Sabtu, 28 Maret 2015
telah berlalu. Namun saya belum bisa menghilangkan lintasan peristiwa, dan semangat kawan-kawan yang berjibaku itu.
Sabtu adalah hari menjadi manusia, demikian saya sering menyebutnya. Dan
kenyataan memang demikian. Sebagian penghuni kompleks dimana saya tinggal,
Sabtu, dan terutama malam Minggu, merupakan waktu melepas penat atau
menanggalkan sesaat kondisi dirinya yang terpaksa jadi subordinat dari sistem
raksasa. Selain hari Sabtu dan malam Minggu, mayoritas menempuh diri sebagai
manusia mesin, yang berjalan bak robot, tak boleh lelah dan mesti tepat waktu
serta berlaku hukum efesien. Entah dengan kawan-kawanku itu. Apakah mereka juga
telah terjebak dengan sindrom Sabtu ? Saya tidak tahu pasti. Namun hari itu
memang sangat membekas, setidaknya bagi diriku.
Sabtu itu, tepatnya
ba’da Isya’, tanah tempat saya berteduh, diguyur hujan. Rasa cemas menyeruak,
jangan-jangan acara Reading Group batal dilaksanakan. Melihat langit begitu
suram dengan garangnya menurunkan air hujan. Walau saya tak bisa melawan kehendak
alam, yang bisa sesukanya menunda dan menurunkan hujan, tapi pada malam itu,
saya betul-betul berharap agar hujan tak berlangsung lama. Kasihan dengan
kawan-kawanku yang jauh dari ujung barat Kota Semarang (Ngalian) dan sebagian
yang tinggal sekitar Rumah Sakit Kariyadi, mesti berhujan-hujan dengan
berkendara sepeda motor. Ternyata, kekhawatiranku tak terjadi. Meski hujan,
kawan-kawan itu tetap nekat melintas, menerjang badai air meluncur ke gubugku.
Ada yang basah kuyub karena tak siap dengan jas hujan. Duuuhhhh...kalian itu,
bikin hati terenyuh.
Tepat pukul 21.00,
acara dimulai. Sebelas anggota RGK, termasuk diriku, berkumpul. Sedang istriku
menyiapkan sajian pengantar diskusi di belakang. Oleh Hasan Fuady, sang
koordinator Reading Group Kuntowijoyo, membuka acara dengan membagikan tiga
lembar fotocopian materi Kuntowijoyo. Tak sebagaimana pertemuan sebelumnya,
pembacaan teks per-alinea dimonopoli olehnya sendiri, pada malam itu ia
menggilir tiga orang untuk membacakan teks Kuntowijoyo. Hmmm...terobosan yang
menarik. Per-alinea dibaca, yang lain menyimak sembari coba memahami maksud isi
teks. Usai dibaca satu alinea, Hasan menyerahkan pada audiens, siapa yang mau
memberi tanggapan duluan. Dan satu per satu, tanggapan dan pertanyaan masuk,
saling bersautan. Sebagai yang dianggap tetua alias senior, saya coba membantu
sebisanya untuk menanggapi lontaran, menjawab pertanyaan. Demikian seterusnya
hingga persis pukul 23.30, tiga lembar teks bab “visi teologis Islam”
diselesaikan.
Dinamika diskusi yang
mengasyikan. Semua bebas untuk menyampaikan uneg-uneg pemahamannya atas isi
teks. Dan tak ada yang salah dalam memahami. Tapi bukan berarti semua benar. Kamus
salah benar, tak masuk kriteria dalam mendalami maksud isi teks. Reading Group
adalah upaya kesungguhan untuk memahami, mendalami isi teks, bukan pencarian
justifikasi benar salah.
Istriku, Rahma,
begitu usai acara, langsung ke belakang mengambil sajian yang telah ia siapkan
sebelumnya, di sela-sela pembacaan. Sajian ala kadar khas Rahma. Ngobrol santai
pun berlanjut, sembari menyeruput teh pahit dan tempe goreng sebagai pendorong.
Refleksi diskusi yang cair, namun tak mengurangi isi kedalaman. Bincang ngalor-ngidul tentang problem manusia
postmo, yang senyatanya tak begitu jauh dari kondisi modern. Sama-sama mengidap
kesuraman, absurditas, dan nihilisme. Manusia modern lahir dengan bentuk
perlawanannya untuk membebaskan diri dari keterkungkungan agama, dengan
menghadirkan science. Sementara kini
yang terjadi, teknologi yang konon hendak mempermudah laku, malah digugat
habis-habisan sebagai pembawa petaka. Teknologi tak memudahkan hidup, tapi
beralih jadi sumber bencana. Manusia terkurung dan kian menjauh dari nurani
akibat arogansi teknologi yang hendak memasung dan menjadikannya objek. Manusia
bukan lagi subjek teknologi, melainkan objek. Ah layaknya sihir dari negeri
maju, kita yang menghuni di negeri berkembang ini hanya sanggup membelalakkan
mata. Takjub dan cemas kalau tidak bisa memilikinya. Kita terhipnotis untuk
menjadi subsistem.
Kiranya tiada ada lagi
cara ampuh selain mengembalikan kesadaran akan diri sendiri. Dan Kuntowijoyo
dari balik tanah kuburnya, melalui teks yang ia tinggalkan, seakan mengingatkan
betapa absurd dan suramnya manusia hidup, jikalau menjauh dari keagungan wahyu.
Betapa tak berartinya menginjakkan kaki di muka bumi, andaikan berseberangan
dengan dimensi transendental. Singkatnya kita akan peroleh kemuliaan yang
agung, apabila sedia membersihkan diri sendiri secara terus-menerus. Yang tak
lain ialah kesediaan untuk bersyukur dan bersabar. Jika manusia barat
mengangankan kemajuan dengan kecanggihan teknologi yang material, sedang kita
sebaliknya didorong untuk mengarahkan pandangan pada spiritual, yaitu mencapai
ridha Allah.
Hehehe...bagaimana
kawan-kawan ? Minggu dini hari, 29 Maret 2015, teman-teman itu masih betah
untuk menghabiskan waktu dengan “saling mendongeng” pengantar tidur, hingga tak
terasa adzan subuh pun berkumandang. Ah, hari-hariku yang menyenangkan. Bersama
anak istri dan dikerubuti oleh kawan-kawan yang hendak memburu yang jati.
keren reading grupnya mas ardie...
BalasHapusMakasih Mbak Dewi....Mbak juga keren, lebih malah..
Hapus