Selasa, 07 April 2015

Dewi Rieka, Inspirator KPU



Dewi Rieka, suhu sekaligus inspirator KPU



Saya pernah menggunakan istilah bintang guna melukiskan kehadiran tokoh-tokoh inspiratif dari masa lalu. Kenapa bintang ? Dan apa hubungannya dengan masa lalu ? Jarak bumi ke bintang-bintang tak bisa diukur hanya dengan menggunakan satuan ukur biasa (cm, m, dan km). Para astronom bersepakat menggunakan satuan ukur khusus, yaitu tahun cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang memiliki gerakan tercepat di alam semesta. Dalam satu detik, cahaya dapat bergerak sejauh 300.000 km. Satu tahun cahaya berarti cahaya yang bergerak selama satu tahun, yaitu  sejauh 9,46 triliun km. Jarak bintang paling jauh yang kini “kebetulan” sudah diketahui (artinya, kemungkinan yang belum diketahui masih banyak), adalah 11 miliar tahun.  Bayangkan betapa jauhnya, perjalanan cahaya selama jangka waktu 11 miliar tahun yang lalu untuk hari ini sampai ke lensa mata kita. Padahal umur manusia, rata-rata tak lebih dari 100 tahun.

Kesempatan ini, barangkali sebagai kelanjutan, saya akan menggunakan idiom bulan. Berbeda dengan bintang, bulan “hanya” berjarak dari bumi sejauh perjalanan cahaya satu setengah detik (kira-kira 385.000 km). Bulan yang terlihat pada detik ini, sama artinya 1,5 detik yang lalu muncul. Menandakan bahwa jarak bulan begitu dekatnya dengan bumi, dengan kita.  Maka bulan menjadi simbol masa kini, simbolisasi kedekatan jarak dan waktu. Kalau bintang untuk menandakan kehadiran tookoh-tokoh dari masa silam, maka bulan dipakai untuk menandakan kehadiran sosok inspiratif di sini dan kini.

Adalah Komunitas Penulis Ungaran, yang mau tak mau kehadirannya kini telah mencuri sebagian perhatian saya. KPU--maaf saya suka menyebutnya demikian—dibentuk sebagai harapan untuk mengasah kemampuan menulis, sekaligus mengumpulkan para penggila literasi dalam satu jamaah. Artinya keberadaan KPU tak akan berarti, sekiranya tanpa aktivitas menulis, tanpa kebersamaan. Padahal menulis, harus kita akui, belum menjadi menu utama kegiatan sehari-hari. Keseharian kita belumlah—untuk tidak mengatakan “bukan”-- menulis. Masih berjibun kendala teknis maupun psikis untuk tak menulis, untuk tak menghasilkan karya tulis. Di sana-sini, masih saja kita dengar pelbagai alasan, sebagai pembenar untuk tidak menulis. Ya, semisal: sibuk bekerja; repot mengurus keluarga; tak punya waktu senggang, dsb. Pun demikian dalam membangun kebersamaan. Tak semudah angan yang terus melayang. Sudah enam kali kopdar, enam kali pula yang datang tak bertambah, alias itu lagi itu lagi.

hehehe...para emak-emak yang lagi...


Saya mengalami dinamika KPU sedari awal terbentuk. Sepanjang pengalaman itu pula, saya menangkap sinyalemen yang salah kaprah, bahwa yang menjadi laten masalah adalah kemampuan menulis. Padahal jelas tidak demikian, terkait kemampuan menulis itu, tak ada jurus jitu selain menggairahkan kemauan untuk menulis. Kemampuan itu adalah materiil, sedang kemauan merupakan kesadaran. Meminjam teori dari Emile Durkheim, bahwa perubahan itu berangkat dari kesadaran (superstruktur) bukan material (struktur), dus dengan demikian, masalah menulis itu berawal dari kemauan dan kemampuan adalah muaranya.

Nah, dari situlah kehadiran sosok inspiratif menjadi utama. Sosok yang sanggup memantik semangat para penghuni KPU untuk terus-menerus membiasakan menulis. Menulis adalah perkara kemauan untuk biasa menorehkan coretan gagasan, bukan skill atau kemampuan bawaan lahir. Dan barangkali workshop-workshop seperti kursus menulis, sebetulnya tak diperlukan, sepanjang pembiasaan menulis itu terus digalakkan. Demikian juga dengan membangun ikatan kerjasama, tak mungkin wujud tanpa kemauan yang terus dipompa. Walau tingkat kesulitannya berbeda. Kebersamaan dalam KPU itu akan dengan sendirinya terjadi, jika persoalan menulis teratasi.

Sosok inspiratif dalam KPU tiada lain adalah Dewi Rieka. Ia yang tak bosan terus menyemangati para pemula untuk meluweskan jari-jemarinya dengan menulis. Pembiasaan menulis yang Dewi sarankan adalah melalui blog. Usai pengukuhan KPU bulan Oktober 2014 di KPAD, ia langsung menggulirkan pentingnya masing-masing anggota untuk memiliki blog pribadi. Menurutnya, dengan memiliki blog, maka aktivitas menulis akan meningkat, berarti pembiasaan akan terbangun. Melalui blog pula, para anggota tak perlu sungkan mengeluarkan kesaktiannya masing-masing untuk memamerkan karya tulisnya. Tak akan ada penilaian salah-benar dalam menjahit kata-kata di blog. Tak ada batasan maksimal kata yang mesti tersematkan di dalamnya. Pun juga tak ada tema wajib atau pokok KPU yang dialamatkan pada pengguna blog. Masing-masing bebaskan memilih tema, isu dan wacana yang menjadi minatnya.  Kalau pun ada tantangan menulis dengan tema tertentu, dimaksudkan sebagai rangsangan untuk memudahkan setiap kita dalam menuangkan kata, bukan lantas mengikatnya supaya terjebak dalam tema itu. Sehingga bukan temanya yang menjadi fokus KPU, melainkan pembiasaan menulis.

para orangtua yang momong anak-anak, sembari ngerumpi


Dewi pula yang selalu ngotot bahwa kebiasaan ngeblog tak ada ruginya. Menurutnya lagi, blog kini sedang diminati banyak kalangan. Seorang Raditya Dika, kini tenar dan banyak buku yang telah ia lahirkan, juga berawal dari ngeblog. Bahkan Dewi sendiri, lantaran hoby menggoreskan pena dalam blog pribadinya, kini terseret dalam pekerjaan tetap sebagai wartawan Hello Semarang. Ya, berkat seorang Dewi, kesalahpahaman tentang  blog yang pernah saya pelihara pun sirna. Saya pernah beranggapan bahwa ngeblog itu sekadar pelampiasan gundah, mencurahkan uneg-uneg galau yang penuh duka, dan seabrek animo negatif lainnya. Barangkali tak hanya saya yang beranggapan demikian. Dan ternyata anggapan tersebut salah besar. Menjadi blogger bisa menjadi karir profesional yang tak kalah bergengsinya dengan profesi guru dan PNS. Sungguh beruntung KPU memiliki suhu alias guru yang rewel seperti Dewi Rieka. Rewel terhadap anak didiknya yang malas-malasan untuk mengerjakan PR. Rewel pada para peserta didik yang tak kunjung mengumpulkan tugas tantangan. 

Pendek kata, saya ingin menandaskan KPU sebagai komunitas blogger. Komunitas penulis yang menjadikan blog sebagai lahan aktualisasi diri, lahan ekspresi. Dan hal itu saya dapatkan kala berbincang dengan Dewi Rieka. So, tiada kata yang patut terukir, selain Dewi Rieka adalah inspirator KPU. Dewi Rieka adalah rembulan yang mengitari tata gravitasi KPU...  

istilah blogger dimantapkan....


7 komentar:

  1. Go mak dew go!! :D
    Pak ketu:dr tulisan kliatsn de bacaannya..berbobot sekali.yeii..srg2 mampir ahh biar wawasannya nular..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe Hani...sama-sama ah,aku juga pingin ketularan alim kaya' sang misua yg ngangenin...

      Hapus
  2. sayang ya ga bis ikutan kopdar KPU,,,ketemu mbak dedew pas acara IIDN di pleburan Undip..hehe

    BalasHapus
  3. Waa..baru baca inii, jadi maluuu...ayo kita bergerak, ngga pa pa kok dikit, yang penting solid, saling dukung, saling menyemangati..aamiin seperti kata kang GG...semoga bisa lancar semua rencana kita ya mas ardi dan teman-teman...aamiin..

    BalasHapus
  4. wah KPU harus diubah jadi KBU dong yaa hahaha *plak!

    BalasHapus