Pernah suatu pagi, dalam
perjalanan naik sepeda motor dari Sragen ke Ungaran, ketika masuk kota Salatiga
ada operasi razia kendaraan motor samping pos polisi. Langsung hati berdetak
kencang, karena pada saat itu saya belum ber-SIM. Sudah tanggung, mau memutar
balik tidak mungkin karena satu arah. Hanya bisa pasrah. Rapal doa-doa tak
henti seiring jalan sepeda yang kian mendekat dengan rombongan polisi. Polisi muda
mendekat dan barangkali karena melihat raut muka saya yang tegang, dia tampak
ramah saat meminta saya untuk menunjukkan kelengkapan surat-surat. Ramah dan
memberi hormat, namun tetap saja saat itu saya jengkel padanya. Jengkel mengutuk
diri, lantaran tak memiliki SIM. Jengkel kenapa saya tak waspada kalau mau ada
operasi. Jengkel kenapa saya tidak mengulur waktu menunda keberangkatan,
sehingga selamat dari sergapan polisi. Jengkel kenapa saya tidak tiba di tempat
operasi itu satu jam sebelumnya. Campur aduk kesal menyalahkan diri yang terus
berkecamuk, sembari menunjukkan STNK dan KTP.
Sabtu, 31 Januari 2015
Kamis, 29 Januari 2015
Semoga BW Terbebas
Sebetulnya saya tak begitu
menyukai perdebatan politik. Politik dan pelbagai intrik yang mengelilinginya,
bukan ranah keseharianku. Saya bukan politisi, terlebih lagi seorang pejabat
publik yang kental aroma trik dan permainan uangnya. Ayah dan ibu saya juga
dari kalangan jelata, yang jelas sama sekali buta dengan isu-isu yang laris
dalam pemberitaan. Terlebih istriku, malah eneg mendengarnya. Ringkasnya, kami
sekeluarga bukan dari kalangan berada yang berasal dan menggemari politik.
Tetapi, entah kenapa jluntrungannya, ketika akhir-akhir ini marak dalam
pemberitaan tentang perseteruan KPK versus Polri, saya dan istri, tiba-tiba saja
jadi mania mengikuti acara debat dan talk show yang mengetengahkan pertarungan
dua institusi tersebut. Saya jadi intens menikmati sajian perbincangan yang
mengupas sebab musabab “cicak vs buaya” jilid III. Acara “Satu Meja” Ira
Koesno, “Mata Najwa” Najwa Shihab, “Kompasiana” Cindi Sistyarani, mendadak jadi
program favorite istri. Sehingga anak-anak terpaksa mengalah dari kebiasaan melototi
“On the Spot” Trans 7. Sebuah program acara yang menampilkan keunikan,
keanehan, dan keajaiban-keajaiban alam maupun peristiwa.
Senin, 12 Januari 2015
Fasad Fi Al-Ardh, Musuh Islam
#Catatan 16
Terkait kebebasan beragama, masih
menjadi isu yang sensitif di negeri khatulistiwa ini. Kebebasan beragama dan
kepercayaan, terasa mewah dan tak terjangkau oleh kalangan luas umat Islam.
Turunan dari kebebasan beragama dan kepercayaan adalah pluralisme, yaitu
penghargaan atas keragaman keyakinan, keunikan agama. Sebetulnya masalah
keberagaman, kemajemukan bukan hal baru bagi masyarakat yang menghuni negeri
ini. Sedari awal, Indonesia merupakan negeri yang majemuk, terdiri dari etnis,
suku, bahasa, dan kepercayaan yang beragam. Para pendiri bangsa ini mengakui
hal itu, dan Pancasila merupakan wujud dari keragaman tersebut. Pancasila
adalah objektifikasi dari segenap agama yang ada. Pancasila, dengan terhapusnya
tujuh kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi “Yang Maha Esa”, mempertegas keberadaannya
yang bukan monopoli Islam. Nilai-nilai dari setiap agama terwakili oleh kelima
sila Pancasila. Bahkan dalam UUD 1945, masalah kebebasan beragama sangat
ditekankan.
Minggu, 11 Januari 2015
2015, Semoga
#Catatan 15
Kita menginjakkan kaki pada angka
tahun 2015. Upaya menyerap sifat-sifat Tuhan, kemudian mencerminkan dan aktual
sebagai kenyataan, kiranya yang patut terus kita usahakan. Segenap ikrar,
sumpah setia, terutama pada diri sendiri, telah terukir dalam relung sanubari
masing-masing. Serius mengenali diri, tiada henti membaca makna di balik
fenomena, dan mengenali wajah Tuhan, akan terus menjadi proses introspeksi diri
yang akurat. Termasuk si faqir ini. Sedari awal, saya memaparkan catatan-catatan
ini, tak lain karena kepingin ikut menggenapkan
diri masuk ke dalam deretan para pengusung gagasan Islam Moderat. Meminjam
istilah dari Khaled Abou El Fadl, dalam buku terbarunya “Selamatkan Islam dari Muslim Puritan” (Serambi, 2006), terdapat dua
jenis Islam: Islam Moderat dan Islam Puritan. Dalam buku tersebut, Khaled
menunjukkan terbelahnya Islam dalam dua kutub ketika menanggapi isu: Tuhan dan
tujuan penciptaan, watak hukum dan moralitas, pendekatan terhadap sejarah dan
isu kemodernan, demokrasi dan hak asasi, interaksi dengan non-Muslim dan konsep
keselamatan, jihad dan terorisme, serta (terakhir) peran perempuan dalam Islam.
Mencintai Tuhan, Mencerminkan Sifat-sifat-Nya
#Catatan 14
Nabi Muhammad mengisyaratkan
banyak sekali amalan-amalan yang bisa kita kerjakan dalam rangka meneguhkan
eksistensi diri. Termasuk raut muka yang penuh senyum, tak bermuka masam pada
siapa saja, bisa merupakan amalan yang mengokohkan eksistensi. Namun hal itu tentu
saja kita lakukan dengan tulus bukan kepura-puraan. Demikian juga dalam
bertuhan. Sebagaimana dalam catatan sebelumnya, bisa saja kita rajin beribadah
ritual, tak ketinggalan membayar zakat, puasa ramadhan, hingga ibadah haji, namun
kita terjebak pada penipuan diri. Kita show
of force tentang kebajikan padahal sebatas pemujaan diri seraya
berpura-pura peduli. Itulah pentingnya introspeksi dan pengenalan diri secara
kritis.
Introspeksi Kritis Atas Diri
#Catatan 12
Meniru akhlak Tuhan itu terkait
dengan pemahaman tentang Tuhan dan tujuan penciptaan. Sekadar mengulang, tujuan
penciptaan manusia tak lain adalah ibadah. Sebagian kalangan memahami ibadah
sebagai praktik ritual. Sehingga totalitas ketundukan pada Tuhan diwujudkan
dalam bentuk praktik ritual. Semakin ketat dan sempurna dalam menjalankan
ritual, dianggap telah meraih kesempurnaan ibadah. Yang otomatis dekat dengan
Tuhan dan kelak bakal mendapatkan hadiah surga. Lantaran ketundukan pada Tuhan
bergantung pada praktik ritual yang benar, ketundukan tidak dimungkinkan bagi
orang-orang yang tidak menerima Islam. Oleh karenanya, hanya dengan menjadi
muslim, seseorang mendapatkan kesempatan untuk tunduk pada Tuhan.
Awal Untuk Meniru Akhlak Allah
#Catatan 11
“Berakhlaklah kamu dengan akhlak
Allah.” Begitulah sabda Nabi Muhammad SAW, yang seakan hendak menegaskan
pertanyaan bagaimana dan apa rujukan akhlaqul
karimah ? “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja
kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma’ul Husna)” (Al-Isra’ [17]: 110).
Menyeru atau lazim diterjemahkan berdoa di sini adalah menarik sifat atau dapat
juga suatu perbuatan Allah ke dalam diri kita. Mereplika perilaku Tuhan ke
dalam diri untuk aktual menjadi orangnya Tuhan. Jadi meng-Allah. Dalam idiom
Jawa disebutkan “Ngalah luhur wekasane”, yang konon kata ngalah bukan dari kata
kalah, melainkan dari kata nga-Allah yang berarti menuju ke Allah. Yang berarti
manunggal atau menyatu diri dengan perilaku Tuhan.
Sabtu, 10 Januari 2015
Agama Budi Pekerti
#Catatan 10
“Sesungguhnya agama di sisi Allah
ialah Islam” (Ali Imran [3]: 19) dan ayat “Sungguh yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (Al-Hujurat [49]: 13). Kalau
disandingkan “agama” dengan “yang paling mulia di antara kamu”, jelaslah bahwa
agama merupakan sisi luaran atau yang kelihatan dari manusia. Dari dalam diri
manusia yag tersembunyi dan merupakan rambu-rambu yang akan selalu
mengingatkannya adalah hati nurani. Hati nurani ialah kepribadian seseorang. Dus
dengan demikian agama, sesungguhnya merupakan pelembagaan hati nurani. Hati
nurani yang privat, individual, dan tersembunyi, yang menandakan kepribadian, oleh
adanya pelembagaan, yaitu agama, menjadi terbuka, menyentuh publik. Sehingga
saya tak sepakat kalau dikatakan bahwa agama itu urusan pribadi. Padahal
tidaklah demikian. Yang pribadi itu hati nurani. Yang akan mengontrol manusia
secara pribadi itu suara hati nurani.
Humanitarianisme
#Catatan 9
Humanisasi dari kata humanis, dari kata latin humanus yang berarti bersifat manusiawi, sesuai dengan kodrat manusia. Jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia; menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Dalam pandangan humanistis, manusia itu bermartabat luhur, dan berpotensi tinggi. Namun demikian, bagi beribu, mungkin berjuta manusia, tertutup oleh keadaan serba kekurangan, kemiskinan, tertekan, tertindas, dan terbelenggu. Sehingga potensi dan keluhuran manusia menjadi suram. Kondisi sosial telah berhasil menenggelamkannya. Bahkan dewasa ini, dengan kemajuan era digital, serba online, keluhuran manusia kian tercabik, kemiskinan dan kesenjangan kian meluas.
Humanisasi dari kata humanis, dari kata latin humanus yang berarti bersifat manusiawi, sesuai dengan kodrat manusia. Jadi humanisasi artinya memanusiakan manusia; menghilangkan “kebendaan”, ketergantungan, kekerasan, dan kebencian dari manusia. Dalam pandangan humanistis, manusia itu bermartabat luhur, dan berpotensi tinggi. Namun demikian, bagi beribu, mungkin berjuta manusia, tertutup oleh keadaan serba kekurangan, kemiskinan, tertekan, tertindas, dan terbelenggu. Sehingga potensi dan keluhuran manusia menjadi suram. Kondisi sosial telah berhasil menenggelamkannya. Bahkan dewasa ini, dengan kemajuan era digital, serba online, keluhuran manusia kian tercabik, kemiskinan dan kesenjangan kian meluas.
Jumat, 09 Januari 2015
Kiblat Shalat Humanisasi
#Catatan 8
Adalah teks suci Al-Isra’ [17] :
1, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam
hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.”,
merupakan penegasan akan perlunya melakukan safari internal. “Allah
memperjalankan hamba-Nya”, menunjukkan subjek kehidupan ini adalah Allah. Allah
sebab segala sesuatu di alam semesta. Allah yang memperjalankan, dan kita
(segenap para hamba) diperjalankan. Allah subjek, kita adalah objek. Pada “malam
hari”, artinya dunia tempat kita berpijak dalam kondisi gelap, tidak jelas
petanya. Sebagai objek tiada cara yang patut dilakukan selain menurut dengan
kehendak sang subjek, agar selamat sampai tujuan.
Kamis, 08 Januari 2015
Menarik Ego Umat
#Catatan 7
Pagi selalu menjanjikan harapan. Seiring
cahaya matahari yang mengintip di ufuk, saat itu pula impian-impian semalam
buyar, dan hendak diwujudkan. Mewujudkan impian, menyatakan cita-cita. Dan itu
dimulai pagi hari. Ya, pagi memang menjanjikan. Setiap kita bersiap untuk
mengukur ruang, bersafari eksternal menumpang waktu. Safari eksternal ? Safari
atau perjalanan melongok keluar, berlepas dari ikatan diri untuk menghimpun dan
menawarkan perolehan. Safari eksternal adalah wujud empati sosial kita, dari
institusi terkecil keluarga hingga meluas yang bersinggungan dengan political society. Safari eksternal
merupakan eksternalisasi maupun objektifikasi atas keyakinan internal yang
tertanam dalam di kedalaman sanubari kita.
Semesta Diri
#Catatan 6
Dalam serial epik Mahabharata,
sering dibicarakan tentang harga diri. Seorang Bisma, demi menjaga martabat
Santanu dan Hastinapura, rela membujang seumur hidup dan menarik diri dari
kedudukan putra mahkota. Pandawa lima putra Pandu, juga demikian. Mereka selalu
mengalah oleh perilaku curang saudara mereka Kurawa, rela mengasingkan diri ke
hutan, membangun tahta Indraprasta. Karna, Raja Angga, tak kalah istimewa
dengan Arjuna. Karna, meski berpihak pada Duryodhana, tetapi ia tahu betul bahwa
memegang kata-kata, sekalipun harus bermusuhan dengan saudara-saudaranya, harus
dijaga seutuh hidup hingga ajal menjemput. Itulah serial Mahabharata, yang
versi asli India, jauh lebih menggugah ketimbang versi Jawa. Saya dan istri
menuntaskan serial tersebut, tak jarang, kami sering kali terpaksa menitikkan
air mata, lantaran haru dengan ceritanya yang menghentak perasaan. Ibu Kunti,
yang bertahun-tahun menjaga rahasia, tentang identitas asli Karna, demi nama
baik Pandawa, anaknya, dan Pandu,
suaminya. Ya, Ibu Kunti sedia bertahun-tahun dalam kesakitan sebagai pendosa.
Rabu, 07 Januari 2015
Martabat Kita: Iman dan Amal
#Catatan 5
Sachiko Murata dalam bukunya “The
Tao of Islam” memaparkan secara apik perihal peran dan fungsi hamba dan wakil
Tuhan. Dijelaskannya bahwa Tuhan Yang Esa dapat dilihat dari dua sudut pandang,
pertama, kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan. Kedua, keserupaan dan kedekatan-Nya.
Dalam kejauhan dan ketakterbandingan Tuhan, manusia beserta seluruh makhluk
yang menghuni jagad raya itu adalah hamba-hamba-Nya dan mesti tunduk pada
kehendak-Nya. Sementara berkaitan dengan keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia
memiliki peran khusus yang harus dimainkan. Manusia diciptakan dalam citra
Allah, sehingga hanya manusia saja yang mempunyai kualitas ciptaan sekaligus
pencipta. Manusia memiliki sifat-sifat seperti semesta, tetapi juga memiliki
kehendak layaknya Tuhan. Oleh karenanya, hanya manusia sajalah yang sanggup
menjadi wakil (khalifah) Allah di
muka bumi.
Hamba Sekaligus Wakil-Nya
#Catatan 4
Kesungguhan dalam menggunakan nalar, akal sehat atau common sense, merupakan jalan yang tepat dalam menggarap diri, menanggapi semesta, berinteraksi sosial, dan menyambung hubungan dengan Tuhan. Akal sehat tiada lain merupakan puncak anugerah Tuhan yang diberikan hanya untuk makhluk sebaik-baik ciptaan-Nya, yaitu kita umat manusia. Dunia binatang, sebaik-baik anugerah dari-Nya berupa hadirnya dorongan nafsu. Dunia tetumbuhan, berupa kemampuan untuk tumbuh, beregenerasi. Sementara benda-benda mati, batu, pasir, udara, air, hingga bintang-bintang di angkasa, galaksi-galaksi, hanya memiliki potensi, memiliki muatan nilai keberadaan, yang suci, murni. Benda-benda mati itu suci, potensi di baliknya masih bebas nilai, tergantung sifat si pemakainya.
Kesungguhan dalam menggunakan nalar, akal sehat atau common sense, merupakan jalan yang tepat dalam menggarap diri, menanggapi semesta, berinteraksi sosial, dan menyambung hubungan dengan Tuhan. Akal sehat tiada lain merupakan puncak anugerah Tuhan yang diberikan hanya untuk makhluk sebaik-baik ciptaan-Nya, yaitu kita umat manusia. Dunia binatang, sebaik-baik anugerah dari-Nya berupa hadirnya dorongan nafsu. Dunia tetumbuhan, berupa kemampuan untuk tumbuh, beregenerasi. Sementara benda-benda mati, batu, pasir, udara, air, hingga bintang-bintang di angkasa, galaksi-galaksi, hanya memiliki potensi, memiliki muatan nilai keberadaan, yang suci, murni. Benda-benda mati itu suci, potensi di baliknya masih bebas nilai, tergantung sifat si pemakainya.
Bara Api Common Sense
#Catatan 3
Perilaku individualis, yang
mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan kondisi orang lain, praktis
menggejala di komplek Perumahan Bukit Asri II, dua tahun setelah saya tinggal
menjadi salah satu penghuni tetapnya. Memang plus minus, sebagaimana sebelumnya
saya katakan. Individualis, kata sifat yang berarti ‘perorangan’, ‘pribadi’,
yang mengandaikan perorangan memiliki kedudukan utama. Setiap kepentingannya
merupakan urusan yang tertinggi. Sekali lagi, tidak hitam putih, tetapi yang
tepat adalah plus minus. Ada kelebihan sekaligus kekurangan yang
menghinggapinya.
Selasa, 06 Januari 2015
Hukum Plus Minus
#Catatan 2
Melakoni ketidakwajaran. Menempuh
jalan yang tak wajar, yang tak lazim, bukan perkara mudah. Yang tak wajar
berarti kesendirian. Kecil kemungkinan orang lain tertarik untuk menirunya.
Terlebih lagi di tengah semangat rasa kolektivitas warga perumahan baru. Tahun
2008, Perumahan Bukit Asri II, tempat saya tinggal, masih terhitung baru. Hanya
9 (sembilan) kepala keluarga yang menghuni. Lantaran kebaruannya, maka jiwa
korsa, rasa kebersamaan masih kental. Segalanya dibicarakan dan diangkat
bersama-sama. Seperti masalah air, yang tak lancar, kami bereskan secara
jamaah. Kami datangi ramai-ramai pengembang. Sehingga air pun lancar sampai
sekarang. Belum lagi masalah jalan yang masih becek, akibat belum dipaving. Resolusinya,
kembali kami menggeruduk pengembang.
Melakoni Ketidakwajaran
#Catatan 1
Kacamata disini, saya maksudkan sebagai catatan yang mencoba menekuni apa-apa yang sudah dan sedang terjadi, dengan perangkat lensa cara pandang yang menormalkan atau mempertajam penglihatan. Tentu saja, lensa cara pandang ini bersifat subjektif. Tidak bisa dijadikan acuan objektif sebagai teori yang tepat untuk semua. Subjektif tersebut, sebagai wujud keterbatasan saya dalam memandang persoalan, sehingga, barangkali hanya tepat untuk saya dan keluarga, bahkan bisa jadi hanya pas untuk diri saya sendiri. Semoga dalam keterbatasan ini, secara ilmu maupun cara pemaparan, tetap ada manfaatnya. Kalau pun tidak bermanfaat, semoga saja tidak mengundang masalah.
Ayo, nikmati saja, sembari nongkrong dimana pun saja kita berada. Sembari menikmati sajian keadaan maupun kenyataan yang melanda masing-masing kita. Usah risau dengan yang akhir, apa pun itu, termasuk dalam mencandai catatan ini.
Masalah Mitos
Telah disebutkan bahwa mitos
ialah abstraksi dari yang konkret. Menghindari yang konkret, memasuki yang
abstrak. Kesadaran nilai, iman, dan
pengertian-pengertian itu abstrak,
merupakan sisi dalam, penting untuk pengembangan awal, membentuk kepribadian. Membentuk
kepribadian, membangun diri musti dari yang abstrak, yaitu kesadaran nilai. Bukan
terlebih dahulu dengan yang konkret, kepentingan material. Tetapi giliran
melayani kepentingan sosial, menolong kebutuhan orang lain, atau hendak berbuat
kebajikan, sisi luar yang konkret, kebutuhan ekonomilah yang diperlukan. Yang abstrak
tidak dibutuhkan lagi. Dari sini jelas, saat apa musti berlaku abstrak, dan
kepada siapa musti menawarkan yang konkret. Abstrak adalah ranah dalam,
membentuk pribadi, membangun internal, sedang yang konkret adalah penawaran
nilai perolehan kepada eksternal, pada orang lain. Abstrak untuk internalisasi,
mencipta realitas subjektif dan realitas simbolik, sementara yang konkret untuk
eksternalisasi, mencipta realitas objektif.
Senin, 05 Januari 2015
2015 Tanpa Mitos
Tahun 2015 ! Kaki kita kini sudah
menjejakkan langkah di tahun 2015. Ada kisah yang sudah terlewat pada tahun
sebelumnya. Lenyap tak berbekas hingga memasuki tahun yang berbeda. Namun ada
juga yang terselip, masih terus mengekor, setia bertahan hingga sekarang. Saya mencatat
salah satu yang menyelip itu adalah “mitos”. Tahun-tahun sebelumnya, warna
budaya dan politik negeri ini tidak jauh dari mitos. Budaya naga dina, hari kurang baik, bercokol
kuat di benak masyarakat, terutama Jawa, lebih spesifik lagi Jawa Tengah, masuk
yang lebih khusus, Solo sekitarnya.
Langganan:
Komentar (Atom)