Selasa, 07 April 2015

Bintang-Bintang Yang Mengilhami


Rakhe, bungsuku yang lagi memamerkan Kuntowijoyo



Bicara inspiartor, berarti saya mesti mengurutkan deretan sosok atau tokoh. Inspirator, orang yang mengilhami, sosok yang menggerakkan hati untuk mencipta, erat kaitannya dengan idola. Saya mesti memilah dari sekian banyak orang-orang yang jadi pujaan hati. Mengeliminasi tak sedikit orang-orang yang telah menyuntikkan pemahaman, semangat untuk melakukan sesuatu. Dalam mendeteksi ketokohan, saya menggunakan simbol bintang. Bayangkan saja, kita duduk termenung di malam hari yang cerah. Bintang gemintang bertaburan menghias langit. Bintang-bintang tersebut ada yang berjarak ribuan juta tahun cahaya dari muka bumi. Saking jauhnya, wajar saja kalau yang sampai ke mata kita tinggal kerlap kerlipnya yang nyaris tak kelihatan. Kehadiran bintang sebagai simbol dari masa lalu, sebagai simbol kehadiran sosok-sosok inspiratif yang tak sezaman dengan kita, yang barangkali sebagian kini telah menghuni tanah kubur. 


Saya mulai dari pengalaman ketika menempuh sebagai pelajar menengah pertama. Dulu saat duduk di bangku SMP (SMP N 1 Miri), saya terinspirasi dengan sosok kakak, yang pada saat itu sedang menempuh studi di universitas ternama Jawa Tengah, UNDIP. Ia aktif bersama gerakan mahasiswa Islam yang anti ideologi Pancasila (HMI MPO). Sebagai anak yang menginjak remaja, saya mengagumi sosok kakak yang berani lantang menentang Pancasila, melawan Soeharto, dan fasih menyitir ayat-ayat yang menunjukkan keunggulan Islam. Bersama teman-teman satu kelas, saya bikin genk HPI (Himpunan Pelajar Islam), berkat tuah heroisme sang kakak. Itu terjadi sekitar tahun 1993-an.

Tahun-tahun berikutnya, ketika di SMA (SMA Negeri 1 Sragen), seiring dengan meluasnya pergaulan teman, dan bacaan buku, memori tentang sang kakak yang bak hero sebagai aktivis mahasiswa pun meredup. Usia-usia yang sok bergaya pada saat itu, silih berganti tokoh-tokoh nasional menghias dalam benak. Adalah Amien Rais, yang pada saat itu sebagai ketua umum PP Muhammadiyah, berhasil mencuri perhatian saya. Saya mengaguminya, lantaran vulgarnya melawan otoritarianisme Soeharto. Amien Rais getol bicara tentang KKN yang begitu menggurita sekitar keluarga Cendana. Saya menguntitnya setiap kali ada seminar-seminar yang menghadirkan Amien Rais di Kota Solo.

Pertengahan kelas dua, kalau sekarang kelas XI, nama Amien Rais pun pelan-pelan menghilang. Saya mengalihkan perhatian dari Amien Rais kepada Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Saya mengenalnya lewat buku-bukunya yang cerdas dan nakal:  Gelandangan di Kampung Sendiri; Opini Plesetan; dan Indonesia bagian dari Desa Saya. Berulang-ulang saya membacanya, terutama yang “opini plesetan”, sebuah parodi politik, sindiran atas kekonyolan kita dalam menyikapi kepahitan hidup. Berkat kiai mbeling Cak Nun, saya berani bolos sekolah. Tanpa sungkan, saya  bangga tak mengikuti ujian kenaikan kelas. Akibatnya jelas, banyak mata pelajaran yang harus remidi, agar bisa duduk di kelas tiga (sekarang XII). Keluar masuk ruang BP, semacam bimbingan konseling bagi siswa tak beres, menjadi ritual harian sebelum masuk kelas. 
 
Cak Nun yang menangisi derita negeri ini

Duduk di kelas tiga SMA, praktis prosentasi kehadiran tak mencukupi untuk bisa lulus sekolah. Barangkali saking pusingnya, sang guru wali kelas, hanya meminta saya agar sedia mengikuti ujian akhir. Jangan sampai tidak mengikuti, berapa pun nilai yang didapat tak jadi soal. Yang penting hadir mengikuti ujian, maka otomatis bisa lulus. Terpaksa saya ikuti saran tersebut, ya hitung-hitung balas budi agar nama baik SMA tak tercoreng akibat ulah kemalasanku. Memang, pada saat itu, saya benar-benar merasa tak butuh sekolah. Sekolah adalah pembelengguan. Tak ada pembiaran bagi siswa untuk berkreasi. Dan pemahaman itu saya peroleh dari bacaan “Indonesia bagian dari Desa Saya” Cak Nun. Menghayati Cak Nun,  merasa betul-betul jadi anak manusia yang merdeka. Saya tak takut tidak lulus sekolah, tak takut dikatakan bodoh.

Usai menempuh sekolah dari bangku SMA, saya merantau ke Semarang. Saya menjajal peruntungan dengan mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya pilih jurusan yang paling sedikit peminatnya, dengan asumsi kemungkinan besar diterima terbuka lebar. Dan memang benar, saya diterima di jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Undip tahun 1997. Berbekal ide liberal Cak Nun, saya tak mengikuti pekan orientasi mahasiswa (OSPEK).  Meski ada ancaman, bahwa nanti tak bisa mengikuti beberapa mata kuliah, saya tak ambil pusing. Malah saya ingin membuktikan gertakan itu. Toh, sebetulnya dalam hati kecil, tak secuil pun minat untuk kuliah. Terpaksa melakoni kuliah, hanya kepingin menyenangkan hati orangtua saja, bahwa anaknya kuliah di kampus ternama Kota Semarang, Jawa Tengah. Tak lebih dari itu. 

Cak Nun, si kiai Mbeling yang bertausiah

Oleh karenanya, kampus Undip hanya jadi tumpangan status saja. Tak ada satu dosen pun yang merasuk atau mengena di hati. Saya lebih enjoy dengan mengais pengetahuan dari buku-buku di perpustakaan. Melahap pemikiran tokoh-tokoh nasional yang ada di perpustakaan fakultas maupun universitas. Akibatnya, kegilaan pada Cak Nun yang tumbuh subur dari bangku SMA pun berkurang, seiring kemudian berkenalan dengan pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur), Muhammad Zuhri, Goenawan Mohamad dan Kuntowijoyo. Buku pertama atau awal kali mengenal Cak Nur adalah “Pintu-pintu menuju Tuhan” (Jakarta: Paramadina, 1994), kemudian bersambung dengan buku-buku Cak Nur lainnya. Gagasan Cak Nur yang inklusif dan berpikir terbuka, sangat membekas dan seakan memperteguh doktrin liberal yang tersemai melalui buku-bukunya Cak Nun. Sembari menggali inspirasi atau ilham dari Cak Nur, saya juga mengikuti ide pluralisme-nya Goenawan Mohamad, meski tak seintens sebagaimana dengan Cak Nur. Guna meneguhkan diri, selain bersama bahan bacaan, setiap satu bulan sekali, tepatnya tiap tanggal 21, saya meluncur ke Pati, berburu hikmah bersama Muhammad Zuhri. Ya, dua tokoh itu, Cak Nur dan Pak Muh, berhasil mengisi atau menabur inspirasi dalam sejarah kehidupan saya. Merekalah yang mengantar dan menemani saya usai drop out dari kampus Undip tahun 1999 hingga tahun 2005, jelang lepas masa lajang.

Awal tahun 2005, saya mengenal Kuntowijoyo. Barangkali perkenalan tersebut terhitung telat, yang semestinya sedari awal di Jurusan Sejarah tahun 1997, sudah harus mengenalnya. Kuntowijoyo dikenal sebagai sejarawan, seharusnya klop dengan jurusan yang saya pilih, namun guratan sejarah bicara lain. Pada waktu itu, saya tak meminati status sebagai mahasiswa, saya tak menyukai jurusan sejarah, tak menaruh simpati pada dosen-dosen yang mengajarkan teori dan filsafat sejarah. Kecewa memang, tapi jelas waktu tak bisa dibalik, maju terus tak kenal jeda. Saya melangkah maju bersama Kuntowijoyo, lewat buku “Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi” (Bandung: Mizan, 1994). Buku yang saya dapatkan dari seorang kawan Yogya, seakan pertanda pisah dengan sang tokoh Kunto, yang meninggal dunia tanggal 22 Mei 2005 (persis satu bulan sebelum saya menikah).

Saya dapatkah sesuatu yang baru dari seorang Kuntowijoyo. Membersamai Kuntowijoyo, serasa lebih seru dan meyakinkan akan keutamaan belajar, pentingnya berilmu. Gagasan Kunto lebih praksis ketimbang Cak Nur maupun Muhammad Zuhri. Ibarat wadah dan isi, gagasan Cak Nur dan Muhammad Zuhri adalah isinya, sedang Kunto merupakan bangunan wadahnya. Merunut ke belakang, saya terlampau larut dalam menggali, menghayati, dan mengalami “isi”, namun abai dengan “wadah”. Hal itu sangat terasa, begitu kini saya menempuh hidup yang sesungguhnya alias telah berkeluarga. Saya gagap dengan cara, saya kebingungan dengan metode. Seolah-olah Kunto hendak mengingatkan kelemahan saya itu, dalam “Identitas Politik Umat Islam” (Bandung: Mizan, 1999), ia memaparkan pentingnya juklak dan juknis dalam berperilaku, khususnya berpolitik. Saya menangkap pesan bahwa seyogianya umat Islam sanggup berpikir dan berperilaku objektif. Ia mengenalkan istilah objektifikasi. Berpikir atas sesuatu secara objektif. Bertindak untuk menjadikan sesuatu agar objektif. Nah, itulah yang saya kira hingga kini luput dari perhatian ilmuwan, dan para cerdik cendekia. Berpikir objektif, berperilaku objektif, dan pro aktif dalam lingkup sosial untuk menjadikan segala sesuatu agar berlaku objektif.

Ringkasnya, sebagai landasan dan praksis knowledge, kini saya banyak terilhami oleh Kuntowijoyo. Metode interpretasi Kunto untuk memahami teks kitab suci, serasa pas di hati. Sebuah pemahaman yang bakal menumbuhkan kesadaran objektif mengenai realitas sosial dari perspektif normatif kitab Al-Qur’an. Juga memungkinkan saya untuk percaya diri menjawab permasalahan kontemporer, yang kerap terlontar dari lisan teman-teman yang haus dengan kebaruan. Cak Nur, Cak Nun, Pak Muh, dan Amien Rais serta tokoh-tokoh lainnya yang tak tersebut, silih berganti menghiasi dalam benak, namun kini lebih berfungsi sebatas referensi. Referensi bahwa saya pernah mengagumi mereka. Mereka yang bak bintang-bintang yang hadir dari masa lalu, silih berganti cahyanya menerangi kesadaran dan benderangnya terasa hingga kini. Persis kehadiran bintang-bintang di langit, yang berjarak ribuan tahun cahaya. Datang dalam kurun waktu ribuan tahun lalu, yang barangkali wujud fisiknya kini sudah hancur berkeping, namun cahaya terangnya baru sampai ke mata kita saat sekarang. Demikian.....

Buku-buku Kuntowijoyo yang berhasil saya koleksi....


2 komentar:

  1. bintang itu memang tak tersentuh tetapi selalu hadir pancarnya yang indah. begitu juga dengan Dr. Kutowijoyo.. sudah tak lagi tersentuh tetapi pancaran keilmuannya masih saja menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup..Fida...Kuntowijoyo, bintang terang yg datang nun jauh di sana, dan kini jatuh di sanubariku...

      Hapus