Senin, 13 April 2015

Humanisme Teosentris: Catatan Reading Kuntowijoyo ke-3


Reading Kuntowijoyo selanjutnya disingkat RK



Reading Kuntowijoyo, demikian akhirnya saya menyebutnya. Awal, saya mengukirnya sebagai Reading Group Kuntowijoyo, namun guna memudahkan pelafalan sekaligus penyingkatan, saya lebih sreg dengan menghilangkan kata group. Maka jadilah reading kuntowijoyo yang disingkat menjadi RK. RK yang ketiga, Sabtu 11 April 2015 sukses dilangsungkan. Masuk subbab baru “cita-cita transformasi Islam”, RK yang ketiga ini dihadiri 13 peserta (terhitung diluar diriku dan istriku). Ya, secara kuantitas terus menaik, dari empat, sepuluh, dan kemudian tiga belas. Secara kualitas juga meningkat, terlihat dari durasi waktu diskusi yang panjang (pukul 21.00 - 00.05).


RK dibuka dengan pembacaan puisi “pabrik” dan “waktu” oleh Rina Sunia. Si cakep Rina berhasil menyihir peserta lainnya termenung menghayati bait-bait Kuntowijoyo yang merekam deru debu industrialisasi. Berduyun manusia memadati jalanan mengisi waktu demi efektif dan efisiensi mesin-mesin pabrik. Sebuah gambaran yang menegaskan telah terjadinya teknokratisme. Usai perform puisi Kunto, RK dilanjutkan dengan pembacaan superlelet sebagaimana yang sudah-sudah. “Cita-cita Transformasi Islam” lanjutan dari subbab “Visi Teologis Islam” (Zully, yang dapat giliran membacakan), di mana Kunto dalam lanjutannya ini  mengenalkan idiom Humanisme Teosentris. Kunto menyebutnya sebagai dasar paling sentral nila-nilai doktrin Islam. Al-Qur’an, dalam awal-awal Al-Baqarah menyitir trilogi: Iman—Shalat—Zakat, yang senada dengan formasi Iman—Ilmu—Amal. Iman yang merupakan ranah kesadaran ketuhanan, bermuara pada zakat atau amal sebagai ujud kesadaran kemanusiaan. Sedang shalat atau ilmu merupakan jembatan penghubung antara kesadaran ketuhanan dengan kesadaran kemanusiaan. Penengah antara yang bersifat abstrak dengan yang bersifat konkret. Kesadaran ketuhanan itu abstrak, sebagaimana terbaca dari rumusan-rumusan iman. Sedang amal saleh itu konkret. Iman dan amal adalah dua kenyataan, yang pertama mendasari yang kedua. Untuk mendapatkan dorongan dalam diri, agar sanggup menselaraskan iman dengan amal, tiada jalan lain kecuali dengan kegiatan penghubung, yaitu shalat atau berilmu.

Humanisme Teosentris, atau kesadaran kemanusiaan dan kesadaran ketuhanan, menjelaskan bahwa pusat keimanan Islam adalah Tuhan, namun ujuang aktualisasinya adalah manusia. Tauhid merupakan pusat orientasi nilai, pada saat yang sama, manusia adalah tujuan transformasi nilai. Menurut Kunto, Islam adalah agama yang gelisah sepanjang mengenai problem yang menimpa manusia. Problem serius kemanusiaan menurut Al-Qur’an dalam tafsiran Kunto adalah kemiskinan. Orang yang tak peduli terhadap kehidupan orang miskin, kelak bakal menghuni neraka. Jadi logislah kenapa zakat diwajibkan. Zakat fitrah –yang umum kita kenal—adalah perbuatan kemanusiaan, yang dimaksudkan untuk membersihkan puasa. Padahal puasa merupakan perbuatan Ilahiah. Artinya kekurangan yang bersifat Ilahiah dapat ditebus dengan perbuatan kemanusiaan.

Demikianlah, Islam merupakan humanisme teosentris, ada kontinuitas antara perbuatan Ilahiah dengan perbuatan kemanusiaan. Kalau orang tidak kuat berpuasa, gantinya dengan membayar fidyah, memberi makan fakir-miskin. Tidak akan berarti ibadah mahdhah seseorang jika tak berlanjut pada perbuatan baik pada sesama manusia. 

Ringkasnya, humanisme teosentris serasa penting, mengingat umumnya umat Islam masih bersikap menyebelah. Yang aktif sebagai penegak kemanusiaan, semisal: aktivis HAM; kesataran gender; demokrasi; dsb berdiri dalam oposisi biner dengan “aktivis masjid” yang emoh bersentuhan dengan yang serba duniawi. Aktivis kemanusiaan hanya melulu bersinggungan dengan masalah-masalah manusia, sebaliknya yang “sok Ilahiah” juga merasa “pasti” surga lantaran saban hari intim dengan Tuhan dan berjarak dengan detak “najis” kehidupan dunia. 

Saat "pabrik" dan "waktu" dibacakan oleh Rina

Setelah menyelesaikan 8 alinea awal dari total 18 alinea, RK ketiga itu diakhiri dengan pembacaan cerpen “Burung Kecil Bersarang di Pohon”. Pembacaan cerpen dimaksudkan sebagai penandasan doktrin humanisme teosentris. Cerpen tersebut dibaca bergiliran, Waluyo; Meta; dan Bowo. Cerpen yang dimaksudkan sebagai continuum kesadaran ketuhanan dengan kesadaran kemanusiaan. Dilukiskan seorang imam masjid, yang mahaguru tauhid di sebuah universitas, bersih pakaiannya berjalan melewati pasar hendak menjadi imam dan khatib shalat Jum’at. Berkecamuk dalam benaknya tentang orang-orang pasar yang tak bergegas mengingat Tuhan. Betapa kotornya orang-orang pasar itu”, pikir sang Imam tua. Tetapi kemudian ia terhenti, mendengar tangisan seorang anak kecil yang menunjuk-nunjuk ke sebuah pohon dengan burung yang bercicit. Karena kasihan, si Imam lalu memanjat pohon. Akibatnya, ia tiba di masjid ketika jama’ah shalat Jum’at telah bubar. Namun demikian, ia justru merasa telah mendapat pencerahan. Seakan Tuhan telah mengingatkannya tentang utamanya terlibat urusan kemanusiaan. Sang Imam yang kakek tua ini merasa mendapatkan pencerahan bahwa ia tak boleh absen untuk ikut menuntaskan masalah kemanusiaan. 

Kesadaran ketuhanan yang transenden mesti berlanjut pada imanensi kesadaran kemanusiaan. Dan begitu sebaliknya. Akhirnya tepat pukul 00.05 RK selesai. Oleh Hasan Fuady, koordinator RK, pembacaan teks Kunto ditutup. Seterusnya acara bebas ngobrol ngalor-ngidul menuntaskan perdebatan yang terhenti sembari santap nasi goreng bikinan Rahma, istriku. Ya RK alias Reading Kuntowijoyo yang lumayan menyita waktu. Hehehe...seolah-olah mereka itu, habis kerja keras seharian, sehingga waktu diskusi sedemikian mahal. Seakan eman, kalau obrolan malam itu berlangsung singkat. 

So, temans...sebagai tetua, pintaku satu saja: Istiqomahlah!!! Istiqomah bareng RK. Istiqomah menegakkan humanisme teosentris. Istiqomah dalam menegaskan kebajikan. 

jelang akhir RK pukul 00.05, Minggu dini hari


2 komentar: