Jumat, 13 Februari 2015

Air Yang Tak Mengalir

Air sumur artetis komplek perumahan tempat Rakhe tinggal sudah dua hari ini tak mengalir. Petaka bagi segenap penghuni perumahan, terlebih lagi Rakhe, yang tak memiliki bak tandon air di rumahnya. Kalau Jakarta dan kota-kota besar lainnya saat ini sedang terkepung air banjir, tidak demikian di tempat Rakhe. Rakhe harus menghemat air di bak kamar mandinya. Ya, sebetulnya bagi Rakhe pribadi tidak begitu ribet, karena ia memang jarang mandi. Tapi bagaimana dengan Ahimsa, yang tak tahan keringat nempel, dan sehari mesti mandi dua kali ? Bagaimana pula dengan beberapa tetangganya yang senasib dengannya yang sama-sama tak memiliki bak tandon ?

Kamis, 12 Februari 2015

Paham Bhinneka

Agenda bersama Of the Book, bikin Rakhe makin mantap dengan obsesinya tentang kontekstualisasi Islam. Ia tak muluk dengan rencananya itu. Awal ini yang ia lakukan adalah mengumpulkan bahan bacaan yang berhubungan dengan gagasan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ia telah dapatkan puluhan judul buku yang berkaitan dengan Islam moderat. Buku-bukunya Khaled Abou El Fadl, salah satu favoritnya, selain tentunya Ulil Abshar, dan tokoh-tokoh Paramadina. Isa, sang kakak, telaten menemani Rakhe dalam mewujudkan obsesinya. Berkaitan dengan ide gagasan, kakak adik itu memang tak ada perbedaan. Keduanya sama-sama memuja pluralisme dan anti puritanisme. Bedanya hanya masalah style. Isa lebih sabar dan tenang ketimbang Rakhe dalam menghadapi persoalan. Isa juga cenderung nrimo alias pasrah atas sesuatu yang kurang berkenan. Sedang Rakhe, keras kepala tak mau mengalah atas keyakinan yang dipercayainya. Pasangan kakak beradik yang saling melengkapi.

Rabu, 11 Februari 2015

Mengusung Islam Moderat

Tak seperti biasanya, pagi itu, Rakhe nampak sibuk. Ia beres-beres rumah. Buku-buku yang berserakan ditata rapi. Rak buku yang di teras dipindah ke dalam rumah. Isa sempat kaget, kesambet apa ini sang adik, yang tak biasanya rapikan buku. Soalnya selama ini untuk urusan merapikan perabot rumah, menata buku-buku adalah kebiasaan si Isa. Sedangkan Rakhe hanya baca-baca buku saja, dan sesekali menulis opini di blog pribadinya. “Kak ! Buku Ulil yang ‘Menjadi Muslim Liberal’ mana ya ?” teriak Rakhe kemudian, usai memilah-milah buku yang akan digelar di perpustakaan.

'Of the Book'

Bermula dari kesepahaman yang sama soal pentingnya memelihara tradisi baca, menghargai karya tulis buku, maka lahirlah gagasan tentang Conference of the Book. Gagasan yang diprakarsai oleh kakak adik, Isa dan Rakhe itu mengadaptasi dari salah satu judul buku Khaled Abou El Fadl “Musyawarah Buku”, Serambi, 2002. Kakak beradik itu, menempati rumah tipe 29, sebuah perumahan sederhana yang persis di lereng Gunung Ungaran, Kota Ungaran, Kabupaten Semarang. Baik Isa maupun Rakhe, tak mengangankan Conference of the Book (of the Book) itu sebagai lembaga swadaya masyarakat, meski konsen pada pemeliharaan tradisi baca di tengah masyarakat. Of the Book juga bukan jenis lembaga pendidikan informal, yang kini marak di masyarakat, yang lagi demam ramai-ramai bikin Taman Bacaan Masyarakat (TBM) maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Of the Book belum terdaftar dan memang dari Isa maupun Rakhe sendiri, sama sekali tak menginginkan menjadikan ‘of the Book’ sebagai TBM apalagi PKBM. Of the Book sebatas gagasan saja yang sesekali bikin aksi kecil-kecilan tentang pemeliharaan tradisi baca. Aksi yang berangkat dari keprihatinan mereka berdua atas semangat baca anak-anak lingkungan sekitar yang tak terkelola dengan baik, akses baca buku yang kurang. Sebagai aksi, barangkali mirip dengan kinerja perpustakaan, yaitu melayani pinjam dan baca buku. Tetapi untuk disebut sebagai perpustakaan jelas belum memadai, lantaran koleksi buku yang tersedia di markas ‘of the Book’ masih terhitung sedikit, masih dibawah seribu judul.

Jokowi Jangan Kau Ragu

Situasi politik yang mengelilingi kehidupan negeri ini makin panas. Dan ini yang akan jadi test case bagi Jokowi dalam memimpin Indonesia, baik sebagai kepala negara maupun kepala pemerintahan. Bila ia gagal bertindak tegas mengatasi kisruh KPK Vs Polri, maka kepercayaan surplus publik sebelum ia menduduki istana akan berbalik jadi surplus ketidakpercayaan. Publik yang sebelum pemilu menaruh harapan besar ke pundaknya, nanti berbalik akan mencabut kepercayaannya. Kisruh yang membelit dua institusi penegak hukum itu telah menyita perhatian Rakhe akhir-akhir ini. Rakhe meyakini kasus yang kini mendera KPK adalah rekayasa sistematis untuk menghancurkan aparat hukum yang teguh melawan mafia koruptor. Bagaimana pun, KPK adalah yang terpercaya ketimbang Polri maupun kejaksaan dalam melawan perilaku koruptif. Tradisi suap dan gratifikasi telah jadi rahasia umum, tumbuh subur di tubuh polri dan kejaksaan, tapi tidak demikian dengan KPK.

Senin, 09 Februari 2015

Dakwah MTA


Arus dakwah MTA (Majlis Tafsir Al-Qur’an) kian gencar saja. Sudah tak terbendung, terus meluas hampir seantero negeri. Binaan MTA dimana-mana. Siaran radio dakwahnya yang sebelumnya hanya bisa diperdengarkan untuk warga Solo Raya, kini sudah relay di kota-kota besar Indonesia. “Prestasi” yang patut diapresiasi. Nah, tak terkecuali dengan Rakhe. Sosok perantau yang tak pernah diam di satu tempat. Selalu berpindah dari majlis ke majlis, mazhab, dan terakhir kelompok keyakinan. Rakhe yang seorang perantau, dan kini ia merasa mantap telah menemukan pelabuhan terakhirnya, yaitu ikut berderet bersama kelompok muslim moderat.

Kamis, 05 Februari 2015

Visualisasi Pancasila

Garudaku, masihkah gagah di angkasa sana ?
Kumbakarna, adik Rahwana, menunjukkan kesetiannya pada Alengka. Ia yang punya kebiasaan tidur lama, bikin prajurit Alengka kesulitan untuk membangunkannya, sebelum maju perang melawan pasukan kera Sri Rama. Dan Kumbakarna mati di medan laga di tangan Laksmana. Kematian Kumbakarna, kematian yang setengah tak diharapkan oleh para bidadari surga. Ya, Kumbakarna, raksasa yang berhati putih, yang bersumpah setia untuk membela Alengka dari ancaman kehancuran. Kumbakarna gugur tidak dalam rangka memihak Rahwana, melainkan Alengka yang nyaris hancur. Kumbakarna selama hidupnya tak bersepakat dengan kebijakan Rahwana, namun ia rela mati demi negeri Alengka. Dalam konteks kita, ia sosok yang “right or wrong is my country.”