| bersama di taman serasi |
Satu lagi tempat favorit di
Ungaran yang kerap saya kunjungi, yaitu Taman Serasi. Taman Serasi yang lebih
dikenal dengan sebutan Taman Unyil, tampaknya oleh pemerintah daerah hendak
dijadikan sebagai ikon taman Kota Ungaran. Benar tidaknya “penampakan” itu,
saya tidak tahu. Sebab hal ini lebih tepat sebagai harapan saya pribadi saja,
yang mendambakan lahan hijau di tengah kota. Lahan hijau yang menyerap pekatnya
asap kendaraan, meredam sengatan panasnya matahari, begitu pentingnya untuk
kota kecil ini. Kalau di Kota Semarang, ada Taman KB, yang merupakan jantung
kota atlas. Nah, Taman Serasi, jantung Kota Ungaran, kenapa tidak !
Sebagaimana kebiasaan para
kebanyakan yang memaksimalkan hari Minggu sebagai hari keluarga, pun begitu
dengan saya dan istri. Hari Minggu merupakan hari bersama keluarga. Dan Taman
Serasi, solusi kebersamaan yang meriah. Kalau pun tidak bisa tiap minggu,
setidaknya dua kali dalam satu bulan, kami sekeluarga bersuka ria di lahan
kecil, pojok kota Ungaran itu. Meski tak seluas Alun-alun Bung Karno, yang tak
lebih dari setengah hektar, Taman Serasi yang persis depan Jalan Gatot Subroto
dan perbatasan Kota Semarang, tetap menjanjikan kenyamanan untuk taman
keluarga. Di sini anak-anak dapat bebas
bermain, sedang orangtua nongkrong duduk manis di tempat duduk yang disediakan,
sembari menghikmahi kendaraan yang mengular. Asyiknya lagi, di taman ini
pengunjung tak diributi para penjaja makanan, karena telah dilokalisir di luar
pagar.
| Ahimsa dan Rakhe yang.... |
Sebagai yang merindu atas
keberadaan taman kota yang hijau, saya hanya bisa menggumam dalam hati, andaikan
pemerintah daerah serius membangun tata kota. Ya, salah satunya dengan menjaga
keasrian Taman Serasi. Taman yang sudah cukup asri, dan nyaman bagi para
pencari lahan area yang bernuansa alami, kiranya pemerintah via DPU, mesti
benar-benar merawatnya. Alangkah eman,
sekiranya tak terawat. Saya ingat, tahun 2008, taman ini masih kental dengan kehidupan
malamnya. Aura taman belum kelihatan. Dan barangkali memang belum terdesain
sebagai taman keluarga. Tahun 2010, sudah layak taman, meskipun sederhana.
Lahan parkir belum ada, namun fasilitas main untuk anak-anak sudah dibuat. Kini,
sudah banyak pembenahan. Area parkir telah dibikin untuk menambah kenyamanan
pengunjung. Anak-anak dimanjakan dengan miniatur jalan raya, yang penuh
rambu-rambu lalu lintas. Pasir pantai, sebagai sarana motorik anak, juga
tersedia. Tak ketinggalan, sarana MCK yang bersih juga ada.
| hiiii...pasir pantai ya ... |
Taman Serasi, si jantung kota, idaman
warga masyarakat kelas bawah. Persis sebagaimana diriku, yang juga masuk kelas
teri, liburan murah, gratis, syukur berkualitas, tetap masuk daftar agenda
wisata keluarga. Kiranya sama, bahwa masyarakat mendambakan tempat bermain
keluarga, ajang berkumpul orangtua dan anak-anak yang keluar dari rutinitas. Kiranya
juga sama, bahwa masing-masing diri kita ini, para pencari kebebasan. Hari
Minggu, menjawab harapan itu. Taman keluarga yang murah meriah, jadi jawaban
pemerintah dalam menunaikan kewajibannya. Kiranya para pemegang otoritas itu tak perlu repot, bagaimana untuk jadi
yang bertanggung jawab. Cukup dengan menyediakan fasilitas umum yang berupa
taman kota, sebagai ajang pelepasan. Lepas dari ritus keseharian yang serba
materi, serba uang, dan mesin. Lepas dari jebakan teror industri yang profan
minus rohani. Pemerintah, pemegang otoritas yang memiliki kewenangan, tak bisa
mengabaikan pentingnya kawasan hijau buat kelangsungan harmonis keluarga.
| indahnya kebersamaan... |
Ungaran yang persis berada di
lereng Gunung Ungaran, serasa ironis kalau kawasan hijaunya tak masuk daftar
utama pembangunan. Artinya, sebetulnya tak cukup hanya mengandalkan Taman
Serasi sebagai kawasan hijau kota. Semestinya, bertebaran lahan-lahan yang
khusus diperuntukkan buat taman keluarga. Tapi daripada tidak ada sama sekali,
Taman Serasi tetap mengikat, khususnya bagi pemegang kebijakan untuk merawat,
menjaga, membenahinya, agar tak tergerus oleh arus hedonis. Jangan sampai taman yang nan asri itu beralih
menjadi ruko, menjadi gedung perkantoran. Jangan sampai pemerintah berkhianat
dengan mengabaikan hak aktualisasi diri masyarakat. Jangan sampai ada image, bahwa untuk berkembang bagus,
mesti ditangani oleh pihak swasta. Jangan sampai muncul pembenaran bahwa
pemerintah tak becus menangani aset wisata, tak serius membenahi taman kota. Jangan,
jangan, dan deretan jangan lainnya.
Taman Serasi, semoga tetap
menjadi tempat yang murah, yang gratis, surga bagi para keluarga muda. Arena
bermain anak-anak. Taman yang menawarkan limpahan oksigen. So...
| asyiknya dengan .... |
mas Ardi, mobil2 dan motor2 mini itu tersedia disanakah?
BalasHapusAda yg nyediain..tapi kayaknya usaha pribadi, bukan dari instansi pemerintah
Hapus