| saat ngumpul di rumahe Dewi Rieka |
Pagi itu, Minggu 19 April 2015, sebagaimana biasa di hari
libur, bersama anak istri, saya habiskan udara pagi di Alun-alun Bung Karno
Ungaran. Hari libur, hari keriuhan, masyarakat tumplek blek jadi satu memadati lapangan alun-alun. Pelbagai
atraksi bebas para tetua muda hingga balita jadi satu. Senam ibu-ibu, silat
perisai diri, anak yang berlarian dengan sepatu roda, mini sepeda, para penjaja
kuliner, hingga kerumunan kecil para aktivis Hizbut Tahrir. Nah, yang terakhir
itu, yang cukup menarik. Kerumunan beda, tak lazim bagi kebanyakan yang merindu
kebebasan. Bebas melepas penat. Beberapa aktivis HTI [Hizbut Tahrir Indonesia],
itu jelas serasa beda. Mereka tak menawarkan ekspresi pelepas penat, melainkan
galang kesadaran. Ya, kesadaran tentang merebaknya situs-situs cabul.
Saya pribadi tertarik dan setuju dengan ajakan teman-teman
HTI agar kita menyadari bahwa negeri ini sudah pada kondisi darurat pornografi.
Situs-situs yang beraroma seronok, menawarkan seksualitas, telah jadi
pengetahuan umum untuk semua kalangan usia tanpa filter. Saya sepakat dengan istilah
darurat pornografi. Memang kenyataannya negeri kita ini telah terkepung oleh
pikiran dan perilaku porno. Tak usah jauh-jauh, kita pantengin saja televisi dari pagi bangun tidur hingga tidur kembali
di malam hari, acara demi acara yang terbebas dari aura seksualitas, bisa kita
hitung dengan jari. Karena saking sedikitnya, artinya mayoritas acara lebih
sering menampilkan paket yang mengumbar anatomi tubuh.
Darurat pornografi ! Ya, hari-hari ini kian kentara. Hari-hari
ini, publik negeri dikagetkan dengan meninggalnya Deudeuh alias Tata di Tebet
Jakarta. Tata dibunuh oleh salah satu pelanggan di kamar kosnya. Sebuah praktik
prostitusi yang berhasil terendus. Dan malah oleh Menteri Sosial Khofifah,
kasus tersebut baru puncak gunung es yang berhasil terungkap. Artinya, masalah
prostitusi yang sebenarnya dan sudah sampai pada kerawanan yang akut, masih
tersembunyi. Tawar-menawar prostitusi
tak lagi off-line, datang ke kampung
remang, tenda, maupun kafe-kafe, tetapi merebak di dunia maya. Ah....mau
dikemanakan kemudi negeri ini ?
Dari situlah, saya kian mantap dengan semangat teman-teman
Komunitas Penulis Ungaran, yang hendak menjadikan blog sebagai media
aktualisasi diri. Media ekspresi dalam menuangkan gagasan dan informasi
tulisan. Fida, salah satunya, kolega di KPU, dalam suatu kesempatan pernah
mengungkapkan keprihatinannya atas membanjirnya tulisan-tulisan cabul di media
sosial. Remaja-remaja tanggung yang sedang gencar-gencarnya mencari identitas
diri, kerap salah arah lantaran lebih demen mencurahkan perhatiannya pada situs
cabul. Fida berharap, keberadaan KPU, sedikit banyak ikut andil dalam
mengarahkan trend tema tulisan di
media sosial yang lebih beradab. KPU menjadi penyeimbang tulisan yang lebih
beradab.
| Fida yang nyoba wifi di Citra Ilmu |
Ditambah lagi sebelumnya, Mbak Dewi—tutor menulis di
KPU—sudah mendemonstrasikan terkait penting dan bahkan utamanya menulis di
blog. Tanpa harus mengubah nama KPU menjadi Kumpulan Blogger Ungaran (KBU),
dengan sendirinya maksud dari Penulis Ungaran tak lain adalah para blogger
sekitar Ungaran, yang hendak turut meramaikan percaturan blogger yang kian
marak.
Nah, demikianlah. Seakan kini sedang ketemu momentumnya.
Kehadiran Komunitas Penulis Ungaran tidak mesti persis dengan saudara tuanya di
Ambarawa (Komunitas Penulis Ambarawa) yang memang punya genre sendiri. Genre
Penulis Ungaran adalah blogger. Kalau dalam benak saya, Penulis Ungaran
“ditakdirkan ada” agar turut serta jadi penyelesai persoalan darurat pornografi.
Dimana tingkat pornografi saat ini nyaris sama bahayanya dengan narkoba maupun
radikalisme/terorisme. Bahkan barangkali lebih gawat lagi, karena cabulisme,
itu merupakan sisi dalam atau kesadaran yang berdampak ke luar. Naluri cabul,
berbeda dengan “ghirah jihad” yang menjadi landasan maraknya radikalisme. Juga
beda dengan narkoba yang penyebabnya lebih karena faktor eksternal, baik
pikiran maupun barang. Kebanyakan orang terjebak pada narkoba, karena faktor
sosial (stigmatisasi), dan ada barang narkoba.
Saya melihat, maraknya perilaku cabul, karena agama dan
nilai-nilai moral lainnya itu kaku, formal, dan gagap mengikuti dinamika
industrialisasi. Pola agama yang dikenalkan ke kita adalah agama yang kontennya
hanya tepat di era masyarakat primitif alias agraris, bukan masyarakat mesin
yang mobile. Akhlaq yang merupakan
pokok dari ajaran agama, hanya menjadi kebajikan individual, belum menyentuh
ranah kolektif, belum menjadi aturan yang sistematis. Dus demikian, sekali
lagi, KPU coba mengantar nilai-nilai kebajikan itu bersaing atau berdinamika
seiring dengan cabulisme di media sosial. Semoga saja, melalui blog, KPU bisa
mendermakan diri untuk ikut mengatasi persoalan anak negeri. Persoalan darurat
pornografi yang sudah gegirisi, tak
cukup dengan keprihatinan dan tudingan pada mereka-mereka yang gemar menghabiskan akhir pekan dengan
hiburan-hiburan “lokalisasi”, melainkan aksi nyata melalui konter wacana di
media sosial. KPU ber-blog ria, menggoreskan pena yang menginspirasi, syukur
mengembangkan ekonomi, status sosial, dan terutama kepribadian.
Ya, dari pagi itu, hari Minggu yang terik mentarinya bersinar
terang, saya dapatkan gugahan yang inspiratif. Teman-teman HTI, terlepas
ideologinya yang utopis, telah menginspirasi bahwa kebajikan mesti ditegakkan.
Di tengah riuh manusia yang gemar “permukaan”, teman-teman “khilafah” tersebut,
meski hanya beberapa gelintir orang, tak ragu untuk menyebar leaflet ajakan
“kembali” ke pangkuan Islam. Mereka menginspirasi. Mereka, pada pagi di hari
Minggu itu, hanya sekitar enam sampai tujuh orang saja, namun gagah berbagi
brosur. Dan KPU ? Ya, KPU, yang memang sak
uprit, tapi semoga sanggup mendunia. Bersama blog, yang berlanjut profesi
sebagai blogger, dapat mendendangkan nilai-nilai keagungan yang selaras dengan
selera zaman, selera industrialisasi, selera yang serba dunia maya. Nah, kan !
Semoga....
semoga suara seuprit orang ini bisa menjadi suara dunia ya Pak!!
BalasHapusamiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn...........Fida
Hapusaamiin....yuk sibukkan anak muda dengan berkarya, ngeblog dan nulis biar ngga punya waktu untuk mikirin hal2 negatif aamiin :)
BalasHapusiya Mbak Dewi...
Hapus