Senin, 30 Maret 2015

Memburu Yang Jati



 
suasana Reading Group Kuntowijoyo (Sabtu, 28/3-'15)

Sabtu, 28 Maret 2015 telah berlalu. Namun saya belum bisa menghilangkan lintasan peristiwa, dan  semangat kawan-kawan yang berjibaku itu. Sabtu adalah hari menjadi manusia, demikian saya sering menyebutnya. Dan kenyataan memang demikian. Sebagian penghuni kompleks dimana saya tinggal, Sabtu, dan terutama malam Minggu, merupakan waktu melepas penat atau menanggalkan sesaat kondisi dirinya yang terpaksa jadi subordinat dari sistem raksasa. Selain hari Sabtu dan malam Minggu, mayoritas menempuh diri sebagai manusia mesin, yang berjalan bak robot, tak boleh lelah dan mesti tepat waktu serta berlaku hukum efesien. Entah dengan kawan-kawanku itu. Apakah mereka juga telah terjebak dengan sindrom Sabtu ? Saya tidak tahu pasti. Namun hari itu memang sangat membekas, setidaknya bagi diriku.

Minggu, 29 Maret 2015

Reading Group Kuntowijoyo


reading group kuntowijoyo (II)



Berangkat dari omong-omong dengan seorang kawan, Hasan Fuady, tentang kecenderungan minat baca dan diskusi yang kurang terawat di kalangan mahasiswa, terutama yang aktivis, maka lahirlah komunitas ini. Kenapa mesti Kuntowijoyo ? Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, minat saya yang lumayan cukup terhadap tokoh Muhammadiyah yang satu ini. Kuntowijoyo, konon dikatakan sebagai sosok yang komplet, multitalenta. Ia dikenal sejarawan. Juga budayawan. Sastrawan, serta cendekiawan muslim. Banyak buku yang telah ia lahirkan. Dari yang riset ilmiah; analis politik, agama, sosial, dan budaya. Ia juga membuat novel, naskah drama, cerpen, puisi, dan fabel.

Rabu, 25 Maret 2015

Mau Jadi Penulis Apa ?



bareng GM dalam acara World Book Day di Yogya



Mau jadi penulis apa ? Pertanyaan yang tak mudah langsung terjawab di awal tulisan ini. Tak mudah karena belum sungguh-sungguh berpikir untuk berkarir sebagai penulis. Pengalaman menulis terjadi lebih disebabkan by implication dan bukannya by choice. Oleh sebab bersinggungan dengan para penggiat literasi, aktivis TBM, dan para pencita buku, saya jadi berkarib dengan literasi. Saya ketularan untuk mencintai buku, akrab dengan dunia baca. Lantaran berasyik masyuk dengan penggiat buku, jadi terbiasa dengan tradisi diskusi, musyawarah buku, dan debat adu argumen. Bahkan tak jarang, terpaksa bergilir menjadi pemrasaran, pembedah isi buku, dan tukar wawasan bersama kawan-kawan aktivis mahasiswa. Hal yang mustahil saya dapatkan andai  berdiam diri dalam keluarga saya di desa. Jadi menulis, bukan sebab pilihan, tapi keterpaksaan. Terpaksa menulis untuk pantas-pantas layaknya seorang pemrasaran, demi “keunggulan” paparan presentasi. Itu pun sebatas poin-poin pemikiran, bukan karya utuh tulisan artikel ilmiah.

Selasa, 17 Maret 2015

Tentang The Miracle of Shalat

Catatan Pertama
mengungkap kedahsyatan energi shalat

Saya ingin menuntaskan baca buku itu. Seorang kawan, Lilik, penggiat literasi Salatiga, entah ada maksud apa, tiba-tiba saja menghadiaiku buku “The Miracle of Shalat”. Buku karya KH. Muhammad Sholikhin itu diterbitkan oleh Penerbit Erlangga tahun 2011. Memang bukan buku baru, tapi kiranya tetap menarik, karena mengungkap makna dan filosofis Shalat. Menariknya lagi, ketika saya tunjukkan ke Rahma, istriku, ternyata sang penulis buku ini adalah seniornya dulu di kampus Syariah IAIN Walisongo Semarang. Karuan saja, saya segera ingin melahap buku tersebut.

Senin, 16 Maret 2015

Yang Sejahtera dan Cerdas


panggilan hidup...semangat hidup...laku pelayanan

Ada yang menggembirakan dalam pertemuan Kopdar V KPU, Senin, 16 Maret 2015 di rumah Hani Widya. Menggembirakan pertama, karena ternyata kawan-kawan di komunitas penulis itu masih bersemangat untuk berkumpul. Berkumpul untuk melestarikan canda ria, saling tukar motivasi. Berkumpul yang tak lagi tebar gunjingan, dan gosip murahan ala artis ibukota, melainkan saling meneguh untuk serius menggarap diri. Saya suka istilah menggarap diri untuk menelisik denyut aktivitas para kawan di KPU, lantaran subjek dan objek komunitas adalah diri-diri yang tergabung dalam group. Menggarap diri, karena fokus pada pengembangan kualitas masing-masing diri sendiri, yang unik, tiada kembaran. Dalam KPU itu, seakan haram kalau sampai ada upaya penyeragaman. Penyeragaman hanya berlaku, agar masing-masing kita bisa menulis, tetapi kadar muatan karya tulis diserahkan kepada masing-masing kepala.

Sabtu, 14 Maret 2015

Taman Serasi, Surganya Keluarga Muda


bersama di taman serasi

Satu lagi tempat favorit di Ungaran yang kerap saya kunjungi, yaitu Taman Serasi. Taman Serasi yang lebih dikenal dengan sebutan Taman Unyil, tampaknya oleh pemerintah daerah hendak dijadikan sebagai ikon taman Kota Ungaran. Benar tidaknya “penampakan” itu, saya tidak tahu. Sebab hal ini lebih tepat sebagai harapan saya pribadi saja, yang mendambakan lahan hijau di tengah kota. Lahan hijau yang menyerap pekatnya asap kendaraan, meredam sengatan panasnya matahari, begitu pentingnya untuk kota kecil ini. Kalau di Kota Semarang, ada Taman KB, yang merupakan jantung kota atlas. Nah, Taman Serasi, jantung Kota Ungaran, kenapa tidak !

Jumat, 13 Maret 2015

Kampoeng Kopi Banaran yang Alami

Taman Bermain anak-anak

Hehehe....saya tuliskan ini. Saya coba menuliskan sesuatu yang sebetulnya saya tidak begitu menguasai, baik teknik penulisan maupun isi. Ya, adalah sahabat sekaligus guru, Dewi Rieka, yang memberikan tantangan buat saya dan kawan-kawan se-komunitas. Memang tantangan yang ia berikan tepat. Tepat karena memang sudah sepatutnya para genk komunitas itu biasa menorehkan coretan, apa pun itu dengan pelbagai konten. Saya menerima tantangannya. Meski, sekali lagi, saya tak menguasai bahan-bahan yang mesti dituliskan. Pekan ini, tulisan yang mesti disetorkan adalah seputar obyek wisata.

Selasa, 03 Maret 2015

Kepada Siapa Kita Bisa Mengadu ?



Moga masih ada sisa harapan
Kepada siapa kita bisa mengadu ? Pertanyaan ini memang serasa sederhana, namun entah mengapa hingga kini kita pun kikuk dan tak jelas jawabannya. Seolah sungkan hendak menuding pihak-pihak berwajib yang nyata-nyata tidak beres dalam menunaikan kewajibannya. Dari sisi kita pun tak kalah  jelasnya, kita telah imun dari berita-berita ketidakberesan pejabat pemerintah, pejabat negara. Sudah lazim di telinga tentang tindak penyelewengan, penyalahgunaan wewenang, dan maling duit negara. Saking imunnya, kita jadi fatalis, pasrah, dan menganggap fenomena itu sebagai bagian ujian dari Tuhan. Saking enegnya dengan perilaku para pemegang otoritas, kita hanya bisa menggerundel. Meneriakkan kemuakan sekeras-kerasnya, namun hanya di hati. Di pendam sendiri.