![]() |
| Dewi Rieka, suhu sekaligus inspirator KPU |
Saya pernah
menggunakan istilah bintang guna melukiskan kehadiran tokoh-tokoh inspiratif
dari masa lalu. Kenapa bintang ? Dan apa hubungannya dengan masa lalu ? Jarak
bumi ke bintang-bintang tak bisa diukur hanya dengan menggunakan satuan ukur
biasa (cm, m, dan km). Para astronom bersepakat menggunakan satuan ukur khusus,
yaitu tahun cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang memiliki gerakan tercepat di
alam semesta. Dalam satu detik, cahaya dapat bergerak sejauh 300.000 km. Satu
tahun cahaya berarti cahaya yang bergerak selama satu tahun, yaitu sejauh 9,46 triliun km. Jarak bintang paling
jauh yang kini “kebetulan” sudah diketahui (artinya, kemungkinan yang belum
diketahui masih banyak), adalah 11 miliar tahun. Bayangkan betapa jauhnya, perjalanan cahaya
selama jangka waktu 11 miliar tahun yang lalu untuk hari ini sampai ke lensa
mata kita. Padahal umur manusia, rata-rata tak lebih dari 100 tahun.
Kesempatan ini,
barangkali sebagai kelanjutan, saya akan menggunakan idiom bulan. Berbeda
dengan bintang, bulan “hanya” berjarak dari bumi sejauh perjalanan cahaya satu
setengah detik (kira-kira 385.000 km). Bulan yang terlihat pada detik ini, sama
artinya 1,5 detik yang lalu muncul. Menandakan bahwa jarak bulan begitu
dekatnya dengan bumi, dengan kita. Maka
bulan menjadi simbol masa kini, simbolisasi kedekatan jarak dan waktu. Kalau
bintang untuk menandakan kehadiran tookoh-tokoh dari masa silam, maka bulan dipakai
untuk menandakan kehadiran sosok inspiratif di sini dan kini.
Adalah Komunitas
Penulis Ungaran, yang mau tak mau kehadirannya kini telah mencuri sebagian perhatian
saya. KPU--maaf saya suka menyebutnya demikian—dibentuk sebagai harapan untuk
mengasah kemampuan menulis, sekaligus mengumpulkan para penggila literasi dalam
satu jamaah. Artinya keberadaan KPU tak akan berarti, sekiranya tanpa aktivitas
menulis, tanpa kebersamaan. Padahal menulis, harus kita akui, belum menjadi
menu utama kegiatan sehari-hari. Keseharian kita belumlah—untuk tidak
mengatakan “bukan”-- menulis. Masih berjibun kendala teknis maupun psikis untuk
tak menulis, untuk tak menghasilkan karya tulis. Di sana-sini, masih saja kita
dengar pelbagai alasan, sebagai pembenar untuk tidak menulis. Ya, semisal:
sibuk bekerja; repot mengurus keluarga; tak punya waktu senggang, dsb. Pun
demikian dalam membangun kebersamaan. Tak semudah angan yang terus melayang.
Sudah enam kali kopdar, enam kali pula yang datang tak bertambah, alias itu
lagi itu lagi.
| hehehe...para emak-emak yang lagi... |
Saya mengalami
dinamika KPU sedari awal terbentuk. Sepanjang pengalaman itu pula, saya menangkap
sinyalemen yang salah kaprah, bahwa yang menjadi laten masalah adalah kemampuan
menulis. Padahal jelas tidak demikian, terkait kemampuan menulis itu, tak ada
jurus jitu selain menggairahkan kemauan untuk menulis. Kemampuan itu adalah
materiil, sedang kemauan merupakan kesadaran. Meminjam teori dari Emile
Durkheim, bahwa perubahan itu berangkat dari kesadaran (superstruktur) bukan
material (struktur), dus dengan demikian, masalah menulis itu berawal dari
kemauan dan kemampuan adalah muaranya.
Nah, dari situlah
kehadiran sosok inspiratif menjadi utama. Sosok yang sanggup memantik semangat
para penghuni KPU untuk terus-menerus membiasakan menulis. Menulis adalah
perkara kemauan untuk biasa menorehkan coretan gagasan, bukan skill atau kemampuan bawaan lahir. Dan
barangkali workshop-workshop seperti kursus menulis, sebetulnya tak diperlukan,
sepanjang pembiasaan menulis itu terus digalakkan. Demikian juga dengan
membangun ikatan kerjasama, tak mungkin wujud tanpa kemauan yang terus dipompa.
Walau tingkat kesulitannya berbeda. Kebersamaan dalam KPU itu akan dengan
sendirinya terjadi, jika persoalan menulis teratasi.
Sosok inspiratif
dalam KPU tiada lain adalah Dewi Rieka. Ia yang tak bosan terus menyemangati
para pemula untuk meluweskan jari-jemarinya dengan menulis. Pembiasaan menulis
yang Dewi sarankan adalah melalui blog. Usai pengukuhan KPU bulan Oktober 2014
di KPAD, ia langsung menggulirkan pentingnya masing-masing anggota untuk
memiliki blog pribadi. Menurutnya, dengan memiliki blog, maka aktivitas menulis
akan meningkat, berarti pembiasaan akan terbangun. Melalui blog pula, para
anggota tak perlu sungkan mengeluarkan kesaktiannya masing-masing untuk
memamerkan karya tulisnya. Tak akan ada penilaian salah-benar dalam menjahit
kata-kata di blog. Tak ada batasan maksimal kata yang mesti tersematkan di dalamnya.
Pun juga tak ada tema wajib atau pokok KPU yang dialamatkan pada pengguna blog.
Masing-masing bebaskan memilih tema, isu dan wacana yang menjadi minatnya. Kalau pun ada tantangan menulis dengan tema
tertentu, dimaksudkan sebagai rangsangan untuk memudahkan setiap kita dalam
menuangkan kata, bukan lantas mengikatnya supaya terjebak dalam tema itu.
Sehingga bukan temanya yang menjadi fokus KPU, melainkan pembiasaan menulis.
| para orangtua yang momong anak-anak, sembari ngerumpi |
Dewi pula yang selalu
ngotot bahwa kebiasaan ngeblog tak ada ruginya. Menurutnya lagi, blog kini
sedang diminati banyak kalangan. Seorang Raditya Dika, kini tenar dan banyak
buku yang telah ia lahirkan, juga berawal dari ngeblog. Bahkan Dewi sendiri,
lantaran hoby menggoreskan pena dalam blog pribadinya, kini terseret dalam
pekerjaan tetap sebagai wartawan Hello Semarang. Ya, berkat seorang Dewi,
kesalahpahaman tentang blog yang pernah
saya pelihara pun sirna. Saya pernah beranggapan bahwa ngeblog itu sekadar
pelampiasan gundah, mencurahkan uneg-uneg galau yang penuh duka, dan seabrek
animo negatif lainnya. Barangkali tak hanya saya yang beranggapan demikian. Dan
ternyata anggapan tersebut salah besar. Menjadi blogger bisa menjadi karir
profesional yang tak kalah bergengsinya dengan profesi guru dan PNS. Sungguh beruntung
KPU memiliki suhu alias guru yang rewel seperti Dewi Rieka. Rewel terhadap anak
didiknya yang malas-malasan untuk mengerjakan PR. Rewel pada para peserta didik
yang tak kunjung mengumpulkan tugas tantangan.
Pendek kata, saya
ingin menandaskan KPU sebagai komunitas blogger. Komunitas penulis yang
menjadikan blog sebagai lahan aktualisasi diri, lahan ekspresi. Dan hal itu
saya dapatkan kala berbincang dengan Dewi Rieka. So, tiada kata yang patut terukir,
selain Dewi Rieka adalah inspirator KPU. Dewi Rieka adalah rembulan yang
mengitari tata gravitasi KPU...
| istilah blogger dimantapkan.... |

Go mak dew go!! :D
BalasHapusPak ketu:dr tulisan kliatsn de bacaannya..berbobot sekali.yeii..srg2 mampir ahh biar wawasannya nular..
hehehe Hani...sama-sama ah,aku juga pingin ketularan alim kaya' sang misua yg ngangenin...
Hapussayang ya ga bis ikutan kopdar KPU,,,ketemu mbak dedew pas acara IIDN di pleburan Undip..hehe
BalasHapusiya sayang Mas Pras ga ikutan kopdar...
HapusWaa..baru baca inii, jadi maluuu...ayo kita bergerak, ngga pa pa kok dikit, yang penting solid, saling dukung, saling menyemangati..aamiin seperti kata kang GG...semoga bisa lancar semua rencana kita ya mas ardi dan teman-teman...aamiin..
BalasHapuswah KPU harus diubah jadi KBU dong yaa hahaha *plak!
BalasHapusiya ganti aja KBU...Setuju buanget aku
Hapus