Kamis, 30 April 2015

Merasakan Tuhan

menyusuri setapak, merangkai cinta-Nya [dok: kebun durian montong Kalisidi]


Saya terus termangu dengan penggalan ayat “Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah...” Sebuah penggalan ayat yang menuntut konsekuensi logis pada perilaku yang mengarah pada-Nya. Perilaku yang tentunya tidak bertentangan dengan aturan main-Nya. Perilaku yang disukai-Nya, perilaku yang dalam perkenan-Nya. Perilaku yang lazim kita kenal sebagai akhlaqul karimah. Saya termangu sebab tak gampang menghadirkan rasa bertuhan. Menghadirkan kebertuhanan, menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang dikepung oleh Tuhan. Tidak ada  lorong tersembunyi yang sanggup menyembunyikan diri ini dari pandangan-Nya. Saya termangu, seakan ayat tersebut  menggema keras di gendang telinga, menghardik diriku yang tak kunjung membaik. Mengkritik proses ketuhanan yang tak selaras dengan kemajuan zaman. Usia dunia yang kian mendekat pada penghancuran total (kiamat), namun kesadaran bertuhan justru kian pudar.  

Tinggal Hitungan Jari

Lima yang mengawal Pelatihan Ngeblog


Tinggal menghitung jari, “Pelatihan Blog” bakal dilaksanakan.  Sebagai pribadi jelas saya tak ingin membuang kesempatan emas ini. Kesempatan untuk me-make over blog pribadi, mempercantik tampilan wahana nongkrong sepanjang malam itu. Ya, kini tak sebatas hiburan, blog telah berhasil mengalihkan perhatian dari selfie-selfian dan narsis ala abege ke ranah yang lebih serius. Blog telah berhasil menggiring amunisi menulis saya kepada tema atau wacana khusus. Lantaran blog pula, sedikit banyak telah berhasil melemaskan jemari dalam menjahit huruf-huruf. Kiranya tak perlu berbusa-busa lagi untuk menuliskan betapa perlu dan pentingnya blog. Sudah berlimpah keterangan yang mendedahnya. Dalam kesempatan berbahagia ini, saya ingin berbagi kesan saja sekilas persiapan acara pelatihan.

Senin, 20 April 2015

Jaga Diri & Keluarga

Rakhe, Rahma, dan Ahimsa


 “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka....” demikian penggalan arti dari surat At-Tahrim [66] ayat 6. Sabda Tuhan yang lumayan mengganggu pikiran, terutama bagiku selaku kepala rumah tangga yang dipercaya oleh-Nya dengan titipan dua bocah, Ahimsa dan Rakhe. Bak teror dari langit, ayat tersebut terus terulang dan menyergap kesadaranku, bahwa ada yang mesti diperankan dalam berkeluarga. Keluarga yang merupakan paduan dari dua suara yang beda, laki-laki dan perempuan,  hakikatnya sebagai aktualisasi diri dalam ber-Tuhan. Kalam Ilahi tersebut seakan jadi penegas bahwa sebelum berpikir dan berperilaku yang besar, terlebih dahulu mesti sanggup membereskan yang kecil. Kecil, lingkup diri dan keluarga, merupakan landasan bagi yang besar. Dasar untuk mengarungi samudera biru, menunaikan tugas yang lebih berat dan besar selanjutnya.

Sabtu, 18 April 2015

Darurat Pornografi, Lantas bagaimana Kita ?

saat ngumpul di rumahe Dewi Rieka


Pagi itu, Minggu 19 April 2015, sebagaimana biasa di hari libur, bersama anak istri, saya habiskan udara pagi di Alun-alun Bung Karno Ungaran. Hari libur, hari keriuhan, masyarakat tumplek blek jadi satu memadati lapangan alun-alun. Pelbagai atraksi bebas para tetua muda hingga balita jadi satu. Senam ibu-ibu, silat perisai diri, anak yang berlarian dengan sepatu roda, mini sepeda, para penjaja kuliner, hingga kerumunan kecil para aktivis Hizbut Tahrir. Nah, yang terakhir itu, yang cukup menarik. Kerumunan beda, tak lazim bagi kebanyakan yang merindu kebebasan. Bebas melepas penat. Beberapa aktivis HTI [Hizbut Tahrir Indonesia], itu jelas serasa beda. Mereka tak menawarkan ekspresi pelepas penat, melainkan galang kesadaran. Ya, kesadaran tentang merebaknya situs-situs cabul.

Senin, 13 April 2015

Humanisme Teosentris: Catatan Reading Kuntowijoyo ke-3


Reading Kuntowijoyo selanjutnya disingkat RK



Reading Kuntowijoyo, demikian akhirnya saya menyebutnya. Awal, saya mengukirnya sebagai Reading Group Kuntowijoyo, namun guna memudahkan pelafalan sekaligus penyingkatan, saya lebih sreg dengan menghilangkan kata group. Maka jadilah reading kuntowijoyo yang disingkat menjadi RK. RK yang ketiga, Sabtu 11 April 2015 sukses dilangsungkan. Masuk subbab baru “cita-cita transformasi Islam”, RK yang ketiga ini dihadiri 13 peserta (terhitung diluar diriku dan istriku). Ya, secara kuantitas terus menaik, dari empat, sepuluh, dan kemudian tiga belas. Secara kualitas juga meningkat, terlihat dari durasi waktu diskusi yang panjang (pukul 21.00 - 00.05).

Selasa, 07 April 2015

Dewi Rieka, Inspirator KPU



Dewi Rieka, suhu sekaligus inspirator KPU



Saya pernah menggunakan istilah bintang guna melukiskan kehadiran tokoh-tokoh inspiratif dari masa lalu. Kenapa bintang ? Dan apa hubungannya dengan masa lalu ? Jarak bumi ke bintang-bintang tak bisa diukur hanya dengan menggunakan satuan ukur biasa (cm, m, dan km). Para astronom bersepakat menggunakan satuan ukur khusus, yaitu tahun cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang memiliki gerakan tercepat di alam semesta. Dalam satu detik, cahaya dapat bergerak sejauh 300.000 km. Satu tahun cahaya berarti cahaya yang bergerak selama satu tahun, yaitu  sejauh 9,46 triliun km. Jarak bintang paling jauh yang kini “kebetulan” sudah diketahui (artinya, kemungkinan yang belum diketahui masih banyak), adalah 11 miliar tahun.  Bayangkan betapa jauhnya, perjalanan cahaya selama jangka waktu 11 miliar tahun yang lalu untuk hari ini sampai ke lensa mata kita. Padahal umur manusia, rata-rata tak lebih dari 100 tahun.

Bintang-Bintang Yang Mengilhami


Rakhe, bungsuku yang lagi memamerkan Kuntowijoyo



Bicara inspiartor, berarti saya mesti mengurutkan deretan sosok atau tokoh. Inspirator, orang yang mengilhami, sosok yang menggerakkan hati untuk mencipta, erat kaitannya dengan idola. Saya mesti memilah dari sekian banyak orang-orang yang jadi pujaan hati. Mengeliminasi tak sedikit orang-orang yang telah menyuntikkan pemahaman, semangat untuk melakukan sesuatu. Dalam mendeteksi ketokohan, saya menggunakan simbol bintang. Bayangkan saja, kita duduk termenung di malam hari yang cerah. Bintang gemintang bertaburan menghias langit. Bintang-bintang tersebut ada yang berjarak ribuan juta tahun cahaya dari muka bumi. Saking jauhnya, wajar saja kalau yang sampai ke mata kita tinggal kerlap kerlipnya yang nyaris tak kelihatan. Kehadiran bintang sebagai simbol dari masa lalu, sebagai simbol kehadiran sosok-sosok inspiratif yang tak sezaman dengan kita, yang barangkali sebagian kini telah menghuni tanah kubur. 

Jumat, 03 April 2015

Asal dulu ....



Dari pendekatan bahasa, akhiran “wan” pada kata Pustakawan akan menunjukkan maksud :

  1.  Orang yang ahli dalam bidang Pustaka 
  2.  Orang yang mata pencahariannya atau pekerjaannya dalam bidang Pustaka  
  3.  Orang yang memiliki “sifat khusus”

Kita pilih kata Pustaka bukan Perpustakaan untuk maksud penjelasan a) dan b) karena bentukan katanya nyambung. Pustaka --- Pustakawan. Sekaligus pingin menunjukkan bahwa sebutan dan kerja Pustakawan tidak musti identik dengan Perpustakaan. Dan ternyata hal ini juga diakomodir oleh UU No 43 th 2007 pasal 29 ayat 1 bahwa tidak semua Tenaga Perpustakaan adalah Pustakawan.
Nah, saya pingin urun rembug “memiliki sifat khusus” dari diri Pustakawan, yang oleh Pak Blasius disebutnya telah menggenggam sifat Kepustakawanan. Beliau menandaskan bahwa Kepustakawanan itu pada dasarnya adalah: 1) panggilan hidup, 2) semangat hidup, 3) pelayanan, dan 4) kegiatan profesional. Barangkali Pustakawan yang mengacu diri sebagai Kegiatan Profesional itulah yang kita lihat sebagai tenaga perpustakaan, yang ahli dalam katalogisasi, klasifikasi dsb.
Namun spirit Kepustakawanan yang melakoni sebagai Panggilan Hidup, Semangat Hidup, dan Pelayanan/Pengabdian bisa saja mengada pada siapa pun saja yang mendermakan diri dalam literasi, meski tidak bekerja profesional sebagai tenaga perpustakaan. Bisa jadi hanya seorang Penyuka Buku, Penyuka Filsafat, Pegiat TBM, Pekerja Seni dsb, namun kesehariannya diabdikan untuk memasyarakatkan pustaka/buku….
Pripun kalau demikian ? Mohon petunjuk !
Dan sahabatku semua sesama penyuka dan pekerja literasi, setujukah ? Atau ada opini yang lain ?

Rabu, 01 April 2015

Sekilas Tentang Kuntowijoyo



 
buku-buku karya Kuntowijoyo

Saya ingin menukilkan sekilas tentang Dr. Kuntowijoyo, yang saya sadur dari Jurnal Ulumul Quran No. 4, Vo. V, tahun 1994 dan dari beberapa bukunya, terutama yang “Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi”. Bukan maksud untuk mengkultuskannya, namun sebatas mengorek sosok Kunto yang kini nyaris terlupakan. Kuntowijoyo lahir di Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943, yang kemudian dibesarkan di Ngawonggo, Ceper, Klaten. Masa kecil Kunto dihabiskan di bawah gencarnya serangan Belanda yang bermaksud menguasai kembali Indonesia. “Seumur itu saya ingat bahwa saya sering tidur di gua, dan sekali-sekali mendengar letusan bom; kakek dan ayah sering tidak pulang,” katanya mengenang sebagaimana termuat dalam Jurnal Ulumul Quran. Pada 1950 ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Negeri Ngawonggo.