| Rakhe, Rahma, dan Ahimsa |
“Peliharalah
dirimu dan keluargamu dari api neraka....” demikian penggalan arti dari
surat At-Tahrim [66] ayat 6. Sabda Tuhan yang lumayan mengganggu pikiran,
terutama bagiku selaku kepala rumah tangga yang dipercaya oleh-Nya dengan
titipan dua bocah, Ahimsa dan Rakhe. Bak teror dari langit, ayat tersebut terus
terulang dan menyergap kesadaranku, bahwa ada yang mesti diperankan dalam berkeluarga.
Keluarga yang merupakan paduan dari dua suara yang beda, laki-laki dan
perempuan, hakikatnya sebagai
aktualisasi diri dalam ber-Tuhan. Kalam Ilahi tersebut seakan jadi penegas
bahwa sebelum berpikir dan berperilaku yang besar, terlebih dahulu mesti
sanggup membereskan yang kecil. Kecil, lingkup diri dan keluarga, merupakan
landasan bagi yang besar. Dasar untuk mengarungi samudera biru, menunaikan
tugas yang lebih berat dan besar selanjutnya.
Pelihara diri dan
keluarga, penegasan untuk menjalankan proses introspeksi kritis dan pengenalan
diri. Mengetahui objek sesungguhnya dari ketundukan dan identitas Tuhan yang
sebenarnya. Apakah yang disembah itu tuhan Allah atau tuhan keinginan akan
kepopuleran diri ? Menjalankan praktik ritual, dalam rangka mengabdi pada Tuhan
ataukah ketakutan akan kehilangan jabatan ? Takut jatuh miskin, takut tidak
terkenal, takut status sosialnya merosot, dan sebagainya. Kesadaran untuk
menjaga diri dari sengatan neraka adalah kesadaran terkait identitas diri,
tentang harga diri. Sudah tepatkah dalam membangun kesadaran ketuhanan ?
Demikian pula dalam
keluarga. Keluarga adalah institusi sosial yang paling kecil atau terendah
dalam pembentukan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa. Maju mundur suatu
negeri tak bisa dilepaskan dari keharmonisan masing-masing keluarga yang
menghuni negeri tersebut. Sementara menjaga diri, sebagai upaya membangun
kesadaran ketuhanan, maka memelihara keharmonisan sebuah keluarga adalah upaya
mengembangkan kesadaran bermasyarakat. Menghayati, mengalami, dan mendalami peran
serta fungsi sebagai orangtua merupakan dasar dalam menumbuhkembangkan
kesadaran kemanusiaan. Berbahagialah suatu negeri, dimana masyarakatnya
harmonis, lantaran keluarga-keluarga yang terhimpun di dalamnya penuh cinta
kasih orangtua atas diri anak, pun sebaliknya, anak-anak yang sedemikian
menghormati dan memahami otoritas orangtua.
Otoritas sebagai
orangtua, kini serasa benar-benar dalam pertaruhan. Model pendidikan yang
menempatkan anak sebagai pusat orientasi, nyaris tak terkendali dan tanpa
konsep matang. Lazim kita saksikan, anak-anak peserta didik yang tidak
mengetahui etika sopan santun terhadap para guru. Anak-anak tak menghormati kedudukan
orangtua. Dan yang tak kalah miris, para orangtua tak ambil pusing dengan
kondisi demikian. Dianggapnya sebagai gejala wajar, ciri modern, dan tidak
kolot. Seolah-olah orangtua malah bangga kalau anaknya tak memiliki karakter
dan etika moral, tidak patuh dan asal sendiko.
Dianggapnya anak-anak yang penurut, pendiam, tak punya gejolak dengan orangtua,
sebagai anak feodal, tidak maju. Anak yang ramah, tidak neko-neko, tidak suka bikin gaduh dengan sesamanya, seolah jadi
anak yang tidak membanggakan untuk dipamerkan pada yang lain, tidak menarik
untuk jadi bahan ngerumpi dengan
tetangga.
Tetapi bukan berarti,
anak-anak yang kreatif, penuh vitalitas, serba ingin tahu, itu sebagai pertanda
keburukan. Bukan demikian. Sebab yang jadi keprihatinan, bukan pada tingkah
polah anak yang penurut maupun yang kerap protes dan bertanya. Bukan yang
pendiam, tak banyak tingkah maupun yang agresif, kreatif dan terus mencoba. Keprihatinan yang mengusik
benak saya adalah para orangtua yang kehilangan otoritasnya sebagai orangtua.
Orangtua yang teriakan dan nasihatnya sudah tak lagi didengar oleh anak-anak.
Keprihatinan atas kondisi anak yang lebih senang mendengarkan nasihat dari
teman sebaya, lebih percaya dengan nasihat dari televisi, dari teman chatting, teman dugem, dan sebagainya. Benar-benar menyayat hati, ketika melihat anak-anak
yang asing dengan tradisi mencium tangan pada yang lebih tua.
Kondisi yang demikian
tak terlepas dari andil orangtua yang lebih menitikberatkan pada kesegaran
jasmani anak-anak semata. Kita, para orangtua, hanya fokus pada kebutuhan mencukupi
nutrisi ragawinya saja. Baik buruk tidak jadi pertimbangan. Persoalan emosi,
dan rasa, dinilai tak penting. Sebab yang utama adalah kecerdasan rasio, anak
pintar dan bagus nilai matematikanya, nilai pengetahuan alamnya, dan lancar
kemampuan bahasa asingnya.
| tak cukup dengan nutrisi tubuh |
Kembali pada “jaga diri
dan keluarga dari neraka”, merupakan rambu-rambu dari Tuhan, betapa harga diri
dan keluarga itu menentukan semuanya. Neraka dalam ayat tersebut, kita pahami
sebagai sisi dalam, sebagai kesadaran, bukan sisi material atau luaran.
Sehingga menjaga diri dan keluarga, tidak sekadar memenuhi kebutuhan sisi
material, memenuhi gizi makan anak-anak, mencarikan sekolah yang bonafit dan
bertaraf internasional. Tidak sebatas itu. Memenuhi kebutuhan material memang
perlu tetapi tidak mencukupi, karena bukan yang utama. Yang utama adalah sisi
dalam, sisi batin atau kesadaran. Pemahaman yang tepat atas kehidupan,
pemahaman tentang ketuhanan, tentang kemuliaan yang berbasis iman, tentang
perlunya memuliakan atau mengutamakan orang lain di atas kepentingan diri
sendiri, sebagai aktualisasi kesadaran kemanusiaan.
Menjaga diri sendiri
bukan berarti dengan menuruti keinginan diri sendiri, memenuhi hasrat pribadi,
melainkan dengan mengutamakan orang lain, dengan menepis hasrat sendiri demi
kebahagiaan pihak lain. Dengan mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri
sendiri. Pribadi yang demikian, kiranya yang bakal menyelamatkan diri dan
keluarga dari sengatan amarah Tuhan (neraka). Pribadi yang ringan tangan dengan
persoalan yang melilit orang lain. Pribadi yang tak acuh dengan masalah sosial,
lingkungan sekitarnya. Pendek kata, pribadi yang sanggup menunda kesenangannya
sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Anak-anak dituntun untuk tidak egois
dengan kesedihan yang menimpa sesamanya, diajari untuk peka, empati dengan yang
berbeda.
Ayat enam surat
At-Tahrim, jadi pengingat, sudahkah diri ini selaras dengan warga alam yang
selalu berlomba untuk mengulurkan kebaikan, menawarkan nilai yang dimilikinya
pada yang lain. Warga alam, mulai dari benda-benda mati, tetumbuhan dan
binatang, datang dan berada di tengah-tengah kita dengan melayani kebutuhan
kita. Bebatuan, pasir, udara, air, jelas membantu kelangsungan hidup manusia.
Begitu pula tumbuh-tumbuhan, telah menjaga nutrisi gizi dan kesehatan. Dan
binatang juga. Nah, akankah kebajikan warga alam yang hadir melayani kita itu
tidak kita teruskan dengan melayani kebutuhan warga sosial ? Akhirnya, menjaga
diri dan keluarga, tak lain merupakan upaya keseharian kita yang senantiasa sanggup
menjaga kesadaran ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan. Senantiasa menghadirkan
Tuhan, yang aktual dengan mendermakan potensi, kemampuan, hingga karier profesi
untuk kebaikan lingkungan sosial. Itulah !
| agar tak apatis dengan keriuhan sosial masyarakat [dok pribadi:alun-alun BK] |
Saya suka dengan pesan moralnya mas ardie dan yg paling saya suka dari kalimat ini "apakah yang disembah itu tuhan allah atau tuhan keinginan akan kepopuleran diri?" kalimat itu yg menurut saya paling jleb. Ini kalau misalkan dibikin cerpen dan ada tokoh dalam cerita mungkin pesan moralnya akan lebih hidup lagi hoho :) *maap saya juga masih newbie* hehehe
BalasHapussiiiip makasih ....tp sy belum biasa bikin cerpen...
HapusOk om salam kenal :)
BalasHapussalam kenal juga....
Hapus