Senin, 30 Maret 2015

Memburu Yang Jati



 
suasana Reading Group Kuntowijoyo (Sabtu, 28/3-'15)

Sabtu, 28 Maret 2015 telah berlalu. Namun saya belum bisa menghilangkan lintasan peristiwa, dan  semangat kawan-kawan yang berjibaku itu. Sabtu adalah hari menjadi manusia, demikian saya sering menyebutnya. Dan kenyataan memang demikian. Sebagian penghuni kompleks dimana saya tinggal, Sabtu, dan terutama malam Minggu, merupakan waktu melepas penat atau menanggalkan sesaat kondisi dirinya yang terpaksa jadi subordinat dari sistem raksasa. Selain hari Sabtu dan malam Minggu, mayoritas menempuh diri sebagai manusia mesin, yang berjalan bak robot, tak boleh lelah dan mesti tepat waktu serta berlaku hukum efesien. Entah dengan kawan-kawanku itu. Apakah mereka juga telah terjebak dengan sindrom Sabtu ? Saya tidak tahu pasti. Namun hari itu memang sangat membekas, setidaknya bagi diriku.


Sabtu itu, tepatnya ba’da Isya’, tanah tempat saya berteduh, diguyur hujan. Rasa cemas menyeruak, jangan-jangan acara Reading Group batal dilaksanakan. Melihat langit begitu suram dengan garangnya menurunkan air hujan. Walau saya tak bisa melawan kehendak alam, yang bisa sesukanya menunda dan menurunkan hujan, tapi pada malam itu, saya betul-betul berharap agar hujan tak berlangsung lama. Kasihan dengan kawan-kawanku yang jauh dari ujung barat Kota Semarang (Ngalian) dan sebagian yang tinggal sekitar Rumah Sakit Kariyadi, mesti berhujan-hujan dengan berkendara sepeda motor. Ternyata, kekhawatiranku tak terjadi. Meski hujan, kawan-kawan itu tetap nekat melintas, menerjang badai air meluncur ke gubugku. Ada yang basah kuyub karena tak siap dengan jas hujan. Duuuhhhh...kalian itu, bikin hati terenyuh.

Tepat pukul 21.00, acara dimulai. Sebelas anggota RGK, termasuk diriku, berkumpul. Sedang istriku menyiapkan sajian pengantar diskusi di belakang. Oleh Hasan Fuady, sang koordinator Reading Group Kuntowijoyo, membuka acara dengan membagikan tiga lembar fotocopian materi Kuntowijoyo. Tak sebagaimana pertemuan sebelumnya, pembacaan teks per-alinea dimonopoli olehnya sendiri, pada malam itu ia menggilir tiga orang untuk membacakan teks Kuntowijoyo. Hmmm...terobosan yang menarik. Per-alinea dibaca, yang lain menyimak sembari coba memahami maksud isi teks. Usai dibaca satu alinea, Hasan menyerahkan pada audiens, siapa yang mau memberi tanggapan duluan. Dan satu per satu, tanggapan dan pertanyaan masuk, saling bersautan. Sebagai yang dianggap tetua alias senior, saya coba membantu sebisanya untuk menanggapi lontaran, menjawab pertanyaan. Demikian seterusnya hingga persis pukul 23.30, tiga lembar teks bab “visi teologis Islam” diselesaikan.

Dinamika diskusi yang mengasyikan. Semua bebas untuk menyampaikan uneg-uneg pemahamannya atas isi teks. Dan tak ada yang salah dalam memahami. Tapi bukan berarti semua benar. Kamus salah benar, tak masuk kriteria dalam mendalami maksud isi teks. Reading Group adalah upaya kesungguhan untuk memahami, mendalami isi teks, bukan pencarian justifikasi benar salah.

Istriku, Rahma, begitu usai acara, langsung ke belakang mengambil sajian yang telah ia siapkan sebelumnya, di sela-sela pembacaan. Sajian ala kadar khas Rahma. Ngobrol santai pun berlanjut, sembari menyeruput teh pahit dan tempe goreng sebagai pendorong. Refleksi diskusi yang cair, namun tak mengurangi isi kedalaman. Bincang ngalor-ngidul tentang problem manusia postmo, yang senyatanya tak begitu jauh dari kondisi modern. Sama-sama mengidap kesuraman, absurditas, dan nihilisme. Manusia modern lahir dengan bentuk perlawanannya untuk membebaskan diri dari keterkungkungan agama, dengan menghadirkan science. Sementara kini yang terjadi, teknologi yang konon hendak mempermudah laku, malah digugat habis-habisan sebagai pembawa petaka. Teknologi tak memudahkan hidup, tapi beralih jadi sumber bencana. Manusia terkurung dan kian menjauh dari nurani akibat arogansi teknologi yang hendak memasung dan menjadikannya objek. Manusia bukan lagi subjek teknologi, melainkan objek. Ah layaknya sihir dari negeri maju, kita yang menghuni di negeri berkembang ini hanya sanggup membelalakkan mata. Takjub dan cemas kalau tidak bisa memilikinya. Kita terhipnotis untuk menjadi subsistem.

Kiranya tiada ada lagi cara ampuh selain mengembalikan kesadaran akan diri sendiri. Dan Kuntowijoyo dari balik tanah kuburnya, melalui teks yang ia tinggalkan, seakan mengingatkan betapa absurd dan suramnya manusia hidup, jikalau menjauh dari keagungan wahyu. Betapa tak berartinya menginjakkan kaki di muka bumi, andaikan berseberangan dengan dimensi transendental. Singkatnya kita akan peroleh kemuliaan yang agung, apabila sedia membersihkan diri sendiri secara terus-menerus. Yang tak lain ialah kesediaan untuk bersyukur dan bersabar. Jika manusia barat mengangankan kemajuan dengan kecanggihan teknologi yang material, sedang kita sebaliknya didorong untuk mengarahkan pandangan pada spiritual, yaitu mencapai ridha Allah.

Hehehe...bagaimana kawan-kawan ? Minggu dini hari, 29 Maret 2015, teman-teman itu masih betah untuk menghabiskan waktu dengan “saling mendongeng” pengantar tidur, hingga tak terasa adzan subuh pun berkumandang. Ah, hari-hariku yang menyenangkan. Bersama anak istri dan dikerubuti oleh kawan-kawan yang hendak memburu yang jati.  

2 komentar: