| menyusuri setapak, merangkai cinta-Nya [dok: kebun durian montong Kalisidi] |
Saya terus termangu
dengan penggalan ayat “Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah...” Sebuah
penggalan ayat yang menuntut konsekuensi logis pada perilaku yang mengarah
pada-Nya. Perilaku yang tentunya tidak bertentangan dengan aturan main-Nya. Perilaku
yang disukai-Nya, perilaku yang dalam perkenan-Nya. Perilaku yang lazim kita
kenal sebagai akhlaqul karimah. Saya termangu
sebab tak gampang menghadirkan rasa bertuhan. Menghadirkan kebertuhanan,
menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang dikepung oleh Tuhan. Tidak ada lorong tersembunyi yang sanggup menyembunyikan
diri ini dari pandangan-Nya. Saya termangu, seakan ayat tersebut menggema keras di gendang telinga, menghardik
diriku yang tak kunjung membaik. Mengkritik proses ketuhanan yang tak selaras
dengan kemajuan zaman. Usia dunia yang kian mendekat pada penghancuran total
(kiamat), namun kesadaran bertuhan justru kian pudar.

