Sabtu, 18 April 2015

Darurat Pornografi, Lantas bagaimana Kita ?

saat ngumpul di rumahe Dewi Rieka


Pagi itu, Minggu 19 April 2015, sebagaimana biasa di hari libur, bersama anak istri, saya habiskan udara pagi di Alun-alun Bung Karno Ungaran. Hari libur, hari keriuhan, masyarakat tumplek blek jadi satu memadati lapangan alun-alun. Pelbagai atraksi bebas para tetua muda hingga balita jadi satu. Senam ibu-ibu, silat perisai diri, anak yang berlarian dengan sepatu roda, mini sepeda, para penjaja kuliner, hingga kerumunan kecil para aktivis Hizbut Tahrir. Nah, yang terakhir itu, yang cukup menarik. Kerumunan beda, tak lazim bagi kebanyakan yang merindu kebebasan. Bebas melepas penat. Beberapa aktivis HTI [Hizbut Tahrir Indonesia], itu jelas serasa beda. Mereka tak menawarkan ekspresi pelepas penat, melainkan galang kesadaran. Ya, kesadaran tentang merebaknya situs-situs cabul.


Saya pribadi tertarik dan setuju dengan ajakan teman-teman HTI agar kita menyadari bahwa negeri ini sudah pada kondisi darurat pornografi. Situs-situs yang beraroma seronok, menawarkan seksualitas, telah jadi pengetahuan umum untuk semua kalangan usia tanpa filter. Saya sepakat dengan istilah darurat pornografi. Memang kenyataannya negeri kita ini telah terkepung oleh pikiran dan perilaku porno. Tak usah jauh-jauh, kita pantengin saja televisi dari pagi bangun tidur hingga tidur kembali di malam hari, acara demi acara yang terbebas dari aura seksualitas, bisa kita hitung dengan jari. Karena saking sedikitnya, artinya mayoritas acara lebih sering menampilkan paket yang mengumbar anatomi tubuh.

Darurat pornografi ! Ya, hari-hari ini kian kentara. Hari-hari ini, publik negeri dikagetkan dengan meninggalnya Deudeuh alias Tata di Tebet Jakarta. Tata dibunuh oleh salah satu pelanggan di kamar kosnya. Sebuah praktik prostitusi yang berhasil terendus. Dan malah oleh Menteri Sosial Khofifah, kasus tersebut baru puncak gunung es yang berhasil terungkap. Artinya, masalah prostitusi yang sebenarnya dan sudah sampai pada kerawanan yang akut, masih tersembunyi. Tawar-menawar  prostitusi tak lagi off-line, datang ke kampung remang, tenda, maupun kafe-kafe, tetapi merebak di dunia maya. Ah....mau dikemanakan kemudi negeri ini ?

Dari situlah, saya kian mantap dengan semangat teman-teman Komunitas Penulis Ungaran, yang hendak menjadikan blog sebagai media aktualisasi diri. Media ekspresi dalam menuangkan gagasan dan informasi tulisan. Fida, salah satunya, kolega di KPU, dalam suatu kesempatan pernah mengungkapkan keprihatinannya atas membanjirnya tulisan-tulisan cabul di media sosial. Remaja-remaja tanggung yang sedang gencar-gencarnya mencari identitas diri, kerap salah arah lantaran lebih demen mencurahkan perhatiannya pada situs cabul. Fida berharap, keberadaan KPU, sedikit banyak ikut andil dalam mengarahkan trend tema tulisan di media sosial yang lebih beradab. KPU menjadi penyeimbang tulisan yang lebih beradab.

Fida yang nyoba wifi di Citra Ilmu


Ditambah lagi sebelumnya, Mbak Dewi—tutor menulis di KPU—sudah mendemonstrasikan terkait penting dan bahkan utamanya menulis di blog. Tanpa harus mengubah nama KPU menjadi Kumpulan Blogger Ungaran (KBU), dengan sendirinya maksud dari Penulis Ungaran tak lain adalah para blogger sekitar Ungaran, yang hendak turut meramaikan percaturan blogger yang kian marak.

Nah, demikianlah. Seakan kini sedang ketemu momentumnya. Kehadiran Komunitas Penulis Ungaran tidak mesti persis dengan saudara tuanya di Ambarawa (Komunitas Penulis Ambarawa) yang memang punya genre sendiri. Genre Penulis Ungaran adalah blogger. Kalau dalam benak saya, Penulis Ungaran “ditakdirkan ada” agar turut serta jadi penyelesai persoalan darurat pornografi. Dimana tingkat pornografi saat ini nyaris sama bahayanya dengan narkoba maupun radikalisme/terorisme. Bahkan barangkali lebih gawat lagi, karena cabulisme, itu merupakan sisi dalam atau kesadaran yang berdampak ke luar. Naluri cabul, berbeda dengan “ghirah jihad” yang menjadi landasan maraknya radikalisme. Juga beda dengan narkoba yang penyebabnya lebih karena faktor eksternal, baik pikiran maupun barang. Kebanyakan orang terjebak pada narkoba, karena faktor sosial (stigmatisasi), dan ada barang narkoba.

Saya melihat, maraknya perilaku cabul, karena agama dan nilai-nilai moral lainnya itu kaku, formal, dan gagap mengikuti dinamika industrialisasi. Pola agama yang dikenalkan ke kita adalah agama yang kontennya hanya tepat di era masyarakat primitif alias agraris, bukan masyarakat mesin yang mobile. Akhlaq yang merupakan pokok dari ajaran agama, hanya menjadi kebajikan individual, belum menyentuh ranah kolektif, belum menjadi aturan yang sistematis. Dus demikian, sekali lagi, KPU coba mengantar nilai-nilai kebajikan itu bersaing atau berdinamika seiring dengan cabulisme di media sosial. Semoga saja, melalui blog, KPU bisa mendermakan diri untuk ikut mengatasi persoalan anak negeri. Persoalan darurat pornografi yang sudah gegirisi, tak cukup dengan keprihatinan dan tudingan pada mereka-mereka yang  gemar menghabiskan akhir pekan dengan hiburan-hiburan “lokalisasi”, melainkan aksi nyata melalui konter wacana di media sosial. KPU ber-blog ria, menggoreskan pena yang menginspirasi, syukur mengembangkan ekonomi, status sosial, dan terutama kepribadian.


Ya, dari pagi itu, hari Minggu yang terik mentarinya bersinar terang, saya dapatkan gugahan yang inspiratif. Teman-teman HTI, terlepas ideologinya yang utopis, telah menginspirasi bahwa kebajikan mesti ditegakkan. Di tengah riuh manusia yang gemar “permukaan”, teman-teman “khilafah” tersebut, meski hanya beberapa gelintir orang, tak ragu untuk menyebar leaflet ajakan “kembali” ke pangkuan Islam. Mereka menginspirasi. Mereka, pada pagi di hari Minggu itu, hanya sekitar enam sampai tujuh orang saja, namun gagah berbagi brosur. Dan KPU ? Ya, KPU, yang memang sak uprit, tapi semoga sanggup mendunia. Bersama blog, yang berlanjut profesi sebagai blogger, dapat mendendangkan nilai-nilai keagungan yang selaras dengan selera zaman, selera industrialisasi, selera yang serba dunia maya. Nah, kan ! Semoga....             

4 komentar:

  1. semoga suara seuprit orang ini bisa menjadi suara dunia ya Pak!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn...........Fida

      Hapus
  2. aamiin....yuk sibukkan anak muda dengan berkarya, ngeblog dan nulis biar ngga punya waktu untuk mikirin hal2 negatif aamiin :)

    BalasHapus