Sabtu, 14 Maret 2015

Taman Serasi, Surganya Keluarga Muda


bersama di taman serasi

Satu lagi tempat favorit di Ungaran yang kerap saya kunjungi, yaitu Taman Serasi. Taman Serasi yang lebih dikenal dengan sebutan Taman Unyil, tampaknya oleh pemerintah daerah hendak dijadikan sebagai ikon taman Kota Ungaran. Benar tidaknya “penampakan” itu, saya tidak tahu. Sebab hal ini lebih tepat sebagai harapan saya pribadi saja, yang mendambakan lahan hijau di tengah kota. Lahan hijau yang menyerap pekatnya asap kendaraan, meredam sengatan panasnya matahari, begitu pentingnya untuk kota kecil ini. Kalau di Kota Semarang, ada Taman KB, yang merupakan jantung kota atlas. Nah, Taman Serasi, jantung Kota Ungaran, kenapa tidak !


Sebagaimana kebiasaan para kebanyakan yang memaksimalkan hari Minggu sebagai hari keluarga, pun begitu dengan saya dan istri. Hari Minggu merupakan hari bersama keluarga. Dan Taman Serasi, solusi kebersamaan yang meriah. Kalau pun tidak bisa tiap minggu, setidaknya dua kali dalam satu bulan, kami sekeluarga bersuka ria di lahan kecil, pojok kota Ungaran itu. Meski tak seluas Alun-alun Bung Karno, yang tak lebih dari setengah hektar, Taman Serasi yang persis depan Jalan Gatot Subroto dan perbatasan Kota Semarang, tetap menjanjikan kenyamanan untuk taman keluarga.  Di sini anak-anak dapat bebas bermain, sedang orangtua nongkrong duduk manis di tempat duduk yang disediakan, sembari menghikmahi kendaraan yang mengular. Asyiknya lagi, di taman ini pengunjung tak diributi para penjaja makanan, karena telah dilokalisir di luar pagar.



Ahimsa dan Rakhe yang....


Sebagai yang merindu atas keberadaan taman kota yang hijau, saya hanya bisa menggumam dalam hati, andaikan pemerintah daerah serius membangun tata kota. Ya, salah satunya dengan menjaga keasrian Taman Serasi. Taman yang sudah cukup asri, dan nyaman bagi para pencari lahan area yang bernuansa alami, kiranya pemerintah via DPU, mesti benar-benar merawatnya. Alangkah eman, sekiranya tak terawat. Saya ingat, tahun 2008, taman ini masih kental dengan kehidupan malamnya. Aura taman belum kelihatan. Dan barangkali memang belum terdesain sebagai taman keluarga. Tahun 2010, sudah layak taman, meskipun sederhana. Lahan parkir belum ada, namun fasilitas main untuk anak-anak sudah dibuat. Kini, sudah banyak pembenahan. Area parkir telah dibikin untuk menambah kenyamanan pengunjung. Anak-anak dimanjakan dengan miniatur jalan raya, yang penuh rambu-rambu lalu lintas. Pasir pantai, sebagai sarana motorik anak, juga tersedia. Tak ketinggalan, sarana MCK yang bersih juga ada.

hiiii...pasir pantai ya ...


Taman Serasi, si jantung kota, idaman warga masyarakat kelas bawah. Persis sebagaimana diriku, yang juga masuk kelas teri, liburan murah, gratis, syukur berkualitas, tetap masuk daftar agenda wisata keluarga. Kiranya sama, bahwa masyarakat mendambakan tempat bermain keluarga, ajang berkumpul orangtua dan anak-anak yang keluar dari rutinitas. Kiranya juga sama, bahwa masing-masing diri kita ini, para pencari kebebasan. Hari Minggu, menjawab harapan itu. Taman keluarga yang murah meriah, jadi jawaban pemerintah dalam menunaikan kewajibannya. Kiranya para pemegang otoritas  itu tak perlu repot, bagaimana untuk jadi yang bertanggung jawab. Cukup dengan menyediakan fasilitas umum yang berupa taman kota, sebagai ajang pelepasan. Lepas dari ritus keseharian yang serba materi, serba uang, dan mesin. Lepas dari jebakan teror industri yang profan minus rohani. Pemerintah, pemegang otoritas yang memiliki kewenangan, tak bisa mengabaikan pentingnya kawasan hijau buat kelangsungan harmonis keluarga.

indahnya kebersamaan...


Ungaran yang persis berada di lereng Gunung Ungaran, serasa ironis kalau kawasan hijaunya tak masuk daftar utama pembangunan. Artinya, sebetulnya tak cukup hanya mengandalkan Taman Serasi sebagai kawasan hijau kota. Semestinya, bertebaran lahan-lahan yang khusus diperuntukkan buat taman keluarga. Tapi daripada tidak ada sama sekali, Taman Serasi tetap mengikat, khususnya bagi pemegang kebijakan untuk merawat, menjaga, membenahinya, agar tak tergerus oleh arus hedonis.  Jangan sampai taman yang nan asri itu beralih menjadi ruko, menjadi gedung perkantoran. Jangan sampai pemerintah berkhianat dengan mengabaikan hak aktualisasi diri masyarakat. Jangan sampai ada image, bahwa untuk berkembang bagus, mesti ditangani oleh pihak swasta. Jangan sampai muncul pembenaran bahwa pemerintah tak becus menangani aset wisata, tak serius membenahi taman kota. Jangan, jangan, dan deretan jangan lainnya.

Taman Serasi, semoga tetap menjadi tempat yang murah, yang gratis, surga bagi para keluarga muda. Arena bermain anak-anak. Taman yang menawarkan limpahan oksigen. So...  

asyiknya dengan ....





  

2 komentar:

  1. mas Ardi, mobil2 dan motor2 mini itu tersedia disanakah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yg nyediain..tapi kayaknya usaha pribadi, bukan dari instansi pemerintah

      Hapus