang kental aroma trik dan permainan uangnya. Ayah dan ibu saya juga dari kalangan jelata, yang jelas sama sekali buta dengan isu-isu yang laris dalam pemberitaan. Terlebih istriku, malah eneg mendengarnya. Ringkasnya, kami sekeluarga bukan dari kalangan berada yang berasal dan menggemari politik. Tetapi, entah kenapa jluntrungannya, ketika akhir-akhir ini marak dalam pemberitaan tentang perseteruan KPK versus Polri, saya dan istri, tiba-tiba saja jadi mania mengikuti acara debat dan talk show yang mengetengahkan pertarungan dua institusi tersebut. Saya jadi intens menikmati sajian perbincangan yang mengupas sebab musabab “cicak vs buaya” jilid III. Acara “Satu Meja” Ira Koesno, “Mata Najwa” Najwa Shihab, “Kompasiana” Cindi Sistyarani, mendadak jadi program favorite istri. Sehingga anak-anak terpaksa mengalah dari kebiasaan melototi “On the Spot” Trans 7. Sebuah program acara yang menampilkan keunikan, keanehan, dan keajaiban-keajaiban alam maupun peristiwa.

Senin, 12 Januari 2015

Fasad Fi Al-Ardh, Musuh Islam

#Catatan 16

Terkait kebebasan beragama, masih menjadi isu yang sensitif di negeri khatulistiwa ini. Kebebasan beragama dan kepercayaan, terasa mewah dan tak terjangkau oleh kalangan luas umat Islam. Turunan dari kebebasan beragama dan kepercayaan adalah pluralisme, yaitu penghargaan atas keragaman keyakinan, keunikan agama. Sebetulnya masalah keberagaman, kemajemukan bukan hal baru bagi masyarakat yang menghuni negeri ini. Sedari awal, Indonesia merupakan negeri yang majemuk, terdiri dari etnis, suku, bahasa, dan kepercayaan yang beragam. Para pendiri bangsa ini mengakui hal itu, dan Pancasila merupakan wujud dari keragaman tersebut. Pancasila adalah objektifikasi dari segenap agama yang ada. Pancasila, dengan terhapusnya tujuh kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi “Yang Maha Esa”, mempertegas keberadaannya yang bukan monopoli Islam. Nilai-nilai dari setiap agama terwakili oleh kelima sila Pancasila. Bahkan dalam UUD 1945, masalah kebebasan beragama sangat ditekankan.

Minggu, 11 Januari 2015

2015, Semoga

#Catatan 15

Kita menginjakkan kaki pada angka tahun 2015. Upaya menyerap sifat-sifat Tuhan, kemudian mencerminkan dan aktual sebagai kenyataan, kiranya yang patut terus kita usahakan. Segenap ikrar, sumpah setia, terutama pada diri sendiri, telah terukir dalam relung sanubari masing-masing. Serius mengenali diri, tiada henti membaca makna di balik fenomena, dan mengenali wajah Tuhan, akan terus menjadi proses introspeksi diri yang akurat. Termasuk si faqir ini. Sedari awal, saya memaparkan catatan-catatan ini, tak lain karena kepingin ikut menggenapkan diri masuk ke dalam deretan para pengusung gagasan Islam Moderat. Meminjam istilah dari Khaled Abou El Fadl, dalam buku terbarunya “Selamatkan Islam dari Muslim Puritan” (Serambi, 2006), terdapat dua jenis Islam: Islam Moderat dan Islam Puritan. Dalam buku tersebut, Khaled menunjukkan terbelahnya Islam dalam dua kutub ketika menanggapi isu: Tuhan dan tujuan penciptaan, watak hukum dan moralitas, pendekatan terhadap sejarah dan isu kemodernan, demokrasi dan hak asasi, interaksi dengan non-Muslim dan konsep keselamatan, jihad dan terorisme, serta (terakhir) peran perempuan dalam Islam.

Mencintai Tuhan, Mencerminkan Sifat-sifat-Nya

#Catatan 14

Nabi Muhammad mengisyaratkan banyak sekali amalan-amalan yang bisa kita kerjakan dalam rangka meneguhkan eksistensi diri. Termasuk raut muka yang penuh senyum, tak bermuka masam pada siapa saja, bisa merupakan amalan yang mengokohkan eksistensi. Namun hal itu tentu saja kita lakukan dengan tulus bukan kepura-puraan. Demikian juga dalam bertuhan. Sebagaimana dalam catatan sebelumnya, bisa saja kita rajin beribadah ritual, tak ketinggalan membayar zakat, puasa ramadhan, hingga ibadah haji, namun kita terjebak pada penipuan diri. Kita show of force tentang kebajikan padahal sebatas pemujaan diri seraya berpura-pura peduli. Itulah pentingnya introspeksi dan pengenalan diri secara kritis.

Introspeksi Kritis Atas Diri

#Catatan 12

Meniru akhlak Tuhan itu terkait dengan pemahaman tentang Tuhan dan tujuan penciptaan. Sekadar mengulang, tujuan penciptaan manusia tak lain adalah ibadah. Sebagian kalangan memahami ibadah sebagai praktik ritual. Sehingga totalitas ketundukan pada Tuhan diwujudkan dalam bentuk praktik ritual. Semakin ketat dan sempurna dalam menjalankan ritual, dianggap telah meraih kesempurnaan ibadah. Yang otomatis dekat dengan Tuhan dan kelak bakal mendapatkan hadiah surga. Lantaran ketundukan pada Tuhan bergantung pada praktik ritual yang benar, ketundukan tidak dimungkinkan bagi orang-orang yang tidak menerima Islam. Oleh karenanya, hanya dengan menjadi muslim, seseorang mendapatkan kesempatan untuk tunduk pada Tuhan.

Awal Untuk Meniru Akhlak Allah

#Catatan 11

“Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah.” Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW, yang seakan hendak menegaskan pertanyaan bagaimana dan apa rujukan akhlaqul karimah ? “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma’ul Husna)” (Al-Isra’ [17]: 110). Menyeru atau lazim diterjemahkan berdoa di sini adalah menarik sifat atau dapat juga suatu perbuatan Allah ke dalam diri kita. Mereplika perilaku Tuhan ke dalam diri untuk aktual menjadi orangnya Tuhan. Jadi meng-Allah. Dalam idiom Jawa disebutkan “Ngalah luhur wekasane”, yang konon kata ngalah bukan dari kata kalah, melainkan dari kata nga-Allah yang berarti menuju ke Allah. Yang berarti manunggal atau menyatu diri dengan perilaku Tuhan.

Sabtu, 10 Januari 2015

Agama Budi Pekerti

#Catatan 10

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam” (Ali Imran [3]: 19) dan ayat “Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (Al-Hujurat [49]: 13). Kalau disandingkan “agama” dengan “yang paling mulia di antara kamu”, jelaslah bahwa agama merupakan sisi luaran atau yang kelihatan dari manusia. Dari dalam diri manusia yag tersembunyi dan merupakan rambu-rambu yang akan selalu mengingatkannya adalah hati nurani. Hati nurani ialah kepribadian seseorang. Dus dengan demikian agama, sesungguhnya merupakan pelembagaan hati nurani. Hati nurani yang privat, individual, dan tersembunyi, yang menandakan kepribadian, oleh adanya pelembagaan, yaitu agama, menjadi terbuka, menyentuh publik. Sehingga saya tak sepakat kalau dikatakan bahwa agama itu urusan pribadi. Padahal tidaklah demikian. Yang pribadi itu hati nurani. Yang akan mengontrol manusia secara pribadi itu suara hati nurani.

Humanitarianisme

#Catatan 9

Humanisasi dari kata humanis, dari kata latin humanus yang berarti bersifat manusiawi, sesuai  dengan kodrat manusia. Jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia; menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Dalam pandangan humanistis, manusia itu bermartabat luhur, dan berpotensi tinggi. Namun demikian, bagi beribu, mungkin berjuta manusia, tertutup oleh keadaan serba kekurangan, kemiskinan, tertekan, tertindas, dan terbelenggu. Sehingga potensi dan keluhuran manusia menjadi suram. Kondisi sosial telah berhasil menenggelamkannya. Bahkan dewasa ini, dengan kemajuan era digital, serba online, keluhuran manusia kian tercabik, kemiskinan dan kesenjangan kian meluas.

Jumat, 09 Januari 2015

Kiblat Shalat Humanisasi

#Catatan 8

Adalah teks suci Al-Isra’ [17] : 1, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.”, merupakan penegasan akan perlunya melakukan safari internal. “Allah memperjalankan hamba-Nya”, menunjukkan subjek kehidupan ini adalah Allah. Allah sebab segala sesuatu di alam semesta. Allah yang memperjalankan, dan kita (segenap para hamba) diperjalankan. Allah subjek, kita adalah objek. Pada “malam hari”, artinya dunia tempat kita berpijak dalam kondisi gelap, tidak jelas petanya. Sebagai objek tiada cara yang patut dilakukan selain menurut dengan kehendak sang subjek, agar selamat sampai tujuan.

Kamis, 08 Januari 2015

Menarik Ego Umat

#Catatan 7

Pagi selalu menjanjikan harapan. Seiring cahaya matahari yang mengintip di ufuk, saat itu pula impian-impian semalam buyar, dan hendak diwujudkan. Mewujudkan impian, menyatakan cita-cita. Dan itu dimulai pagi hari. Ya, pagi memang menjanjikan. Setiap kita bersiap untuk mengukur ruang, bersafari eksternal menumpang waktu. Safari eksternal ? Safari atau perjalanan melongok keluar, berlepas dari ikatan diri untuk menghimpun dan menawarkan perolehan. Safari eksternal adalah wujud empati sosial kita, dari institusi terkecil keluarga hingga meluas yang bersinggungan dengan political society. Safari eksternal merupakan eksternalisasi maupun objektifikasi atas keyakinan internal yang tertanam dalam di kedalaman sanubari kita.

Semesta Diri


#Catatan 6

Dalam serial epik Mahabharata, sering dibicarakan tentang harga diri. Seorang Bisma, demi menjaga martabat Santanu dan Hastinapura, rela membujang seumur hidup dan menarik diri dari kedudukan putra mahkota. Pandawa lima putra Pandu, juga demikian. Mereka selalu mengalah oleh perilaku curang saudara mereka Kurawa, rela mengasingkan diri ke hutan, membangun tahta Indraprasta. Karna, Raja Angga, tak kalah istimewa dengan Arjuna. Karna, meski berpihak pada Duryodhana, tetapi ia tahu betul bahwa memegang kata-kata, sekalipun harus bermusuhan dengan saudara-saudaranya, harus dijaga seutuh hidup hingga ajal menjemput. Itulah serial Mahabharata, yang versi asli India, jauh lebih menggugah ketimbang versi Jawa. Saya dan istri menuntaskan serial tersebut, tak jarang, kami sering kali terpaksa menitikkan air mata, lantaran haru dengan ceritanya yang menghentak perasaan. Ibu Kunti, yang bertahun-tahun menjaga rahasia, tentang identitas asli Karna, demi nama baik Pandawa, anaknya,  dan Pandu, suaminya. Ya, Ibu Kunti sedia bertahun-tahun dalam kesakitan sebagai pendosa.

Rabu, 07 Januari 2015

Martabat Kita: Iman dan Amal

#Catatan 5

Sachiko Murata dalam bukunya “The Tao of Islam” memaparkan secara apik perihal peran dan fungsi hamba dan wakil Tuhan. Dijelaskannya bahwa Tuhan Yang Esa dapat dilihat dari dua sudut pandang, pertama, kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan. Kedua, keserupaan dan kedekatan-Nya. Dalam kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan, manusia beserta seluruh makhluk yang menghuni jagad raya itu adalah hamba-hamba-Nya dan mesti tunduk pada kehendak-Nya. Sementara berkaitan dengan keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia memiliki peran khusus yang harus dimainkan. Manusia diciptakan dalam citra Allah, sehingga hanya manusia saja yang mempunyai kualitas ciptaan sekaligus pencipta. Manusia memiliki sifat-sifat seperti semesta, tetapi juga memiliki kehendak layaknya Tuhan. Oleh karenanya, hanya manusia sajalah yang sanggup menjadi wakil (khalifah) Allah di muka bumi.

Hamba Sekaligus Wakil-Nya

#Catatan 4

Kesungguhan dalam menggunakan nalar, akal sehat atau common sense, merupakan  jalan yang tepat dalam menggarap diri, menanggapi semesta, berinteraksi sosial, dan menyambung hubungan dengan Tuhan. Akal sehat tiada lain merupakan puncak anugerah Tuhan yang diberikan hanya untuk makhluk sebaik-baik ciptaan-Nya, yaitu kita umat manusia. Dunia binatang, sebaik-baik anugerah dari-Nya berupa hadirnya dorongan nafsu. Dunia tetumbuhan, berupa kemampuan untuk tumbuh, beregenerasi. Sementara benda-benda mati, batu, pasir, udara, air, hingga bintang-bintang di angkasa, galaksi-galaksi, hanya memiliki potensi, memiliki muatan nilai keberadaan, yang suci, murni. Benda-benda mati itu suci, potensi di baliknya masih bebas nilai, tergantung sifat si pemakainya.

Bara Api Common Sense

#Catatan 3

Perilaku individualis, yang mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan kondisi orang lain, praktis menggejala di komplek Perumahan Bukit Asri II, dua tahun setelah saya tinggal menjadi salah satu penghuni tetapnya. Memang plus minus, sebagaimana sebelumnya saya katakan. Individualis, kata sifat yang berarti ‘perorangan’, ‘pribadi’, yang mengandaikan perorangan memiliki kedudukan utama. Setiap kepentingannya merupakan urusan yang tertinggi. Sekali lagi, tidak hitam putih, tetapi yang tepat adalah plus minus. Ada kelebihan sekaligus kekurangan yang menghinggapinya.

Selasa, 06 Januari 2015

Hukum Plus Minus

#Catatan 2

Melakoni ketidakwajaran. Menempuh jalan yang tak wajar, yang tak lazim, bukan perkara mudah. Yang tak wajar berarti kesendirian. Kecil kemungkinan orang lain tertarik untuk menirunya. Terlebih lagi di tengah semangat rasa kolektivitas warga perumahan baru. Tahun 2008, Perumahan Bukit Asri II, tempat saya tinggal, masih terhitung baru. Hanya 9 (sembilan) kepala keluarga yang menghuni. Lantaran kebaruannya, maka jiwa korsa, rasa kebersamaan masih kental. Segalanya dibicarakan dan diangkat bersama-sama. Seperti masalah air, yang tak lancar, kami bereskan secara jamaah. Kami datangi ramai-ramai pengembang. Sehingga air pun lancar sampai sekarang. Belum lagi masalah jalan yang masih becek, akibat belum dipaving. Resolusinya, kembali kami menggeruduk pengembang.

Melakoni Ketidakwajaran

#Catatan 1

Kacamata disini, saya maksudkan sebagai catatan yang mencoba menekuni apa-apa yang sudah dan sedang terjadi, dengan perangkat lensa cara pandang yang menormalkan atau mempertajam penglihatan. Tentu saja, lensa cara pandang ini bersifat subjektif. Tidak bisa dijadikan acuan objektif sebagai teori yang tepat untuk semua. Subjektif tersebut, sebagai wujud keterbatasan saya dalam memandang persoalan, sehingga, barangkali hanya tepat untuk saya dan keluarga, bahkan bisa jadi hanya pas untuk diri saya sendiri. Semoga dalam keterbatasan ini, secara ilmu maupun cara pemaparan, tetap ada manfaatnya. Kalau pun tidak bermanfaat, semoga saja tidak mengundang masalah. 

Ayo, nikmati saja, sembari nongkrong dimana pun saja kita berada. Sembari menikmati sajian keadaan maupun kenyataan yang melanda masing-masing kita. Usah risau dengan yang akhir, apa pun itu, termasuk dalam mencandai catatan ini. 

Masalah Mitos

Telah disebutkan bahwa mitos ialah abstraksi dari yang konkret. Menghindari yang konkret, memasuki yang abstrak.  Kesadaran nilai, iman, dan pengertian-pengertian  itu abstrak, merupakan sisi dalam, penting untuk pengembangan awal, membentuk kepribadian. Membentuk kepribadian, membangun diri musti dari yang abstrak, yaitu kesadaran nilai. Bukan terlebih dahulu dengan yang konkret, kepentingan material. Tetapi giliran melayani kepentingan sosial, menolong kebutuhan orang lain, atau hendak berbuat kebajikan, sisi luar yang konkret, kebutuhan ekonomilah yang diperlukan. Yang abstrak tidak dibutuhkan lagi. Dari sini jelas, saat apa musti berlaku abstrak, dan kepada siapa musti menawarkan yang konkret. Abstrak adalah ranah dalam, membentuk pribadi, membangun internal, sedang yang konkret adalah penawaran nilai perolehan kepada eksternal, pada orang lain. Abstrak untuk internalisasi, mencipta realitas subjektif dan realitas simbolik, sementara yang konkret untuk eksternalisasi, mencipta realitas objektif.

Senin, 05 Januari 2015

2015 Tanpa Mitos

Tahun 2015 ! Kaki kita kini sudah menjejakkan langkah di tahun 2015. Ada kisah yang sudah terlewat pada tahun sebelumnya. Lenyap tak berbekas hingga memasuki tahun yang berbeda. Namun ada juga yang terselip, masih terus mengekor, setia bertahan hingga sekarang. Saya mencatat salah satu yang menyelip itu adalah “mitos”. Tahun-tahun sebelumnya, warna budaya dan politik negeri ini tidak jauh dari mitos. Budaya naga dina, hari kurang baik, bercokol kuat di benak masyarakat, terutama Jawa, lebih spesifik lagi Jawa Tengah, masuk yang lebih khusus, Solo sekitarnya.