Minggu, 03 Mei 2015

Reading Group yang Keempat

reading group di Alun-alun lama Ungaran


Reading group Kuntowijoyo keempat kembali digelar, Sabtu 2 Mei 2015, di Ungaran. Mundur 1 minggu dari jadwal semestinya, Sabtu 25 April 2015. Terpaksa diundur, sebab saya masih ada acara dolan di Yogyakarta. Barangkali karena diundur, maka gelaran reading kemarin pun hanya dihadiri 5 orang inti (saya sendiri, Hasan Fuady, Zully, Noor Rahman, dan Meta alias Zahratunnisa), sebab yang lain juga bertabrakan dengan agenda lain. Meskipun yang hadir tak banyak sebagaimana yang kedua dan ketiga, kiranya tak mengurangi kualitas pembacaan, dan pemaknaan. Malah serasa lebih intens. Hal itu terlihat, durasi waktu yang kami lakukan sangat panjang, hampir 3,5 jam. Kami bisa berefleksi panjang lebar terkait urgensinya cara pandang, dan tahapan sistematis Kunto tentang  kesinambungan Iman-Ilmu-Amal.

Kamis, 30 April 2015

Merasakan Tuhan

menyusuri setapak, merangkai cinta-Nya [dok: kebun durian montong Kalisidi]


Saya terus termangu dengan penggalan ayat “Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah...” Sebuah penggalan ayat yang menuntut konsekuensi logis pada perilaku yang mengarah pada-Nya. Perilaku yang tentunya tidak bertentangan dengan aturan main-Nya. Perilaku yang disukai-Nya, perilaku yang dalam perkenan-Nya. Perilaku yang lazim kita kenal sebagai akhlaqul karimah. Saya termangu sebab tak gampang menghadirkan rasa bertuhan. Menghadirkan kebertuhanan, menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang dikepung oleh Tuhan. Tidak ada  lorong tersembunyi yang sanggup menyembunyikan diri ini dari pandangan-Nya. Saya termangu, seakan ayat tersebut  menggema keras di gendang telinga, menghardik diriku yang tak kunjung membaik. Mengkritik proses ketuhanan yang tak selaras dengan kemajuan zaman. Usia dunia yang kian mendekat pada penghancuran total (kiamat), namun kesadaran bertuhan justru kian pudar.  

Tinggal Hitungan Jari

Lima yang mengawal Pelatihan Ngeblog


Tinggal menghitung jari, “Pelatihan Blog” bakal dilaksanakan.  Sebagai pribadi jelas saya tak ingin membuang kesempatan emas ini. Kesempatan untuk me-make over blog pribadi, mempercantik tampilan wahana nongkrong sepanjang malam itu. Ya, kini tak sebatas hiburan, blog telah berhasil mengalihkan perhatian dari selfie-selfian dan narsis ala abege ke ranah yang lebih serius. Blog telah berhasil menggiring amunisi menulis saya kepada tema atau wacana khusus. Lantaran blog pula, sedikit banyak telah berhasil melemaskan jemari dalam menjahit huruf-huruf. Kiranya tak perlu berbusa-busa lagi untuk menuliskan betapa perlu dan pentingnya blog. Sudah berlimpah keterangan yang mendedahnya. Dalam kesempatan berbahagia ini, saya ingin berbagi kesan saja sekilas persiapan acara pelatihan.

Senin, 20 April 2015

Jaga Diri & Keluarga

Rakhe, Rahma, dan Ahimsa


 “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka....” demikian penggalan arti dari surat At-Tahrim [66] ayat 6. Sabda Tuhan yang lumayan mengganggu pikiran, terutama bagiku selaku kepala rumah tangga yang dipercaya oleh-Nya dengan titipan dua bocah, Ahimsa dan Rakhe. Bak teror dari langit, ayat tersebut terus terulang dan menyergap kesadaranku, bahwa ada yang mesti diperankan dalam berkeluarga. Keluarga yang merupakan paduan dari dua suara yang beda, laki-laki dan perempuan,  hakikatnya sebagai aktualisasi diri dalam ber-Tuhan. Kalam Ilahi tersebut seakan jadi penegas bahwa sebelum berpikir dan berperilaku yang besar, terlebih dahulu mesti sanggup membereskan yang kecil. Kecil, lingkup diri dan keluarga, merupakan landasan bagi yang besar. Dasar untuk mengarungi samudera biru, menunaikan tugas yang lebih berat dan besar selanjutnya.

Sabtu, 18 April 2015

Darurat Pornografi, Lantas bagaimana Kita ?

saat ngumpul di rumahe Dewi Rieka


Pagi itu, Minggu 19 April 2015, sebagaimana biasa di hari libur, bersama anak istri, saya habiskan udara pagi di Alun-alun Bung Karno Ungaran. Hari libur, hari keriuhan, masyarakat tumplek blek jadi satu memadati lapangan alun-alun. Pelbagai atraksi bebas para tetua muda hingga balita jadi satu. Senam ibu-ibu, silat perisai diri, anak yang berlarian dengan sepatu roda, mini sepeda, para penjaja kuliner, hingga kerumunan kecil para aktivis Hizbut Tahrir. Nah, yang terakhir itu, yang cukup menarik. Kerumunan beda, tak lazim bagi kebanyakan yang merindu kebebasan. Bebas melepas penat. Beberapa aktivis HTI [Hizbut Tahrir Indonesia], itu jelas serasa beda. Mereka tak menawarkan ekspresi pelepas penat, melainkan galang kesadaran. Ya, kesadaran tentang merebaknya situs-situs cabul.

Senin, 13 April 2015

Humanisme Teosentris: Catatan Reading Kuntowijoyo ke-3


Reading Kuntowijoyo selanjutnya disingkat RK



Reading Kuntowijoyo, demikian akhirnya saya menyebutnya. Awal, saya mengukirnya sebagai Reading Group Kuntowijoyo, namun guna memudahkan pelafalan sekaligus penyingkatan, saya lebih sreg dengan menghilangkan kata group. Maka jadilah reading kuntowijoyo yang disingkat menjadi RK. RK yang ketiga, Sabtu 11 April 2015 sukses dilangsungkan. Masuk subbab baru “cita-cita transformasi Islam”, RK yang ketiga ini dihadiri 13 peserta (terhitung diluar diriku dan istriku). Ya, secara kuantitas terus menaik, dari empat, sepuluh, dan kemudian tiga belas. Secara kualitas juga meningkat, terlihat dari durasi waktu diskusi yang panjang (pukul 21.00 - 00.05).

Selasa, 07 April 2015

Dewi Rieka, Inspirator KPU



Dewi Rieka, suhu sekaligus inspirator KPU



Saya pernah menggunakan istilah bintang guna melukiskan kehadiran tokoh-tokoh inspiratif dari masa lalu. Kenapa bintang ? Dan apa hubungannya dengan masa lalu ? Jarak bumi ke bintang-bintang tak bisa diukur hanya dengan menggunakan satuan ukur biasa (cm, m, dan km). Para astronom bersepakat menggunakan satuan ukur khusus, yaitu tahun cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang memiliki gerakan tercepat di alam semesta. Dalam satu detik, cahaya dapat bergerak sejauh 300.000 km. Satu tahun cahaya berarti cahaya yang bergerak selama satu tahun, yaitu  sejauh 9,46 triliun km. Jarak bintang paling jauh yang kini “kebetulan” sudah diketahui (artinya, kemungkinan yang belum diketahui masih banyak), adalah 11 miliar tahun.  Bayangkan betapa jauhnya, perjalanan cahaya selama jangka waktu 11 miliar tahun yang lalu untuk hari ini sampai ke lensa mata kita. Padahal umur manusia, rata-rata tak lebih dari 100 tahun.