Senin, 20 April 2015

Jaga Diri & Keluarga

Rakhe, Rahma, dan Ahimsa


 “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka....” demikian penggalan arti dari surat At-Tahrim [66] ayat 6. Sabda Tuhan yang lumayan mengganggu pikiran, terutama bagiku selaku kepala rumah tangga yang dipercaya oleh-Nya dengan titipan dua bocah, Ahimsa dan Rakhe. Bak teror dari langit, ayat tersebut terus terulang dan menyergap kesadaranku, bahwa ada yang mesti diperankan dalam berkeluarga. Keluarga yang merupakan paduan dari dua suara yang beda, laki-laki dan perempuan,  hakikatnya sebagai aktualisasi diri dalam ber-Tuhan. Kalam Ilahi tersebut seakan jadi penegas bahwa sebelum berpikir dan berperilaku yang besar, terlebih dahulu mesti sanggup membereskan yang kecil. Kecil, lingkup diri dan keluarga, merupakan landasan bagi yang besar. Dasar untuk mengarungi samudera biru, menunaikan tugas yang lebih berat dan besar selanjutnya.


Pelihara diri dan keluarga, penegasan untuk menjalankan proses introspeksi kritis dan pengenalan diri. Mengetahui objek sesungguhnya dari ketundukan dan identitas Tuhan yang sebenarnya. Apakah yang disembah itu tuhan Allah atau tuhan keinginan akan kepopuleran diri ? Menjalankan praktik ritual, dalam rangka mengabdi pada Tuhan ataukah ketakutan akan kehilangan jabatan ? Takut jatuh miskin, takut tidak terkenal, takut status sosialnya merosot, dan sebagainya. Kesadaran untuk menjaga diri dari sengatan neraka adalah kesadaran terkait identitas diri, tentang harga diri. Sudah tepatkah dalam membangun kesadaran ketuhanan ?  

Demikian pula dalam keluarga. Keluarga adalah institusi sosial yang paling kecil atau terendah dalam pembentukan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa. Maju mundur suatu negeri tak bisa dilepaskan dari keharmonisan masing-masing keluarga yang menghuni negeri tersebut. Sementara menjaga diri, sebagai upaya membangun kesadaran ketuhanan, maka memelihara keharmonisan sebuah keluarga adalah upaya mengembangkan kesadaran bermasyarakat. Menghayati, mengalami, dan mendalami peran serta fungsi sebagai orangtua merupakan dasar dalam menumbuhkembangkan kesadaran kemanusiaan. Berbahagialah suatu negeri, dimana masyarakatnya harmonis, lantaran keluarga-keluarga yang terhimpun di dalamnya penuh cinta kasih orangtua atas diri anak, pun sebaliknya, anak-anak yang sedemikian menghormati dan memahami otoritas orangtua.

Otoritas sebagai orangtua, kini serasa benar-benar dalam pertaruhan. Model pendidikan yang menempatkan anak sebagai pusat orientasi, nyaris tak terkendali dan tanpa konsep matang. Lazim kita saksikan, anak-anak peserta didik yang tidak mengetahui etika sopan santun terhadap para guru. Anak-anak tak menghormati kedudukan orangtua. Dan yang tak kalah miris, para orangtua tak ambil pusing dengan kondisi demikian. Dianggapnya sebagai gejala wajar, ciri modern, dan tidak kolot. Seolah-olah orangtua malah bangga kalau anaknya tak memiliki karakter dan etika moral, tidak patuh dan asal sendiko. Dianggapnya anak-anak yang penurut, pendiam, tak punya gejolak dengan orangtua, sebagai anak feodal, tidak maju. Anak yang ramah, tidak neko-neko, tidak suka bikin gaduh dengan sesamanya, seolah jadi anak yang tidak membanggakan untuk dipamerkan pada yang lain, tidak menarik untuk jadi bahan ngerumpi dengan tetangga.

Tetapi bukan berarti, anak-anak yang kreatif, penuh vitalitas, serba ingin tahu, itu sebagai pertanda keburukan. Bukan demikian. Sebab yang jadi keprihatinan, bukan pada tingkah polah anak yang penurut maupun yang kerap protes dan bertanya. Bukan yang pendiam, tak banyak tingkah maupun yang agresif, kreatif  dan terus mencoba. Keprihatinan yang mengusik benak saya adalah para orangtua yang kehilangan otoritasnya sebagai orangtua. Orangtua yang teriakan dan nasihatnya sudah tak lagi didengar oleh anak-anak. Keprihatinan atas kondisi anak yang lebih senang mendengarkan nasihat dari teman sebaya, lebih percaya dengan nasihat dari televisi, dari teman chatting, teman dugem, dan sebagainya. Benar-benar menyayat hati, ketika melihat anak-anak yang asing dengan tradisi mencium tangan pada yang lebih tua.

Kondisi yang demikian tak terlepas dari andil orangtua yang lebih menitikberatkan pada kesegaran jasmani anak-anak semata. Kita, para orangtua, hanya fokus pada kebutuhan mencukupi nutrisi ragawinya saja. Baik buruk tidak jadi pertimbangan. Persoalan emosi, dan rasa, dinilai tak penting. Sebab yang utama adalah kecerdasan rasio, anak pintar dan bagus nilai matematikanya, nilai pengetahuan alamnya, dan lancar kemampuan bahasa asingnya.   

tak cukup dengan nutrisi tubuh


Kembali pada “jaga diri dan keluarga dari neraka”, merupakan rambu-rambu dari Tuhan, betapa harga diri dan keluarga itu menentukan semuanya. Neraka dalam ayat tersebut, kita pahami sebagai sisi dalam, sebagai kesadaran, bukan sisi material atau luaran. Sehingga menjaga diri dan keluarga, tidak sekadar memenuhi kebutuhan sisi material, memenuhi gizi makan anak-anak, mencarikan sekolah yang bonafit dan bertaraf internasional. Tidak sebatas itu. Memenuhi kebutuhan material memang perlu tetapi tidak mencukupi, karena bukan yang utama. Yang utama adalah sisi dalam, sisi batin atau kesadaran. Pemahaman yang tepat atas kehidupan, pemahaman tentang ketuhanan, tentang kemuliaan yang berbasis iman, tentang perlunya memuliakan atau mengutamakan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, sebagai aktualisasi kesadaran kemanusiaan.

Menjaga diri sendiri bukan berarti dengan menuruti keinginan diri sendiri, memenuhi hasrat pribadi, melainkan dengan mengutamakan orang lain, dengan menepis hasrat sendiri demi kebahagiaan pihak lain. Dengan mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri. Pribadi yang demikian, kiranya yang bakal menyelamatkan diri dan keluarga dari sengatan amarah Tuhan (neraka). Pribadi yang ringan tangan dengan persoalan yang melilit orang lain. Pribadi yang tak acuh dengan masalah sosial, lingkungan sekitarnya. Pendek kata, pribadi yang sanggup menunda kesenangannya sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Anak-anak dituntun untuk tidak egois dengan kesedihan yang menimpa sesamanya, diajari untuk peka, empati dengan yang berbeda.

Ayat enam surat At-Tahrim, jadi pengingat, sudahkah diri ini selaras dengan warga alam yang selalu berlomba untuk mengulurkan kebaikan, menawarkan nilai yang dimilikinya pada yang lain. Warga alam, mulai dari benda-benda mati, tetumbuhan dan binatang, datang dan berada di tengah-tengah kita dengan melayani kebutuhan kita. Bebatuan, pasir, udara, air, jelas membantu kelangsungan hidup manusia. Begitu pula tumbuh-tumbuhan, telah menjaga nutrisi gizi dan kesehatan. Dan binatang juga. Nah, akankah kebajikan warga alam yang hadir melayani kita itu tidak kita teruskan dengan melayani kebutuhan warga sosial ? Akhirnya, menjaga diri dan keluarga, tak lain merupakan upaya keseharian kita yang senantiasa sanggup menjaga kesadaran ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan. Senantiasa menghadirkan Tuhan, yang aktual dengan mendermakan potensi, kemampuan, hingga karier profesi untuk kebaikan lingkungan sosial. Itulah !  

agar tak apatis dengan keriuhan sosial masyarakat [dok pribadi:alun-alun BK]
   


4 komentar:

  1. Saya suka dengan pesan moralnya mas ardie dan yg paling saya suka dari kalimat ini "apakah yang disembah itu tuhan allah atau tuhan keinginan akan kepopuleran diri?" kalimat itu yg menurut saya paling jleb. Ini kalau misalkan dibikin cerpen dan ada tokoh dalam cerita mungkin pesan moralnya akan lebih hidup lagi hoho :) *maap saya juga masih newbie* hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. siiiip makasih ....tp sy belum biasa bikin cerpen...

      Hapus