| Taman Bermain anak-anak |
Hehehe....saya tuliskan ini. Saya
coba menuliskan sesuatu yang sebetulnya saya tidak begitu menguasai, baik
teknik penulisan maupun isi. Ya, adalah sahabat sekaligus guru, Dewi Rieka,
yang memberikan tantangan buat saya dan kawan-kawan se-komunitas. Memang
tantangan yang ia berikan tepat. Tepat karena memang sudah sepatutnya para genk
komunitas itu biasa menorehkan coretan, apa pun itu dengan pelbagai konten.
Saya menerima tantangannya. Meski, sekali lagi, saya tak menguasai bahan-bahan
yang mesti dituliskan. Pekan ini, tulisan yang mesti disetorkan adalah seputar
obyek wisata.
Saya tak memiliki hobby touring alias jalan-jalan yang beraroma
fun, wisata, sehingga tak banyak tempat wisata yang berhasil saya kunjungi.
Anak-anak, Ahimsa dan Rakhe, jarang saya ajak jalan-jalan. Terlebih lagi sang
istri, Rahma, yang lebih asyik menggeluti asap dapur, kain pel, cucian, dan
seterikaan baju-baju yang mengusut. Barangkali, kami sekeluarga, termasuk jenis
golongan manusia-manusia rumahan, yang tak kreatif dalam urusan memaksimalkan
waktu senggang. Padahal sehari-harinya, dari menit ke menit, lebih banyak
senggangnya ketimbang padat kegiatan. Memang ada aktivitas sosial yang kami
tekuni, seperti kegiatan TPQ, menghidupkan sanggar belajar di rumah, dan layanan
perpustakaan berbasis rumah tangga, serta sesekali mengatasi masalah ke-RT-an.
Tapi tetap saja, senggang waktu masih yang dominan.
Kembali ke perbincangan wisata.
Lantaran tak punya bakat touring,
paling banter, saya hanya mengajak anak istri ke museum, toko buku, dan pameran
buku murah. Tempat-tempat yang murah meriah, terjangkau, dan yang jelas lumayan
untuk melepas penat. Atau kalau tidak demikian, saya juga suka memanfaatkan
acara-acara yang diselenggarakan komunitas dengan mengajak anak-istri. Mumpung,
sekalian keluar rumah, pikirku. Seperti pada akhir bulan Januari 2015,
persisnya tanggal 25 Januari, kawan-kawan di Forum TBM mengadakan rapat
koordinasi di Kampoeng Kopi Banaran. Sekalian saja, saya ajak keluarga “piknik”
ke wisata agro di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang itu.
Kampoeng Kopi Banaran, wisata
perkebunan kopi yang menjadi kebanggaan warga kecamatan Bawen persis berada di
bibir jalan raya Solo – Semarang. Tepatnya di Jalan Raya Bawen – Solo Km 1,5
Bawen. Kampung wisata yang menjual nuansa alami, keintiman keluarga, dan area
out bound. Dari Ungaran arah Bawen, cukup 45 menit dengan kendaraan sepeda
motor. Terminal bus Bawen, maju sedikit arah Solo sekitar 5 menit, kanan jalan.
Masuk gapura Selamat Datang Kampoeng Kopi Banaran, tak dikenai tiket masuk, parkir
kendaraan gratis. Dari tanah lapang parkiran, kita sudah disuguhi dengan
pemandangan perkebunan kopi yang hijau nan sejuk. Lalu lalang kereta wisata
yang menyusuri jalan beraspal menuju kebun wisata. Dari arah depan, kita jalan
menuju ‘pujasera’ kuliner yang menjajakan paket ekonomi hingga yang super lux
kuliner khas wisata. Kita susuri area
kuliner, terus masuk ke dalam lewat lorong, yang selanjutnya akan berjumpa
dengan taman bermain anak-anak beserta tebaran gasebo. Atas gasebo, ada flying
fox anak yang menghubungkan gasebo utama yang berukuran besar, melintasi
beberapa gasebo kecil menuju gubug lokasi kasir.
| Terasiring ala Kampoeng Kopi |
Tekstur tanah yang tak rata,
layaknya terasiring, dari area bermain anak menuju gasebo utama, jalanan
setapak berundak. Suasana ‘terasiring’ yang kian menambah eksotik bagi penggila
wisata. Antar gasebo juga dhubungkan dengan jalanan setapak berpaving. Saat
lirik mata diarahkan ke arah barat, akan terpampang area out bound, ruang
meeting, dan kolam renang. Kedua jagoanku, Ahimsa dan Rakhe, saat itu lebih
mengeksplorasi area taman bermain. Sedang saya dan istri beserta kawan-kawan
Forum duduk manis di gasebo kecil samping gubug kasir, sembari menikmati
cemilan khas kampoeng kopi: ketela goreng, pisang goreng, tempe mendoan.
Sebagai wisata keluarga, saya
kira kampung kopi itu, cukup memadai untuk dijadikan rujukan tujuan kebersamaan
keluarga. Selain tempatnya strategis, pinggir jalan raya, kampung kopi
menempati area yang terhitung luas. Seharian tak akan puas untuk meratai paket
wisata yang ditawarkan, dari wisata petualangan, out bound, hingga wisata
edukasi. Wisata petualangan ada : flying fox dewasa dan anak, kereta wisata,
berkuda, ATV of road, renang, dan taman bermain. Area Out bound menyediakan:
lompatan tarzan, sepeda udara, perut ular, lompatan batu, tempat hip hop, area
bridges ball, dan wood ball. Sedang di wisata edukasi, kita akan dimanjakan
dengan area kebun coklat, area kebun kopi, dan kebun karet. Gasebo yang tertata
apik besar maupun kecil yang mengitari taman bermain. Pun ada juga lapangan
tenis, ruang meeting, ruang serba
guna yang lumayan mencukupi untuk resepsi pernikahan ala petualang.
| Rakhe, Rahma, dan Ahimsa |
Saya rasa wisata kampung kopi ini
tak hanyut dalam trend sebagai wahana jajanan kuliner saja, sebab disini juga
menyediakan paket edukasi, menyediakan sarana diskusi. Hal yang sangat berarti
bagi saya dan istriku, yang tak begitu doyan dengan wisata kuliner. Adanya
gasebo yang cukup dengan kocek Rp 15.000,00, kita bisa berdiskusi panjang lebar
sampai habis bahan perbincangan, dan uang saku tetap irit. Karena cemilan snack
bisa kita bawa dari rumah, tak harus membeli dalam lokasi. Adanya area bermain
anak-anak yang gratis dan luas, jelas sangat memanjakan kebersamaan keluarga,
khususnya yang tinggal di perkotaan, dimana area bermain kian menyempit,
anak-anak terkurung dalam jeruji rumah. Pendek
kata, kampoeng kopi merupakan wisata agro yang menawarkan nuansa natural alami
dan solusi bagi pelepas penat keluarga yang terlena dengan rutinitas. Kampoeng
Kopi, selain keberadaan gasebo, adanya ruang meeting, jelas memanjakan bagi
para aktivis sosial yang kesulitan mencari ruang untuk membangun kerumunan,
menyolidkan barisan, dan mengokohkan program.
Meskipun teramat sayang, lantaran
saya dan istri tak sampai menuntaskan seluruh kawasan wisata, namun benar-benar
penat dan waktu senggang yang kami rasa serasa terbayarkan dengan keceriaan
anak-anak yang optimal mengeksekusi taman bermain. Kami berangkat dari rumah
pukul 06.30 pagi dan butuh waktu setengah jam untuk sampai lokasi, serta pukul
14.00 kami check out. Artinya
setengah hari-an anak-anak mengumbar keceriaan, berlari-larian, main petak
umpet, main prosotan, ayunan, dan menikmati jajanan. Namun dari kesemuanya,
lantaran statusnya yang sebatas menumpang, maka hanya istri dan anak-anak saja
yang maksimal dengan acara bermain-nya, sementara saya lebih sering berkerut
kening lantaran terjebak dengan program kegiatan Forum...hehehe.....
| Diskusi olah pikir di gasebo.... |
mantap mas Ardii..
BalasHapus