| bareng GM dalam acara World Book Day di Yogya |
Mau jadi penulis
apa ? Pertanyaan yang tak mudah langsung terjawab di awal tulisan ini. Tak
mudah karena belum sungguh-sungguh berpikir untuk berkarir sebagai penulis. Pengalaman
menulis terjadi lebih disebabkan by
implication dan bukannya by choice.
Oleh sebab bersinggungan dengan para penggiat literasi, aktivis TBM, dan para
pencita buku, saya jadi berkarib dengan literasi. Saya ketularan untuk
mencintai buku, akrab dengan dunia baca. Lantaran berasyik masyuk dengan
penggiat buku, jadi terbiasa dengan tradisi diskusi, musyawarah buku, dan debat
adu argumen. Bahkan tak jarang, terpaksa bergilir menjadi pemrasaran, pembedah
isi buku, dan tukar wawasan bersama kawan-kawan aktivis mahasiswa. Hal yang
mustahil saya dapatkan andai berdiam
diri dalam keluarga saya di desa. Jadi menulis, bukan sebab pilihan, tapi
keterpaksaan. Terpaksa menulis untuk pantas-pantas layaknya seorang pemrasaran,
demi “keunggulan” paparan presentasi. Itu pun sebatas poin-poin pemikiran,
bukan karya utuh tulisan artikel ilmiah.
Ketidakmudahan
selanjutnya untuk menjawab pertanyaan tersebut, lantaran sama sekali saya belum
pernah mengikuti kursus menulis, atau mengikuti secara teratur kuliah tentang creative writing. Sontak terbit krisis
kepercayaan diri, ketika harus menjawab bahwa saya ingin jadi penulis ini, saya
adalah penulis itu. Memang pernah menyelenggarakan pelatihan menulis, tapi
barangkali resiko sebagai panitia, lebih fokus pada penyelenggaraan acara.
Waktu habis tersita untuk melayani kebutuhan peserta pelatihan, sehingga tak
sempat terpikir untuk mengikuti session
inti pelatihan.
Meski demikian,
terus terang salah satu doa yang kerap saya panjatkan adalah agar Tuhan
berkenan mengantarkan saya menjadi seorang penulis. Kelak Tuhan bakal menderetkan
diri ini dalam jamuan dan papan nama penulis top. Bisa menyumbangkan ide
bersama tajamnya pena kepada khalayak luas. Artinya, satu sisi belum ada nyali
untuk benar-benar terjun atau menekuni profesi penulis. Di sisi yang beda, ada
bara untuk dapat menulis. Menuliskan percikan-percikan pikiran, mengurutkan ide
wawasan yang kadung menumpuk. Oleh
karenanya, sebagai upaya untuk merawat keinginan menulis, saya teguhkan dengan
membiasakan menulis satu dua halaman A4 dalam folder pribadi PC. Terlebih kini tertolong dengan keberadaan
Komunitas Penulis Ungaran, yang mensyaratkan masing-masing mesti memiliki blog.
Sehingga belajar menulis, saya jaga dengan mulai menulis di blog. Membiasakan
diri menulis secara teratur.
Dari intensitas
membersamai blog, dari keteraturan yang dipaksakan, dan kebersinggungan bersama
kawan-kawan aktivis sosial, saya terbiasa menuliskan poin-poin deskripsi atau
dokumentasi simpati, empati atau antipati saya terhadap kondisi sosial. Hampir
semua tulisan yang pernah saya dokumentasikan, entah apa itu nanti namanya,
bertutur soal keluh kesah atas kenyataan. Saya merasa tak puas, dan kepingin mengabadikan ketidakpuasan
tersebut untuk dibaca, setidaknya oleh anak-anak saya kelak. Ada gemuruh ambisi
untuk berbagi keprihatinan atas problem sosial, keberagamaan, dan spiritual
yang menerpa lingkungan terkecil, keluarga, hingga umat manusia secara umum.
Lantas jenis karya
tulis apakah yang telah terdokumentasikan ? Barangkali sejenis esai, sebab jelas
bukan cerpen apalagi novel. Saya masih kesulitan untuk mengembangkan diri dalam
menulis cerpen dan novel. Saya bayangkan menulis cerpen dan terutama novel itu
butuh kesiapan energi yang luar biasa.
Energi fisik, intelektual, perasaan, dan khususnya imajinasi. Sementara
yang saya kerjakan selama ini hanya masalah empati, simpati, dan energi
intelektual saja. Cukup riset pustaka, dan kemauan untuk berbagi kisah tentang
problem bersama, maka satu tulisan pun jadi.
Kembali merunut
pertanyaan, mau jadi penulis apa ? Jelas jawabannya, yaitu bukan penulis cerpen
dan novel. Kalau menulis puisi, barangkali saya masih sanggup, tapi tidak
dengan menulis cerpen. Minat bacaan
terhadap cerpen dan novel, termasuk rendah. Buku koleksi sastra yang memenuhi
rak dan almari di rumah, bisa dihitung dengan jari, alias minim. Beda dengan
bahan bacaan sosial politik, keagamaan dan tasawuf, berjibun lebih dari 500
judul. Dari koleksi bacaan, jelas gamblang bahwa saya kurang meminati karya
tulis cerpen dan novel. Sehingga tak membayangkan akan jadi cerpenis dan
novelis.
Dari seabrek buku
yang berserakan, ada beberapa buku karya tokoh yang jadi favorit. Saya bawa
kemana-mana, setiap kali saya pergi. Tokoh-tokoh yang dimaksud adalah Emha Ainun
Nadjib, Nurcholish Madjid, Goenawan Mohamad, dan Muhammad Zuhri. Sedikit banyak
para tokoh tersebut telah mengguratkan pikiran dan perasaan mereka ke dalam
diri saya. Pikiran-pikiran Cak Nur, sapaan akrab Nurcholish Madjid, yang saya
lahap dari buku-bukunya, sejak mangkir kuliah tahun 2000 silam, sangat membekas
dalam benak saya hingga kini. Meski belum pernah bertatap muka langsung, tapi
saya merasa telah berguru padanya. Begitu pula dengan Cak Nun, sapaan Emha
Ainun Nadjib, kiai mbeling yang gagasan bernasnya telah saya sadap sejak duduk
di bangku SMA 1996, 1997 di Sragen. Dengan Cak Nun, saya sering mengikuti
langsung kegiatan sosialnya, baik di Yogyakarta maupun Semarang. Hampir semua
buku-bukunya telah saya selesaikan, jauh sebelum saya menikah, tahun 2005.
Terakhir Muhammad Zuhri, dialah sosok sufi yang telah melukis hikmah ke dalam
pikiran saya. Beda dengan Cak Nur dan Cak Nun, bersama Pak Muh (Muhammad
Zuhri), saya resmi sebagai muridnya. Saya belajar dari Pak Muh untuk menelaah
isyarat-isyarat hikmah baik dalam kitab Al-Qur’an maupun dari fenomena dan
peristiwa. Konon Pak Muh itu pula yang membentuk kesufian Emha.
![]() |
| Muhammad Zuhri |
Ketiga tokoh itu,
terutama Muhammad Zuhri, yang telah memformat pikiran dan rasa kemanusiaan,
yang hingga kini mengiring langkah pengabdian saya selaku hamba Tuhan. Selanjutnya
perihal cara ungkap ide, gagasan atau gaya kepenulisan, saya menyukai gaya
Goenawan Mohammad, terutama dalam “catatan pinggir”nya. Walaupun untuk ide
sering tak sepaham dengannya. Namun saya menyukai cara ia merangkai kata. Dan
dalam beberapa tulisan yang pernah saya bikin, saya patut-patutkan agar persis pleg dengan gaya tulisan catatan
pinggir. Hmmm....terasa konyol kan ? Tapi demikianlah. Saya coba menulis dengan
berkaca pada Goenawan Mohamad. Membolak-balik buku “Catatan Pinggir 3, 5, dan
6”, mencermati pilihan kata yang Goenawan gunakan.
Lepas dari
persoalan jenis karya tulis, entah cerpen, novel, puisi atau esai, yang saya
kira terbentuk dari jenis minat bahan bacaan, barangkali yang tak kalah penting
dari kita yang kadung meminati
literasi ialah peranan kita dalam menumbuhkan keinsafan akan makna hidup.
Sebagai penulis, kita tak bisa meninggalkan peran sebagai pemberi penjelasan
dan kejelasan tentang hidup, tentang kehidupan, tentang tugas dan fungsi kita
di muka bumi yang hakiki. Sebagai insan
yang beragama, serasa ada titipan perintah, agar kita mampu menangkap makna
hakiki agama yang ada di balik bentuk-bentuk formal. Kita bertanggung jawab
untuk menyampaikan dan mengembangkan makna-makna peristiwa yang tergelar, berbagi
nilai perolehan kepada anak, istri maupun suami. Lantas berkembang, melebar
menyentuh wilayah di luar batas yang kita kira, seiring dengan kemampuan
menulis yang kian mumpuni, yang telah menjangkau luas, berdimensi global.
Jadi, menjawab
pertanyaan pada awal tulisan, mau jadi
penulis apa ? Merujuk dari minat bacaan dan tokoh yang digemari, tak ragu
lagi, bahwa saya memiliki kecenderungan untuk menjadi penulis esai. Dalam
menuliskan catatan, melontarkan argumentasi dan meyakinkan pihak lain, saya
ingin bisa menulis seperti Goenawan Mohamad. Saya ingin menjadi esais sebagaimana
GM alias Goenawan Mohamad, yang telah ribuan esai sukses ia hasilkan. Menjadi
esais yang sanggup menorehkan ide wawasan yang sarat hikmah, sarat nilai
kearifan. Menyeberangi batas formalitas untuk menangkap makna di balik teks dan
mendapatkan tujuan yang sesungguhnya. Semoga......
| Goenawan Mohamad dalam sambutan... |

cakep tulisannya. Besarin dikit mas font.nya. Biar bacanya enak. Sehingga tidak terlihat seperti kutu berjajar, hihihihi
BalasHapusah kamu Dit...hehehe....edisi tantangan yg ketiga kugedein fontnya..
HapusMas ardie mah ngaku ngga bisa nulis tapi tulisannya kereeen...semoga bisa tercapai yaa cita-citanya jadi esais mas ardi, ayoo jajal lagi ke koran-koran, bisaa...
BalasHapusAh Mbak Dew ! Sy tuh nyalinya masih ciut alias cemen...Tapi moga aja, berkat Penulis Ungaran, timik-timik bisa PD untuk jajal...
Hapusweeww keren inii.. bisa buat inspirasi ya om
BalasHapushehhe....inspirasi apa neng ?
Hapus